Senin, 16 Maret 2026 23:07 WIB
Pangannews.id - Pemerintah tengah menjajaki kemungkinan memperluas sumber impor energi, termasuk dari Amerika Serikat, sebagai langkah mengantisipasi gangguan pasokan global akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan dengan sejumlah negara pemasok potensial. Salah satu yang tengah dibicarakan adalah kerja sama pasokan energi dengan Amerika Serikat.
Menurut Yuliot, komunikasi antara Indonesia dan Amerika Serikat terkait potensi kerja sama tersebut sudah terjalin melalui kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART).
“Kita membuka peluang menambah impor dari Amerika. Di sana ada operator minyak besar seperti Exxon Mobil dan Chevron yang beroperasi secara global, sehingga berpotensi menjadi pemasok kebutuhan energi kita,” kata Yuliot usai meninjau Fuel Terminal Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan, pasokan yang dijajaki tidak hanya dalam bentuk bahan bakar minyak (BBM) jadi, tetapi juga minyak mentah yang nantinya dapat diolah di kilang dalam negeri.
Meski demikian, pemerintah menegaskan pembahasan tersebut masih berada pada tahap negosiasi dan belum menghasilkan kesepakatan final.
“Masih dalam proses penyelesaian negosiasi, termasuk menentukan negara pemasoknya,” ujar Yuliot.
Diversifikasi sumber impor energi menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Pasalnya, sebagian impor minyak Indonesia selama ini masih bergantung pada kawasan Timur Tengah.
Yuliot menyebut sekitar 20 persen kebutuhan BBM nasional dipasok dari Arab Saudi melalui jalur Selat Hormuz. Jalur tersebut saat ini menjadi sorotan menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Untuk mengurangi risiko gangguan pasokan, pemerintah mulai mempertimbangkan pengalihan sebagian impor minyak mentah ke negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan impor minyak mentah Indonesia dari kawasan Timur Tengah berkisar 20 hingga 25 persen dari total impor nasional. Sementara sebagian pasokan lainnya berasal dari Angola, Amerika Serikat, dan Brasil.
Editor : Adi Permana
Jumat, 20 Maret 2026 13:23 WIB
Selasa, 17 Maret 2026 16:06 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...