Pangannews.id - Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) memburuk pada pertengahan Oktober 2026. Indeks pencemar udara di kawasan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, mencapai 213, sedangkan Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, mencatat angka 192. Keduanya masuk kategori sangat tidak sehat.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Timur meningkatkan pemantauan kualitas udara di wilayah terdampak. Seluruh stasiun pemantau Air Quality Monitoring System (AQMS) disiagakan untuk mengawasi kondisi udara, terutama di daerah yang rawan emisi.
Kepala DLH Kaltim Joko Istanto mengatakan, masyarakat di wilayah dengan tingkat pencemaran tinggi perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan.
"Kami memberikan imbauan kepada masyarakat Sendawar agar mengurangi aktivitas di luar ruangan," ujar Joko, Kamis (15/10/2026).
Berdasarkan laporan pemantauan indeks standar pencemar udara per pertengahan Oktober 2026, angka di Sendawar melonjak dari kategori sedang menjadi sangat tidak sehat.
Sementara itu, kawasan Wonotirto, Samboja, mencatat indeks tertinggi di Kaltim setelah stasiun pemantau di wilayah tersebut kembali beroperasi.
Penurunan kualitas udara juga terjadi di sejumlah daerah lain, yakni Samarinda, Balikpapan, dan Penajam Paser Utara. Di wilayah-wilayah tersebut, kondisi udara tercatat masuk kategori tidak sehat.
Untuk memetakan paparan emisi secara lebih cepat, DLH Kaltim menyelaraskan data dari stasiun pemantau fisik dengan sistem ISPUnet.
"Masyarakat dapat memantau perkembangan kondisi kualitas udara secara terkini melalui aplikasi ISPUnet sebagai panduan untuk melakukan langkah proteksi kesehatan mandiri," ucapnya.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.