Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

Risiko Konsumsi Obat Tidur Sembarangan, Apoteker RSKO: Bisa Picu Gangguan Mental

Bagikan
Apoteker Ahli dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, Apt. Dyah Putri Ambarwati, S.Si,.
Apoteker Ahli dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, Apt. Dyah Putri Ambarwati, S.Si,.

Pangannews.id - Tidur merupakan kebutuhan mendasar yang tidak tergantikan. Idealnya, orang dewasa membutuhkan waktu tidur antara tujuh hingga sembilan jam setiap malam agar tubuh dan pikiran bisa benar-benar beristirahat.

Namun, di kota-kota besar seperti Jakarta, semakin banyak orang usia produktif yang justru kesulitan mendapatkan tidur berkualitas. Pola kerja yang padat, gaya hidup tidak teratur, hingga tekanan mental dan fisik membuat tubuh seolah tidak bisa “mematikan tombol” untuk beristirahat.

Dalam kondisi seperti ini, banyak orang yang memilih jalan pintas dengan mengonsumsi obat tidur. Padahal, penggunaan obat tidur, khususnya tanpa pengawasan dokter, justru dapat menimbulkan masalah kesehatan baru yang lebih serius.

Apoteker Ahli dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, Apt. Dyah Putri Ambarwati, S.Si, mengungkapkan bahwa banyak pasien datang dengan keluhan susah tidur setelah sebelumnya mencoba berbagai jenis obat tidur tanpa resep.

Ia menekankan bahwa obat tidur, terutama dari golongan benzodiazepin, memang bisa membantu seseorang tidur lebih cepat dan nyenyak, namun penggunaannya tidak boleh sembarangan.

Menurut Dyah, obat tidur hanya berfungsi mengatasi gejala sesaat. Ia tidak menyelesaikan akar masalah dari gangguan tidur itu sendiri. Dalam jangka panjang, penggunaan obat tidur tanpa kontrol dapat memicu ketergantungan.

“Dosis yang awalnya terasa cukup bisa menjadi tidak efektif lagi. Hal ini membuat pengguna tergoda untuk menambah takaran, hingga akhirnya terjebak dalam ketergantungan,” tutur Dyah yang juga Pendiri Rumah Singgah Pejuang Hati, sebuah lembaga non profit untuk pasien gangguan hati kronis.

Tak hanya itu, efek samping obat tidur juga bisa mengganggu kondisi mental dan perilaku. Beberapa pasien mengalami kecemasan berlebihan, mudah tersinggung, bahkan menunjukkan perilaku agresif.

Obat yang seharusnya menjadi solusi justru bisa memunculkan masalah psikologis baru. Gangguan pada daya ingat dan konsentrasi juga kerap terjadi pada pengguna jangka panjang, bahkan meningkatkan risiko demensia di usia lanjut.

Efek fisik seperti pusing, lemas, dan gangguan koordinasi pun menjadi risiko tambahan, terutama bagi kelompok usia tua yang lebih rentan terhadap cedera akibat terjatuh. Karena itu, Dyah menekankan pentingnya memperbaiki pola tidur secara alami sebelum memutuskan untuk mengonsumsi obat.

Ia menyarankan masyarakat untuk mulai menerapkan kebiasaan tidur sehat, seperti menjaga jam tidur yang konsisten, menghindari konsumsi kafein atau alkohol di malam hari, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman.

Selain itu, membatasi paparan layar ponsel atau laptop menjelang tidur dan melakukan aktivitas relaksasi seperti membaca atau meditasi juga terbukti membantu tubuh lebih siap untuk beristirahat. Olahraga teratur di siang atau sore hari pun disebut sebagai faktor penting dalam meningkatkan kualitas tidur.

“Namun, apabila gangguan tidur terus berlanjut hingga lebih dari tiga kali dalam seminggu selama sebulan penuh, dan mulai mengganggu aktivitas harian, harus segera berkonsultasi ke dokter, khususnya spesialis kejiwaan,” ungkapnya.

Menurutnya, melalui konsultasi medis, akar permasalahan bisa diketahui secara menyeluruh, apakah disebabkan stres, pola hidup, atau gangguan kesehatan tertentu, sehingga penanganan yang diberikan pun bisa lebih tepat dan aman.

Editor : Adi Permana

 

 

 

Ditulis olehPers Pangannews
Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal