Pangannews.id - Pengembangan industri ikan nila atau tilapia dan rumput laut menjadi peluang kerja sama Indonesia dengan investor Eropa. Kemitraan yang ditawarkan mencakup peningkatan produksi, perbaikan kualitas bahan baku, hingga pengolahan untuk menghasilkan produk bernilai tambah.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) TB Haeru Rahayu mengatakan, budi daya tilapia telah dikembangkan di Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri dan memasok bahan baku industri pengolahan.
Kerja sama dengan investor Eropa diharapkan dapat memperkuat sejumlah aspek produksi, mulai dari kualitas benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, hingga ketertelusuran produk.
“Peluang kemitraan yang dapat dibangun mencakup peningkatan mutu benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, serta ketertelusuran produk,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Minggu.
Peluang kemitraan tersebut disampaikan dalam Indonesia–Europe Business Forum (IEBF) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (15/10/2026) lalu.
Potensi kerja sama juga terbuka pada komoditas rumput laut. KKP mendorong peningkatan kualitas bahan baku melalui penyediaan bibit unggul, penerapan mekanisasi dan teknologi budi daya, serta perbaikan penanganan setelah panen.
Proses pengeringan dan penyimpanan menjadi bagian yang perlu diperbaiki untuk menjaga konsistensi mutu rumput laut sebelum masuk ke industri pengolahan.
Perwakilan Indonesian Tropical Seaweed Association (INTROSEA), Artati Widarti, mengatakan pemanfaatan rumput laut dapat dikembangkan melampaui produk hidrokoloid, seperti karaginan dan agar.
Komoditas ini juga berpotensi digunakan sebagai bahan baku industri pangan, kosmetik, farmasi, bioplastik, serta produk pendukung pertanian dan perikanan. Menurut Artati, kerja sama dengan Eropa bisa mencakup perdagangan produk turunan, penelitian, investasi, dan pengolahan.
Dukungan pengujian mutu, pemenuhan standar, dan akses pasar dinilai diperlukan agar produk rumput laut Indonesia semakin kompetitif.
Sementara itu, data yang dipaparkan perwakilan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), Andhi Trapsilo, menunjukkan nilai ekspor tilapia Indonesia pada Januari–November 2025 mencapai 87,57 juta dolar AS atau sekitar Rp1,58 triliun.
Amerika Serikat menyerap 51,7 persen dari total ekspor tersebut, sedangkan Kanada mencapai 24,7 persen. Adapun ekspor ke Uni Eropa tercatat sebesar 7,13 juta dolar AS atau 8,1 persen dari total nilai ekspor yang dipaparkan.
Andhi menyebut nilai ekspor tilapia Indonesia mencapai 6,98 dolar AS per kilogram, tertinggi di antara eksportir utama dunia, termasuk China, Kolombia, Vietnam, dan Taiwan.
Selain mengandalkan fillet, industri tilapia juga memiliki peluang meningkatkan nilai ekonomi melalui pemanfaatan hasil samping pengolahan.
Kulit dan sisik ikan dapat digunakan sebagai bahan baku kolagen dan gelatin, sementara bagian lainnya dapat diolah menjadi tepung dan minyak ikan.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.