PanganNews.id JAKARTA - Hewan Sebelum memulai program manajemen populasi anjing (dog population Management), penting agar kita memahami dinamika populasi anjing dan menghitung populasi anjing secara objektif. Pendekatan ini untuk memastikan agar program manajemen ini akan sesuai dengan karakteristik populasi anjing local. Hal ini ini akan menjadi lebih baik daripada menggunakan intervensi umum untuk semua anjing pada segala situasi.
Persiapan memotret populasi anjing lokal
Kita menyiapkan pertanyaan utama yang akan dieksplorasi ketika melakukan memotret populasi anjing. Berapa jumlah populasi anjing saat ini dan kategori di dalamnya? Ini termasuk anjing yang berpemilik dan tidak berpemilik, dikurung dalam rumah dan liar di luar, dan di mana keduanya dapat tumpang tindih.
Lalu dari mana asal anjing liar ? Mengapa sumber-sumber ini ada? Strategi pengelolaan harus bertujuan untuk mengurangi populasi anjing liar yang tidak diinginkan kedepannya dengan menargetkan sumber utamanya.
Apa masalah utama kesejahteraan hewan yang dihadapi anjing-anjing ini? Apa yang dilakukan saat ini, baik secara informal maupun resmi, untuk mengendalikan populasi anjing dan mengapa?
Setelah memahami data dan fakta yang diperoleh maka kita dapat meningkatkan sumber daya saat ini dan membangun langkah-langkah pengendalian dengan baik. Hal ini juga membantu memastikan bahwa setiap intervensi baru tidak akan bertentangan dengan tindakan yang sedang dilakukan saat ini, tetapi bertujuan untuk menggantikan atau melengkapinya.
Siapakah penanggung jawab dalam pengendalian populasi anjing liar? Ini biasanya berada dalam kewenangan kementerian pertanian (atau kadang-kadang kementerian kesehatan), dan sering kali pemerintah kota bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan secara lokal. Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) dapat menyediakan unsur-unsur manajemen populasi yang efektif, tetapi untuk melakukan ini mereka harus didukung dengan menjalin kemitraan, dan kegiatannya memperoleh arahan otoritas yang bertanggung jawab. Juga penting bahwa setiap tindakan yang diambil sesuai dengan peruturan dan perundangan.
Tekanan dari publik bisa menjadi sangat kuat dan ini biasanya di luar upaya kendali kita. Penting untuk mendengarkan keprihatinan dan pendapat masyarakat lokal dan otoritas lokal; dengan cara ini akan membantu keberlanjutan program. Pembenaran untuk menginginkan populasi anjing dikendalikan akan bergantung pada pendapat apakah anjing yang berkeliaran tidak diinginkan, tetapi ketahuilah bahwa masalah ini akan ditentukan oleh orang-orang yang kita tanya mengenai anjing mereka masing-masing.
Di dalam setiap pertanyaan utama ini terdapat sub-pertanyaan dan alat bantu yang dapat digunakan untuk memperoleh jawaban yang obkektif. Kita mengeksplorasi pertanyaan, tetapi perhatikan bahwa sub-pertanyaan dan alat bantu yang diberikan bukanlah daftar pertanyaan yang lengkap, melainkan bertujuan agar lebih fokus untuk menyoroti bidang-bidang utama yang penting.
Semua pemangku kepentingan yang relevan harus diajak berkonsultasi selama proses ini; keterwakilannya harus berasal dari semua orang yang dipengaruhi oleh populasi anjing. Sedapat mungkin, pendekatan partisipatif juga harus digunakan; tidak hanya orang-orang harus diajak konsultasi, tetapi pandangan mereka harus dipertimbangkan dan masukannya digunakan untuk merancang dan mendorong intervensi di masa depan. Hal ini akan mendorong 'dukungan' dari para pemangku kepentingan sehingga akan meningkatkan keberhasilan program.
Membuat komite manajemen populasi anjing
Idealnya, menjadi tugas otoritas pemerintah yang bertanggung jawab untuk mempertemukan para pemangku kepentingan untuk melakukan konsultasi. Namun, jika mereka tidak mau atau tidak dapat melakukan ini, LSM dapat membuat kelompok kerja sendiri dan memberikan temuannya kepada otoritas terkait.
