Selasa, 03 Maret 2026 20:35 WIB
PanganNews.id - Oleh M. Chairul Arifin.
Beberapa waktu terakhir, publik kembali dikejutkan oleh kasus-kasus keracunan makanan yang terjadi secara massal di berbagai daerah. Peristiwa seperti ini akan selalu menyisakan pertanyaan yang sama: di mana letak kelemahan sistem pengawasan pangan kita?
Dalam konteks program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar jutaan siswa setiap hari.
Pertanyaan ini menjadi jauh lebih serius. Kita tidak sedang berbicara tentang satu acara atau satu dapur, melainkan konsumsi rutin anak-anak sekolah dalam skala nasional. Kesalahan kecil dalam desain sistem bisa berdampak besar secara serentak.
Program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto memiliki tujuan yang sangat mulia: memperbaiki kualitas gizi generasi muda. Namun program sebesar ini tidak cukup hanya bertumpu pada niat baik dan kecepatan distribusi. Ia harus dibangun di atas sistem yang kokoh, disiplin, dan transparan.Di sinilah pelajaran dari Jepang menjadi sangat relevan.
Saya pernah tiga kali berkunjung ke Jepang dan tinggal di asrama mereka selama tiga bulan tahun 2000. Fokus saya memang bidang peternakan. Namun ada satu pengalaman sederhana yang justru membuka mata saya tentang integritas sistem pangan mereka.
Sebagai seorang muslim, saya tentu memperhatikan kehalalan makanan. Tanpa diminta, pihak asrama secara khusus kemudian mengimpor daging sapi dari Malaysia. Padahal kebutuhan protein hewani sudah mereka penuhi dari produk hasil laut yang melimpah. Yang membuat saya terkesan bukan hanya penyediaannya, tetapi transparansinya. Label asal diperlihatkan. Dokumen impor ditunjukkan didepan di hadapan peserta makan. Semua dilakukan terbuka.
Itu bukan sekadar layanan tambahan. Itu adalah cara mereka membangun kepercayaan melalui sistem.
Di Jepang, makan sekolah—dikenal sebagai kyūshoku—bukan proyek katering massal. Makanan dimasak di dapur sekolah atau dapur komunal pemerintah daerah. Ada ahli gizi tetap yang menyusun menu. Ada standar higienitas yang ketat. Prinsip HACCP dijalankan dengan disiplin: suhu penyimpanan dicatat, waktu distribusi diawasi, titik kritis dikontrol secara konsisten. Yang terpenting, skala produksi dijaga agar tidak terlalu besar.
Rantai distribusi pendek.
Jika terjadi kesalahan, dampaknya tidak menyebar luas. Bandingkan dengan model sentralisasi ekstrem—satu dapur besar memasok banyak sekolah. Secara administratif mungkin terlihat efisien. Namun dari sisi risiko keamanan pangan, ini rawan. Satu kelalaian kecil dapat berdampak pada ribuan siswa sekaligus.
Kita sudah berulang kali menyaksikan bagaimana distribusi makanan dalam skala besar bisa berujung keracunan massal. Apakah pola seperti ini yang ingin kita pertaruhkan dalam MBG?
Jika MBG hanya dikelola sebagai proyek pengadaan, maka logika yang dominan adalah tender, volume, dan serapan anggaran. Logika keamanan pangan berpotensi menjadi sekunder. Padahal kita berbicara anak-anak
Karena itu, Indonesia perlu mempertimbangkan model kantin atau dapur sekolah yang higienis dan permanen. Bukan sekadar ruang memasak sementara, melainkan fasilitas dengan standar sanitasi jelas.Setiap sekolah atau minimal setiap kecamatan memiliki dapur yang terkontrol. Didampingi ahli gizi tetap.
Rekayasa Sistem Pangan
Dan yang tidak kalah penting, melibatkan petani lokal dalam rantai pasoknya.Model ini mungkin tidak secepat sentralisasi besar. Tetapi jauh lebih aman dan berkelanjutan. Dengan dapur sekolah: Kontrol kualitas lebih langsung. Rantai distribusi lebih pendek.Risiko keracunan lebih kecil. Pengawasan harian lebih mungkin dilakukan.Ekonomi lokal ikut bergerak. Lebih dari itu, anak-anak tidak hanya menerima makanan. Mereka belajar tentang kedisiplinan, tentang menghargai. pangan, tentang keterkaitan antara sawah dan meja makan.
MBG seharusnya bukan sekadar distribusi kalori. Ia harus menjadi rekayasa sistem pangan nasional.
Pengalaman saya di Jepang menunjukkan bahwa keamanan pangan bukan soal negara kaya atau miskin. Itu soal komitmen menjalankan standar. Mereka tidak menganggap makan sekolah sebagai urusan kecil. Tapi mereka memperlakukannya sebagai bagian dari peradaban.
Indonesia tidak kekurangan anggaran. Tidak kekurangan regulasi. Yang sering kita selalu kekurangan adalah konsistensi menjalankan sistem dengan disiplin.
Program MBG menyangkut jutaan anak, jutaan keluarga, dan reputasi negara. Satu kesalahan saja bisa meruntuhkan kepercayaan publik. Karena itu, sebelum memperluas jangkauan, perkuatlah fondasinya.
Bangun dapur sekolah yang higienis. Wajibkan pendampingan ahli gizi. Terapkan HACCP secara ketat. Lakukan audit terbuka. Libatkan petani lokal.Jangan biarkan MBG terjebak menjadi proyek distribusi makanan massal.
Jadikan ia tonggak pembenahan sistem pangan Indonesia.Jepang telah menunjukkan bahwa disiplin melahirkan kepercayaan.Pertanyaannya kini sederhana: apakah kita ingin membangun sistem yang aman bagi anak-anak kita, atau sekadar mengejar kecepatan pelaksanaan?
Pilihan itu ada di tangan kita.
Depok, Maret 2026
M. Chairul Arifin
(*/Adv)
Senin, 23 Februari 2026 12:56 WIB
Rabu, 18 Februari 2026 18:38 WIB
Senin, 16 Februari 2026 18:25 WIB
Selasa, 10 Februari 2026 20:50 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...