Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Mengulang Kisah Sukses G20 Di KTT ASEAN

Bagikan
Foto : Ade Nurtejo, Biro Humas Dan Informasi Publik.
Foto : Ade Nurtejo, Biro Humas Dan Informasi Publik.

PanganNews.id Jakarta - Kesuksesan Indonesia dalam melaksanakan tugasnya sebagai Presidensi G20 mendapat sambutan positif. Selain mampu mengupayakan berbagai solusi terbaik selama satu tahun kepemimpinan di tengah berbagai krisis dan tantangan baru yang muncul, rangkaian kegiatan Presidensi G20 Indonesia juga mampu memberi dampak positif untuk perekonomian nasional. Salah satunya ditunjukkan dengan laju ekonomi nasional pada dua kuartal terakhir yang tumbuh impresif dan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada sejumlah kota tempat penyelenggaraan event G20 tersebut. 

Sejak awal rangkaian kegiatan Presidensi G20 Indonesia pada Desember 2021, Pemerintah Pusat selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, pelaku usaha, masyarakat, dan seluruh stakeholder, baik dari sisi penyelenggaraan maupun substansi. Hal ini turut menjadi penyokong utama keberhasilan penyelenggaraan seluruh rangkaian acara Presidensi G20 Indonesia hingga berjalan sukses dan lancar hingga sesi penutupan.

Kesuksesan ini tak lepas upaya serius dalam memberikan pelayanan kepada para delegasi G20, tidak hanya terkait substansi, namun jaminan rasa aman dan nyaman selama berada di Indonesia. Tidak heran jika ragam budaya, pesona wisata hingga kuliner ditampilkan. Pada saat penyusunan draf Leader’s Declaration misalnya, para undangan dijamu dengan konsep “Nusantara Culinary Journey” yang membawa para delegasi berkeliling Indonesia melalui beragam hidangan yang disajikan.

Selain rasa dan penampilan, serta penyajian hidangan, faktor keamanan pangan juga menjadi perhatian. Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) bahkan menungaskan ratusan food inspector untuk memastikan makanan yang tersedia aman untuk dikonsumsi. Faktor keamanan pangan ini memang menjadi hal serius yang ditangani pemerintah Indonesia selaku penyelenggara, termasuk dalam hal menangani kasus-kasus yang terjadi.

ASF dan Keamanan Pangan Indonesia

Kasus Flu Babi/African Swine Fever (ASF) misalnya. Sempat menjadi isu hangat terkait kemanan pangan di beberapa negara, termasuk Indonesia yang akan menggelar perhelatan Internasional. Namun pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian meyakinkan bahwa kasus ASF telah ditangani dengan baik, sehingga tidak berdampak pada keamanan pangan secara nasional.

Seperti diketahui ASF adalah penyakit virus yang sangat menular yang menyerang babi. Penyakit ini disebabkan oleh virus demam babi Afrika (ASFV), yang ditularkan melalui kontak langsung dengan babi yang terinfeksi, pakan atau peralatan yang terkontaminasi, atau melalui kutu. ASF tidak mempengaruhi manusia, tetapi dapat berdampak buruk pada populasi babi dan industri daging babi.

Di Indonesia, ASF pertama kali terdeteksi pada September 2019 dan menyebar ke beberapa provinsi, antara lain Sumatera Utara, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Barat. Jumlah kasus ASF tertinggi telah dilaporkan di Sumatera Utara, di mana lebih dari 28.000 babi telah dimusnahkan untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut. Wabah tersebut telah mengakibatkan pemusnahan lebih dari 50.000 babi, dan pemerintah telah menerapkan langkah-langkah ketat untuk mengendalikan penyebaran penyakit, termasuk karantina dan pembatasan pergerakan. 