Pemangku kepentingan yang perlu digandeng membentuk Komite
Pemerintah Pusat dan Daerah
Biasanya pemerintah daerah atau setempat, namun pemerintah pusat juga akan relevan dalam penentuanan kebijakan dan pembuat peraturan perundangan. Pemerintah Pusat akan menjadi pemangku kepentingan utama jika program bersifat nasional. Beberapa kementerian terkait, termasuk kementerian pertanian (kesehatan hewan), kesehatan masyarakat, lingkungan hidup (terutama yang berkaitan dengan pengumpulan sampah), pariwisata, pendidikan dan sanitasi. Pemerintah harus ada wakilnya di komite.
Komunitas Veteriner (Kedokteran Hewan). Otoritas veteriner nasional, asosiasi profesi veteriner, kelompok praktisi swasta dan fakultas kedokteran hewan dari perguruan tinggi.
Komunitas LSM. Organisasi di daerah, nasional dan internasional yang bekerja di bidang kesehatan hewan, kesejahteraan hewan dan kesehatan manusia.
Komunitas penampungan, pembinaan dan pengandangan hewan. Organisasi yang dikelola pemerintah pusat, pemerintah daerah dan swasta / LSM. Komunitas akademis dengan pengalaman yang relevan, seperti perilaku hewan, ilmu kedokteran hewan, sosiologi, ekologi dan epidemiologi.
Legislator
Kementerian yang bertanggung jawab untuk membuat dan menegakkan peraturan dan perundangan. Kementerian Pendidik di sekolah dan perguruan tinggi. Kementerian Dalam Negeri untuk edukasi, publikasi dan dukungan pemerintah daerah.
Badan internasional dengan tanggung jawab yang relevan: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE) dan asosiasi kedokteran hewan di seluruh dunia.
Faktor yang mempengaruhi manajemen populasi anjing
Kita perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi kesejahteraan dan jumlah populasi anjing serta memutuskan yang memorioritas.
Penyelesaian penilaian awal akan memberikan data dan wawasan tentang situasi lokal. Tahap selanjutnya adalah menyoroti faktor mana yang paling penting sehingga harus diprioritaskan dalam program manajemennya. Mengidentifikasi faktor-faktor prioritas ini akan memastikan bahwa sumber daya tidak digunakan untuk masalah yang hanya berdampak kecil tetapi harus dapat memecahkan masalah yang lebih luas. Dalam hampir semua situasi, lebih dari satu faktor akan menjadi penting, sehingga strategi yang efektif membutuhkan kombinasi intervensi.
Berikut ini adalah daftar faktor-faktor yang sering dijadikan prioritas dalam pengelolaan populasi anjing. Butir penting yaitu: (a) yang mempengaruhi jumlah populasi; (b) yang mempengaruhi dan memotivasi orang untuk mencoba mengendalikan populasi. Namun, yang mungkin relevan dalam kondisi tertentu dan penting agar tetap fokus pada: (a) apa yang cocok dengan komunitas target; dan (b) penyebab munculnya populasi anjing liar, bukan hanya efeknya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah populasi anjing
Faktor penting adalah sikap dan perilaku manusia. Kita berusaha untuk mendorong masyarakat untuk menjadi pemilik anjing yang bertanggung jawab.
Perilaku manusia cenderung menjadi kekuatan paling kuat di balik dinamika populasi anjing. Kita harus mendorong peningkatan tanggung jawab masyarakat dalam interaksi manusia-hewan yang akan bermanfaat untuk: (a) peningkatan kesejahteraan hewan; dan (b) pengurangan sumber anjing yang berkeliaran.
Populasi anjing yang berpemilik dapat dipertimbangkan dalam pencegahan: (a) mencegah sumber utama anjing liar; dan (b) mencegah masalah kesejahteraan hewan.
Perilaku manusia terhadap anjing akan menjadi kekuatan pendorong di balik masalah ini.
Masalah yang perlu dipertimbangkan saat mengeksplorasi sikap dan perilaku manusia
Keyakinan dan sikap masyarakat daerah setempat dapat memengaruhi perilaku manusia terhadap anjing di lingkungannya. Mungkin saja untuk mengatasi keyakinan ini diperlukan upaya edukasi sehingga bisa mengubah sikap masyarakat. Misalnya keyakinan bahwa sterilisasi akan menyebabkan perubahan perilaku negatif pada anjing dapat diatasi melalui edukasi dan memberikan contoh anjing yang disterilkan di masyarakat, sehingga mendorong pemiliknya untuk mengupayakan sterilisasi anjingnya.
