Modernisasi Pertanian di China Mampu Turunkan Biaya Produksi dan Tingkatkan Hasil Gandum

Pers Pangannews

Kamis, 03 Juli 2025 18:12 WIB

news
"Ilustrasi" pertanian gandum. (Foto: iStockphoto)

Pangannews.id - Pemerintah China terus mendorong modernisasi sektor pertanian dengan memanfaatkan teknologi nirawak secara penuh di wilayah Qingfeng, Provinsi Henan.

Dalam panen perdana sistem rotasi gandum-jagung, seluruh proses mulai dari pembajakan, penanaman, pengelolaan, hingga panen dilakukan secara otonom tanpa intervensi manusia langsung.

Pemandangan teknologi mutakhir ini terlihat di Desa Zhangzhuangli, saat drone patroli udara melayang di bawah langit cerah, mesin pemanen nirawak bekerja mengumpulkan biji gandum keemasan, serta sistem irigasi pintar aktif menyiram area kering secara otomatis.

Proyek ini merupakan bagian dari program pekarangan belakang sains-teknologi (sci-tech backyard program) hasil rancangan ilmuwan Universitas Pertanian Henan, mencakup lahan seluas 3.500 mu atau sekitar 233 hektare.

“Selama beberapa generasi, musim panen berarti seluruh anggota keluarga harus bekerja keras di ladang,sekarang ‘kuda pekerja besi’ ini mengerjakan semuanya sendiri. Sungguh menakjubkan” kata kepala koperasi mesin pertanian setempat Zhou Jianshi, dikutip dari media Xinhua, Kamis, 3 Juli 2025.

Pada musim panas ini, China menerapkan berbagai mesin pintar seperti pemanen dan traktor nirawak, penabur benih berbasis hisap udara, sistem irigasi presisi, serta pesawat pengintai. 

Seluruh sistem dikendalikan melalui satelit navigasi BeiDou yang dikembangkan secara mandiri oleh China.

“Dengan sistem otonomos, kami telah mampu memangkas waktu panen dari tujuh hari menjadi empat hari,” kata Zhou.

Teknologi ini juga memangkas kebutuhan tenaga kerja secara drastis. Zhou menyebutkan bahwa tenaga pengelola air dan pupuk berkurang hingga 80 persen, sementara total biaya tenaga kerja turun sekitar 40 persen.

“Tetapi efisiensinya melonjak 30 persen dibandingkan metode tradisional tahun lalu,” kata Zhou.

Di ruang kendali pertanian, layar digital besar menampilkan data terkini mengenai kelembapan tanah, kepadatan benih, dan peringatan serangan hama. 

Direktur program pekarangan belakang sains-teknologi Qingfeng sekaligus profesor madya di Universitas Pertanian Henan, Wang Qiang, menjelaskan mekanisme kerja sistem tersebut.

“Sistem patroli pesawat nirawak kami mengumpulkan data lapangan di 10 titik setiap 30 menit antara pukul 09.00 dan 15.00 setiap hari,” kata Wang.

Data yang dikumpulkan diproses oleh model prediktif untuk menghasilkan pola pertumbuhan tanaman, perkiraan hasil panen, dan kebutuhan air spesifik. Sistem irigasi pintar membagi ladang menjadi enam zona dan menyesuaikan penyiraman secara presisi.

“Dengan pekerjaan yang dulu memerlukan 10 orang kini diselesaikan oleh satu orang yang menggunakan ponsel pintar, sementara pupuk presisi memangkas penggunaan bahan kimia hingga 20 persen dan meningkatkan efisiensi penyerapan hingga 30 persen,” ujar Zhou.

Wang juga menyampaikan hasil panen dari ladang pintar ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan ladang konvensional.

“Laporan perdana pertanian pintar itu menunjukkan peningkatan hasil gandum yang mengesankan sebesar 20 persen dibandingkan dengan ladang konvensional di dekatnya,” kata Wang.

Pendiri program pekarangan belakang sains-teknologi dan profesor di Universitas Pertanian Henan, Ye Youliang, menegaskan pentingnya pemupukan presisi dalam sistem ini.

“Intinya adalah mencocokkan air dan pupuk dengan kebutuhan tanaman secara tepat,” kata Ye.

“Sistem ini menghasilkan input yang lebih sedikit, kualitas yang lebih tinggi, dan pertanian yang benar-benar berkelanjutan,” tambahnya.

Wang menyatakan bahwa model pertanian nirawak yang diterapkan di Qingfeng dapat direplikasi secara nasional.

“Qingfeng menawarkan model yang dapat direplikasi untuk modernisasi pertanian di China. Selanjutnya, kami akan menyempurnakan teknologi nirawak dengan proses penuh, memangkas biaya lebih jauh, dan memperkuat perolehan efisiensi ini,” kata Wang.

Editor: Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...