Mengapa Kunang-Kunang Makin Jarang Terlihat? Ini Penjelasan Pakar IPB

Pers Pangannews

16 jam yang lalu

news
Kunang-kunang. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Dulu, kunang-kunang mudah ditemukan berkelap-kelip di persawahan, tepi sungai, atau pekarangan yang masih asri. Kini, pemandangan itu semakin langka. Para ahli menyebut hilangnya kunang-kunang bukan hanya soal berkurangnya satu jenis serangga, melainkan peringatan bahwa kondisi ekosistem sedang mengalami tekanan.

Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof drh Upik Kesumawati Hadi, mengatakan kunang-kunang merupakan bioindikator atau organisme yang dapat mencerminkan kondisi kesehatan suatu ekosistem.

“Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang,” kata Upik, dilansir dari laman IPB University.

Menurutnya, penurunan populasi kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global. Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11 hingga 20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kondisi terancam.

Sejumlah spesies yang hidup di kawasan mangrove Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand, bahkan telah masuk kategori rentan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap habitat kunang-kunang semakin besar di berbagai wilayah.

Di Indonesia, tanda-tanda penurunan populasi paling nyata terlihat di kawasan perkotaan. Serangga yang dikenal dengan cahaya alaminya itu sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran.

“Di Indonesia sendiri, berbagai kajian entomologi menunjukkan populasi kunang-kunang mengalami penurunan drastis, terutama di wilayah perkotaan. Serangga bercahaya ini sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari perubahan kelembapan tanah hingga pencemaran,” ujarnya.

Upik menjelaskan, kerusakan habitat menjadi penyebab utama berkurangnya populasi kunang-kunang. Alih fungsi lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri menghilangkan ruang hidup bagi larva kunang-kunang yang membutuhkan tanah lembap untuk berkembang.

Ancaman lain datang dari polusi cahaya yang semakin meningkat seiring masifnya penggunaan lampu luar ruangan dan lampu LED berintensitas tinggi. Cahaya buatan yang berlebihan mengganggu sistem komunikasi alami kunang-kunang saat mencari pasangan.

Menurut Upik, kunang-kunang jantan mengandalkan sinyal cahaya dari betina untuk proses perkawinan. Ketika lingkungan dipenuhi cahaya buatan, sinyal tersebut menjadi sulit dikenali sehingga peluang reproduksi menurun.

Selain polusi cahaya, penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, semenisasi saluran irigasi, hingga urbanisasi yang terus meluas turut mempersempit peluang hidup serangga tersebut.

Meski demikian, kunang-kunang masih dapat ditemukan di sejumlah habitat yang relatif terjaga. Kawasan mangrove, rawa, tepi sungai alami, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap masih menjadi tempat hidup yang mendukung keberlangsungan populasinya.

Upik mengingatkan bahwa hilangnya kunang-kunang bukan hanya berarti berkurangnya satu jenis serangga, tetapi juga menandakan terganggunya keseimbangan ekosistem. Jika tren kerusakan habitat dan polusi cahaya terus berlanjut, generasi mendatang berpotensi hanya mengenal kunang-kunang melalui buku pelajaran, museum, atau layar digital.

Karena itu, ia mendorong masyarakat ikut terlibat menjaga habitat alami serangga tersebut. Langkah sederhana seperti tidak menutup seluruh halaman rumah dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air dinilai dapat membantu mempertahankan populasi kunang-kunang.

“Kelestarian kunang-kunang sangat bergantung pada kelestarian habitatnya. Menjaga lingkungan berarti juga menjaga agar cahaya alami kunang-kunang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” kata Upik.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...