Jaga konsistensi pesan tentang perilaku manusia. Intervensi harus mendorong pemilik yang bertanggung jawab dalam interaksi manusia-hewan dan mengambil manfaat darinya. Misalnya, para petugas kesehatan hewan memberikan teladan yang menunjukkan sikap respek dan hati-hati dalam menangani anjing, ini akan membantu mendorong sikap empati dan rasa respek terhadap populasi anjing setempat.
Agama dan budaya memainkan peran penting dalam sikap dan kepercayaan masyarakat. Libatkan tokoh agama dan masyarakat di awal proses, untuk mengeksplorasi bagaimana interpretasi agama atau budaya dapat menghalangi atau mendukung potensi intervensi.
Intervensi untuk mengubah perilaku manusia harus disesuaikan dengan cara bertindak hati-hati terhadap audiens yang ditargetkan karena metodologi yang berbeda akan diperlukan untuk usia dan budaya yang berbeda. Penting untuk memahami cara paling efektif untuk berkomunikasi dengan setiap target audiens.
Karena perilaku manusia merupakan faktor kunci keberhasilan, penting bagi pemilik untuk tidak hanya mengetahui intervensi tetapi juga memahami sepenuhnya dan terlibat dalam semua aspek yang relevan.
Contoh studi kasus
Contoh sikap manusia yang dapat memengaruhi pengelolaan populasi anjing di Cina, IFAW dan One Voice mendanai jajak pendapat MORI pada tahun 2004 yang mengungkapkan bahwa sekitar 76 persen warga menganggap mensterilkan kucing dan anjing peliharaan sebagai tindakan yang kejam. Ini menyoroti perlunya edukasi dan diskusi ekstensif sebelum memulai intervensi yang melibatkan pengendalian reproduksi melalui sterilisasi.
Pada tahun 2006, situasi serupa terjadi di Zanzibar ketika WSPA dan pemerintah daerah melakukan intervensi sterilisasi. Ini dimulai dengan kepatuhan yang rendah, dengan sedikit pemilik yang bersedia membawa hewan mereka untuk disterilkan. Namun, selama beberapa bulan, program edukasi, diskusi dengan tokoh kunci masyarakat dan contoh nyata dari hewan sehat yang disterilkan telah membuat perubahan pada sikap masyarakat, mengarahkan mereka untuk secara aktif membawa hewan mereka untuk disterilkan.
Edukasi Masyarakat
Dalam jangka panjang, edukasi adalah salah satu unsur terpenting dari pendekatan manajemen yang komprehensif, karena perilaku manusia merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam dinamika populasi anjing. Secara umum, edukasi perlu mendorong tanggung jawab yang lebih besar di antara pemilik anjing untuk pengelolaan populasi dan perawatan serta kesejahteraan hewan individu. Namun, mungkin ada pesan edukasi khusus utama yang penting untuk disoroti pada berbagai tahapan program, misalnya: pencegahan gigitan; seleksi dan perawatan anjing; ekspektasi realistis tentang kepemilikan anjing; mengiklankan pentingnya, dan akses ke perawatan, pencegahan; dan pengetahuan tentang perilaku anjing normal dan abnormal.
Masalah yang perlu dipertimbangkan pada edukasi masyarakat
Inisiatif edukasi harus dikembangkan dalam koordinasi dengan otoritas edukasi lokal dan dilakukan oleh para profesional terlatih. Semua pemangku kepentingan dapat memberi masukan tentang konten dan memberikan dorongan untuk program tetapi penyampaian harus dilakukan dengan dukungan ahli.
Penting untuk melibatkan semua sumber edukasi potensial tentang anjing untuk memastikan bahwa pesan tetap konsisten. Idealnya ini harus mencakup kelompok kesejahteraan hewan, profesi kedokteran hewan, sekolah, badan penegakan hukum dan media (termasuk kelompok media yang fokus pada hewan). Mungkin perlu bagi satu lembaga tertentu untuk mengambil peran sebagai koordinator.
Dokter hewan dan mahasiswa kedokteran hewan mungkin juga memerlukan upaya edukasi yang difokuskan di bidang manajemen populasi, termasuk: alasan di balik atau pembenaran untuk manajemen populasi peran mereka dalam masalah kesehatan masyarakat terkait metode pesan kunci pengendalian reproduksi pada kepemilikan yang bertanggung jawab untuk metode eutanasia klien bagaimana mereka bisa menjadi terlibat dan mendapatkan manfaat dari program manajemen populasi proaktif yang mendorong perawatan anjing yang bertanggung jawab, termasuk perawatan dokter hewan secara teratur.
