Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Industri Teh di Jepang Dihantui Ketidakpastian Tarif Impor AS

Bagikan
Industri teh di Jepang dihantui ketidakpastian tarif impor AS. (Foto: ilustrasi/Pixabay)
Industri teh di Jepang dihantui ketidakpastian tarif impor AS. (Foto: ilustrasi/Pixabay)

Pangannews.id - Kebun-kebun teh di Jepang, termasuk Kokaen yang berlokasi di Kota Toyota, Prefektur Aichi, tengah menghadapi ketidakpastian besar akibat ancaman tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump.

Tarif ini dikhawatirkan akan mengganggu ekspor matcha Jepang yang tengah mengalami lonjakan permintaan global, khususnya dari pasar Amerika Serikat.

Kokaen, kebun teh yang telah berdiri sejak 1945 dan kini dikelola oleh Yoshitaka Noba sebagai generasi ketiga, merupakan salah satu produsen matcha yang mulai merasakan dampak langsung dari kebijakan perdagangan AS.

"Permintaan global untuk matcha, terutama dari Amerika Serikat, sangat tinggi. Jika tarif dikenakan, kemungkinan besar akan memengaruhi penjualan," ujar Noba, dikutip dari Kyodo News (17/6/2025).

Menurut data Kementerian Keuangan Jepang, nilai ekspor teh hijau Jepang melonjak menjadi 36,4 miliar yen pada 2024, lebih dari tiga kali lipat dibanding satu dekade sebelumnya.

AS menyerap porsi terbesar ekspor tersebut, mencapai 44,2 persen, jauh melampaui Jerman di posisi kedua dengan 9,2 persen.

Namun, meski permintaan meningkat, produksi teh Jepang justru menurun. Pada 2023, hanya sekitar 75.200 ton teh diproduksi, turun lebih dari 20 persen dibandingkan 15 tahun lalu.

Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk menyusutnya populasi Jepang dan kurangnya regenerasi petani teh.

Pemerintah Jepang telah memberikan insentif kepada petani untuk beralih ke produksi tencha, bahan dasar matcha. Produksi tencha meningkat dua kali lipat sejak 2014 menjadi 4.176 ton pada 2023, namun masih hanya menyumbang sekitar 5,6 persen dari total teh mentah (aracha).

"Petani teh mungkin ragu untuk beralih ke produksi matcha karena sulit untuk memastikan apakah ini hanya tren sementara atau akan bertahan lebih lama," jelas Noba.

Investasi mesin penggiling daun teh menjadi bubuk juga menjadi hambatan utama, mengingat biaya yang bisa mencapai ratusan juta yen.

Saat ini, teh masih dibebaskan dari bea masuk di AS. Namun dalam kebijakan tarif timbal balik, Presiden Trump mengusulkan tarif dasar 10 persen untuk hampir semua negara, termasuk tarif tambahan yang lebih tinggi bagi mitra dagang dengan surplus perdagangan, termasuk Jepang.

Tarif tersebut ditunda selama 90 hari hingga awal Juli untuk memberi ruang negosiasi. Jepang pun telah mengirim utusan ke Washington untuk menegosiasikan pengecualian.

"Teh bukanlah kebutuhan pokok. Ia dianggap barang mewah, sehingga sangat terpengaruh oleh kondisi ekonomi. Jika ekonomi AS tiba-tiba memburuk, nilai dari apa yang kami hasilkan juga bisa turun secara drastis," kata Noba.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2025, menambah kekhawatiran pelaku industri ekspor.

Matcha: Dari Tradisi ke Tren Global

Matcha Jepang, dikenal kaya akan antioksidan, vitamin, dan asam amino, semakin populer di seluruh dunia, terutama sejak pandemi COVID-19 yang mendorong tren hidup sehat.

Konsumsi matcha tak hanya dalam bentuk minuman, tetapi juga menyebar ke berbagai jenis makanan penutup.

Yukiko Motohara dari Japan Food Product Overseas Promotion Center (JFOODO) menyatakan, ada minat yang berkembang terhadap kesehatan selama pandemi, dan orang-orang beralih ke matcha karena manfaatnya.

JFOODO telah aktif mempromosikan teh Jepang sejak 2017, termasuk memperkenalkannya ke pasar luar negeri yang lebih luas.

"Popularitasnya kemungkinan akan terus tumbuh seiring dengan ketersediaan yang semakin luas. Namun, ancaman tarif membuat pelaku industri tetap waspada,” ujar Motohara.

Editor : Adi Permana

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal