Pangannews.id - Harga cabai rawit di Kota Ambon melonjak hingga Rp160.000 per kilogram. Kondisi ini dipicu terbatasnya pasokan dari sentra produksi yang terdampak kemarau panjang, sementara kebutuhan masyarakat masih tinggi.
Di Pasar Mardika, harga cabai rawit berkisar Rp140.000 hingga Rp160.000 per kilogram. Untuk meredam lonjakan harga, Pemerintah Provinsi Maluku menggelar pasar murah khusus cabai rawit di pasar tersebut pada Jumat (23/10/2026).
Dalam kegiatan itu, cabai dijual Rp40.000 per kilogram. Namun, warga hanya diperbolehkan membeli maksimal 250 gram per orang. Total cabai yang disediakan mencapai 40 kilogram.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Inawati Bin Tahir, mengatakan kenaikan harga yang terjadi dalam dua bulan terakhir berkaitan dengan berkurangnya produksi lokal dan tingginya ongkos distribusi ke Ambon.
Kemarau panjang yang berkaitan dengan fenomena El Niño turut memengaruhi hasil panen. Ketersediaan air tanah yang menurun membuat tanaman cabai mengalami kekeringan di sejumlah sentra produksi, termasuk Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tengah.
Terbatasnya hasil produksi tersebut membuat pasokan ke Ambon ikut menyusut. Sementara itu, cabai tetap menjadi komoditas yang dibutuhkan masyarakat dan kenaikan harganya berpotensi menambah tekanan inflasi daerah.
Inawati mengatakan pasar murah cabai rawit ini merupakan bagian dari Gerakan Pangan Murah Serentak untuk memperingati Hari Pangan Sedunia ke-46. Sebelumnya, kegiatan serupa telah digelar di Desa Galala dengan menyediakan beras, gula, minyak goreng, dan cabai.
Di luar intervensi melalui pasar murah, pemerintah daerah bersama Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku juga berupaya mendatangkan cabai dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pasokan yang disiapkan mencapai satu ton dan direncanakan dikirim menggunakan pesawat komersial melalui Surabaya sebelum akhir Oktober 2026.
Tambahan pasokan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan warga dan mengurangi tekanan harga di pasar. Kerja sama antardaerah dinilai penting untuk mengatasi keterbatasan produksi lokal, terutama saat cuaca panas berkepanjangan.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.