Jumat, 22 April 2022 08:26 WIB
PanganNews.id Oleh : Entang Sastraatmadja
Ada keunggulan pasti ada kelemahan. Ini suatu hal yang biasa dalam mengarungi kehidupan. Begitu pun dengan perkembangan padi hibrida. Ada yang serius mendukung, namun ada juga yang acuh tak acuh. Hanya, kalau kita tengok suasana ketersediaan pangan nasional, khusus nya beras, maka sangat memilukan sekaligus memalukan jika ada warga bangsa yang tidak peduli dengan kehadiran padi hibrida.
Sekali pun dikalangan peneliti dan pemulia tanaman masih terjadi perdebatan yang cukup hangat, namun mencermati perkembangan yang ada, keberadaan padi hibrida dalam peta bumi pembangunan pertanian di negara kita, tetap harus segera dikembangkan. Salah satu keunggulan yang tidak mungkin kita tolak adalah produktivitas nya yang cukup tinggi. Dari pengalaman di lapangan, produksi padi hibrida per hektar mampu diatas 8 ton.
Mengacu kepada keunggulan produktivitas padi hibrida dikaitkan dengan semangat Pemerintah untuk memperkokoh ketersediaan beras secara nasional, rasa nya tidak bisa tidak, kita perlu mengoptimalkan keberadaan padi hibrida. Kata kunci optimalisasi tetap berada di tangan Pemerintah. Tanpa dukungan optimal Pemerintah tidak mungkin padi hibrida akan berkembang dengan cepat. Catatan kritis nya adalah apakah Pemerintah serius untuk mengembangkan nya ?
Pertanyaan ini penting untuk dijawab. Pemerintah perlu memiliki sikap tegas untuk menjawab nya. Semua ini wajib dirancang dalam kebijakan yang utuh, holistik dan komprehensif. Akan lebih baik lagi, jika Pemerintah pun mampu melahirkan Grand Desain Pengembangan Padi Hibrida 25 Tahun ke Depan. Grand Desain inilah yang akan memberi kepastian tentang keseriusan dan kesungguhan Pemerintah untuk mengembangkan padi hibrida. Terkesan akan lebih lengkap bila Grand Desain ini dilengkapi pula dengan Road Map pencapaian nya.
Seperti yang diketahui, padi hibrida merupakan salah satu teknologi di bidang pemuliaan tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif peningkatan produktivitas padi nasional melalui pemanfaatan fenomena heterosis yang terdapat pada turunan pertama (F1) suatu persilangan. Benih padi hibrida berbeda dengan inbrida dalam hal genetik, harga benih, dan status biji hasil panen (F2) yang tidak dapat dibudidayakan kembali karena akan mengalami degradasi (penurunan) hasil. Potensi hasil yang lebih tinggi dibanding padi inbrida, menjadi alasan utama pemanfaatan hibrida.
Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) memberikan dukungan penuh dalam penelitian dan pengembangan padi hibrida di Indonesia yang sudah dimulai sejak tahun 1984. Kementerian Pertanian merupakan satu-satunya institusi pemerintah yang fokus pada pengembangan padi hibrida mulai dari skala riset (melalui BB Padi – Badan Litbang Pertanian), bantuan benih padi hibrida sebagai upaya peningkatan tingkat adopsi (Direktorat Perbenihan - Ditjen TP), sampai dengan alih teknologi hingga komersialisasi dan menyebar luas di masyarakat (difasilitasi oleh BPATP – Badan Litbang Pertanian).
Dr. Fadjry Djufry (2021) mempertegas bahwa modernisasi pertanian merupakan salah satu arah kebijakan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 – 2024. Dalam RPJMN Kementerian Pertanian menetapkan langkah operasional untuk mendukung program tersebut melalui pengembangan kawasan berbasis korporasi petani.
Hal ini sudah dimulai oleh Badan Litbang Pertanian pada tahun 2017 dengan melakukan kegiatan demonstration farming padi hibrida skala luas berbasis korporasi di Tabanan, Bali dan Gelar Teknologi di Yogyakarta bekerjasama dengan International Rice Research Institute. Tinggal sekarang, bagaimana hasil-hasil pengkajian itu dapat disebarkan kepada masyarakat.
Di sisi lain, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas) kini tengah melakukan telaahan khusus terhadap pengembangan benih padi hibrida. Kajian yang dilalui lewat serangkaian Work Shop di berbagai daerah ini mengangkat tema soal Modernisas Perbenihan. Sebagaimana diketahui, modernisasi bisa dikatakan sebagai perubahan sosial yang direncanakan.
Modernisasi bisa juga diartikan sebagai suatu proses perubahan dari masyarakat tradisional ke wujud masyarakat yang modern. Faktor utama penyebab modernisasi adalah berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat. Itu sebab nya, modernisasi perbenihan padi, penting diprioritaskan guna menuju pembangunan pertanian yang maju, modern dan berkelanjuran.
Kemajuan dalam berbagai bidang merupakan salah satu contoh modernisasi. Suatu keadaan dikatakan dalam proses modernisasi apabila masyarakatnya memiliki sikap yang terbuka dengan hal-hal baru. Adanya perubahan dari berbagai bidang seperti ekonomi hingga transportasi semua dilakukan dengan matang.
Sasaran besar "revolusi benih padi " adalah inovasi benih padi varietas super dengan lima nilai unggul. Pertama, produktivitasnya tinggi, minimal 10 ton gabah kering giling (GKG) per hektar, sehingga bisa menghemat penggunaan lahan.
Kedua, umurnya pendek yang memungkinkan frekuensi tanam tinggi , 2.5-3.0 kali/tahun, sehingga menghemat lahan juga.
Ketiga, super-responsif pada pupuk kimia sehingga hemat penggunaan pupuk, sekaligus ramah ekologis.
Keempat, tahan cekaman abiotik seperti kekeringan, banjir, dan salinisasi akibat perubahan iklim global. Kualitas tahan kekeringan dibutuhan untuk antisipasi keterbatasan air irigasi.
Kelima, tahan cekaman biotik yaitu hama dan penyakit sehingga hemat penggunaan pestisida. Kualitas ini perlu sebagai antisipasi terhadap anomali serangan hama dan penyakit akibat ketak-pastian iklim global.
Modernisasi perbenihan yang digarap melalui revolusi benih padi, sebetul nya hal yang sangat mendesak untuk dilakukan. Dihadapkan kepada alih fungsi lahan yang membabi-buta, tidak ada cara lain yang dapat ditempuh terkecuali kita harus terus meningkatkan produktivitas per hektar. Kita harus genjot produksi dengan mengembangkan inovasi dan teknologi di bidang perbenihan padi, yang mampu menjawab tantangan diatas.
Kemauan politik Pemerintah untuk membangun kawasan food estate di berbagai daerah, jelas mengisyaratkan langkah nyata nya guna memperkuat ketersediaan pangan nasional. Padi hibrida sendiri merupakan peluang yang dapat dikembangkan untuk mewujudkan harapan tersebut. Akar persoalan nya adalah apakah Pemerintah sudah menyiapkan segala rupa nya dengan baik ? (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).
Selasa, 09 Juni 2026 14:13 WIB
Selasa, 09 Juni 2026 14:08 WIB
Senin, 08 Juni 2026 14:21 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...