15 jam yang lalu
Pangannews.id - Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, memiliki kuliner khas yang mungkin terdengar asing bagi banyak orang. Namanya Burung Kedondong, yang juga dikenal sebagian warga sebagai Burung Dikendodongin.
Dilansir dari laman resmi Pemkot Jakarta utara, nama tersebut bukan merujuk pada penggunaan buah kedondong. Justru bagian yang digunakan adalah kulit dalam pohon kedondong (Spondias dulcis), yang menjadi salah satu ciri khas masakan tradisional Betawi pesisir ini.
Bagian dalam kulit pohon kedondong yang masih lembut diambil, dikupas tipis, kemudian direndam atau direbus untuk mengurangi getah. Setelah itu, kulit dimasak bersama daging burung dan bumbu hingga menghasilkan cita rasa khas.
Burung yang digunakan umumnya berasal dari jenis burung rawa atau persawahan, seperti burung ayam-ayaman, puyuh, dan burung peruk. Sebelum dimasak, burung dibakar tipis untuk menghilangkan bulu-bulu halus sekaligus memberikan aroma asap pada daging.
Racikan bumbunya menggunakan bawang merah lokal dalam jumlah cukup banyak, cabai rawit merah, cabai keriting, daun salam, serta bumbu tumis khas gulai atau olahan Betawi.
Saat disantap, daging burung memberikan rasa gurih dan pedas, sementara kulit kedondong menghadirkan sensasi asam alami. Teksturnya pun menjadi perpaduan antara daging burung yang renyah dan kulit kedondong yang kenyal sekaligus renyah.
Sayangnya, makanan yang menjadi bagian dari warisan kuliner Betawi pesisir tersebut kini semakin jarang ditemukan. Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu kendalanya.
Burung rawa atau burung persawahan semakin sulit diperoleh secara rutin karena lahan terbuka yang menyempit. Pohon kedondong tua di kawasan perkotaan yang dapat dimanfaatkan kulitnya juga semakin berkurang.
Kondisi tersebut membuat Burung Kedondong lebih banyak muncul pada kesempatan tertentu. Hidangan ini biasanya disajikan dalam festival budaya Betawi, hajatan warga Sukapura, atau ketika musim tangkapan burung sawah tiba.
Burung Kedondong bukan sekadar hidangan dengan bahan yang tidak biasa. Resep tersebut menggambarkan kearifan lokal masyarakat Betawi Sukapura dalam memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Keberadaannya yang semakin langka membuat kuliner ini menjadi bagian dari warisan pangan lokal yang penting untuk dikenalkan dan dijaga agar tidak hilang dari tradisi kuliner Betawi.
Editor : Adi Permana
Jumat, 02 Oktober 2026 15:08 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...