Implikasi ASF terhadap ternak di Indonesia sangat signifikan. Indonesia adalah konsumen daging babi terbesar keempat di dunia, dan industri daging babi merupakan sumber penghidupan penting bagi banyak petani. Wabah tersebut telah menyebabkan kelangkaan daging babi, yang telah menaikkan harga dan menciptakan efek riak di seluruh rantai makanan. Restoran dan penjual makanan harus menyesuaikan menu dan harga mereka, dan konsumen harus mencari sumber protein alternatif.

Pemerintah Indonesia juga harus mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran ASF ke negara lain, karena Indonesia adalah pengekspor utama produk ternak dan babi. Ini termasuk kontrol perbatasan yang lebih ketat dan peningkatan pengawasan terhadap peternakan babi dan rumah jagal. Kementerian Pertanian RI dalam hal ini telah melakukan beberapa tindakan terhadap peternak yang ternaknya terkena Flu Babi Afrika (ASF). Kementerian telah menerapkan langkah-langkah ketat untuk mengendalikan penyebaran penyakit, termasuk karantina dan pembatasan pergerakan.

Ketika ASF terdeteksi di peternakan babi, Kementerian Pertanian akan segera mengambil tindakan untuk memusnahkan semua babi yang terinfeksi. Peternakan yang terkena dampak akan dikarantina, dan semua babi dalam radius tertentu juga akan dimusnahkan untuk mencegah penyebaran penyakit. Peternakan kemudian akan didesinfeksi untuk mencegah penyebaran virus ke peternakan lain.

Peternak yang ternaknya terkena ASF akan mendapat kompensasi dari pemerintah. Kompensasi dimaksudkan untuk menutupi biaya pemusnahan babi yang terinfeksi, desinfeksi peternakan, dan biaya lain yang terkait dengan wabah tersebut. Kompensasi ditentukan berdasarkan nilai pasar babi yang dimusnahkan, dan jumlahnya dapat bervariasi tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan wabah.

Kementerian Pertanian juga memberikan pedoman dan informasi kepada petani tentang cara mencegah penyebaran ASF. Pemerintah mendorong para peternak untuk mempraktikkan langkah-langkah biosekuriti yang baik, seperti membatasi akses ke peternakan mereka, mensterilkan peralatan, dan memantau babi mereka dari tanda-tanda penyakit.

Selain langkah-langkah tersebut, pemerintah telah bekerja sama dengan organisasi internasional dan negara tetangga untuk berbagi informasi dan praktik terbaik penanganan ASF. Pemerintah juga telah mengalokasikan dana untuk mendukung penelitian dan pengembangan vaksin ASF.

Melanjutkan Sukses di Keketuaan ASEAN

Reputasi Indonesia yang sukses menjalankan peran sebagai Presidensi G20, mendorong Indonesia untuk mendapat peran penting lain di tingkat internasional. Dalam Penutupan KTT ASEAN ke-40 dan 41 di Phnom Penh, Kamboja, 13 November lalu, Indonesia didapuk untuk menjalankan tugas Chairmanship (Keketuaan) ASEAN.

Penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah KTT ASEAN 2023 mencerminkan semakin pentingnya dan pengaruh negara tersebut di kawasan. Ini tidak lepas dari citra positif Indonesia di mata negara-negara lain karena reputasinya dalam menjalankan agenda-agenda besar di tingkat internasional. Indonesia telah tumbuh sebagai kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN dan telah berperan aktif dalam mempromosikan integrasi dan kerja sama regional.

Tentu kita semua berharap, Indonesia juga bisa sukses menjalankan perannya dalam keketuaan ASEAN, juga dalam pelaksanaan KTT sebagai kegiatan pamungkasnya. Penanganan kasus-kasus keamanan pangan, seperti ASF menjadi bagian penting dalam menyukseskan agenda besar tersebut. Dan, akhirnya ada harapan besar citra positif yang telah kita bangun menjadi modal yang kuat dalam diplomasi di kancah internasional dalam upaya membangun ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.***

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal