PanganNews.id, Jakarta - Ekspor sawit RI secara keseluruhan turun dari 2,91 juta ton menjadi 2,64 juta ton. Penurunan terbesar terjadi pada olahan minyak sawit, yaitu dari 2,25 juta ton menjadi 1,88 juta ton.
Melansir dari halaman CNNIndonesia.com, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengatakan China menjadi negara dengan penurunan terdalam sebagai tujuan ekspor minyak sawit Indonesia.
Selain itu, Mesir dan Timur Tengah juga mengalami penurunan sebesar 129,4 ribu ton, Bangladesh minus 50,5 ribu ton, India berkurang 68,3 ribu ton, Belanda anjlok 54,9 ribu ton, serta Malaysia.
Namun, produksi minyak sawit Indonesia mengalami kenaikan sebesar 12 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Produksi crude palm oil (CPO) naik dari 3,88 juta ton menjadi 4,34 juta ton, sementara palm kernel oil (PKO) tumbuh dari 369 ribu ton menjadi 413 ribu ton," kata Mukti.
Akibat penurunan ekspor tersebut Mukti menjelaskan, nilai ekspor juga mengalami penurunan dari US$2.687 juta atau sekitar Rp39 triliun pada bulan sebelumnya menjadi US$2.259 juta atau setara dengan Rp33 triliun pada bulan ini.
Konsumsi dalam negeri minyak sawit mengalami kenaikan, dengan konsumsi total naik menjadi 1,81 juta ton dari 1,80 juta ton pada bulan Februari.
Sedangkan konsumsi untuk industri pangan naik menjadi 911 ribu ton dari 802 ribu ton, industri oleokimia naik menjadi 187 ribu ton dari 185 ribu ton, sementara konsumsi industri biodiesel turun menjadi 714 ribu ton dari 816 ribu ton pada bulan sebelumnya," jelasnya.
GAPKI mencatat bahwa stok akhir sawit Indonesia pada bulan Maret meningkat dari 2,76 juta ton menjadi 3,13 juta ton. Namun, mengingat harga minyak nabati utama lainnya turun, GAPKI memperkirakan harga minyak sawit juga akan mengikuti penurunan tersebut. (Nicko)


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.