Pesan edukasi dapat dikomunikasikan dengan banyak cara, termasuk: seminar formal dan pelajaran terstruktur di sekolah, selebaran dan brosur yang diberikan kepada khalayak sasaran peningkatan kesadaran di masyarakat umum melalui pers, papan reklame, radio dan TV secara langsung melibatkan orang-orang dalam diskusi sebagai bagian dari komunitas- program berbasis.
Perlu waktu lama agar dampak edukasi pada pengelolaan populasi anjing menjadi nyata, sehingga metode pemantauan dan evaluasi dampaknya perlu memasukkan indikator jangka pendek dan jangka panjang. Dampaknya dapat dipertimbangkan pada tiga tingkatan: perolehan pengetahuan dan keterampilan; perubahan sikap; perubahan perilaku yang dihasilkan.
Vaksinasi Rabies dan Perawatan Kesehatan
Perawatan veteriner preventif dapat diberikan untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan hewan serta mengurangi masalah penyakit zoonosis. Vaksinasi rabies biasanya merupakan masalah prioritas, tetapi beberapa penyakit lain juga dapat divaksinasi, di samping pengendalian parasit internal dan eksternal melalui pengobatan yang tepat. Perawatan ini harus diberikan sehubungan dengan pendidikan tentang kepemilikan anjing yang bertanggung jawab, sterilisasi atau kontrasepsi dan pendaftaran dan / atau identifikasi. Kebutuhan vaksinasi dan pengendalian parasit sering kali dipahami dengan baik oleh pemilik hewan, sehingga menawarkan akses ke layanan ini mungkin merupakan cara termudah untuk menarik pemilik ke dalam percakapan atau kesepakatan tentang komponen lainnya.
Masalah perlu dipertimbangkan pada perawatan kesehatan.
Vaksinasi rutin (Rabies dan penyakit lainnya) dan pengendalian parasit kemungkinan besar akan meningkatkan status kesehatan individu anjing. Anjing betina yang sebelumnya tidak berhasil secara reproduktif mungkin menjadi cukup sehat untuk berkembang biak. Ini berarti bahwa masalah reproduksi yang meningkat perlu dipertimbangkan dan dikurangi sesuai kebutuhan.
Seperti halnya sterilisasi dan kontrasepsi, perawatan pencegahan dapat digunakan untuk mendorong pemilik melihat nilai dari perawatan hewan secara umum dan alat manajemen populasi lainnya (seperti registrasi dan identifikasi), yang diperlukan untuk kesejahteraan hewan dalam jangka panjang, maka dari itu perlu ditelusuri bagaimana melibatkan infrastruktur veteriner daerah dalam memberikan perawatan pencegahan.
Pemberian pengobatan pencegahan secara gratis harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan keadaan ekonomi setempat, karena terdapat risiko penurunan nilai pelayanan kesehatan hewan secara umum jika pengobatan diberikan tanpa biaya atau pemahaman tentang besarnya subsidi biaya.
Perawatan pencegahan perlu diberikan secara teratur agar efektif, oleh karena itu kemudahan akses ke perawatan harus dikedepankan.
Perawatan dapat diberikan melalui 'shelter' (tempat perawatan sementara), yang bisa sangat efektif untuk menarik perhatian pemilik akan pentingnya perawatan pencegahan dan alat manajemen populasi lainnya. Namun, risiko interaksi agresif dan penularan penyakit antara sejumlah besar anjing yang akan datang perlu dikurangi dengan mengatur akses dan keluar secara hati-hati, menggunakan jarum yang disterilkan untuk setiap anjing, dan mengkarantina hewan yang sakit. 'Shelter' semacam itu akan membutuhkan sosialisasi yang memadai sebelumnya. Ada juga batasan jarak yang akan ditempuh masyarakat umum untuk layanan semacam itu, jadi pertimbangan harus diberikan pada jumlah 'Shelter' yang akan diperlukan untuk cakupan yang diinginkan, dan logistik terkait yang diperlukan.
Masyarakat diedukasi agar memvaksinasi anjingnya secara teratur termasuk Rabies, merawat anjingnya dengan baik (tidak diliarkan) dengan meberikan makanan yang cukup dan bergizi serta membawa anjingnya ke klinik dokter hewan atau rumah sakit hewan untuk memperoleh perawatan dan pengobatan ketika anjingnya sakit.


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.