7 jam yang lalu
Pangannews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi musim kemarau guna memastikan produksi pangan nasional tetap terjaga.
Berbagai upaya dilakukan melalui percepatan penyaluran pompa air, pemanfaatan sumber air alternatif, pendampingan penyuluh pertanian, hingga mendorong penggunaan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi kering.
Langkah ini dilakukan sebagai respons atas prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan fenomena El Niño tahun ini berada pada kategori lemah hingga moderat sehingga diperlukan langkah antisipatif sejak dini di sentra-sentra produksi pangan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam beberapa kesempatan menegaskan pemerintah bergerak cepat melakukan berbagai langkah mitigasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga.
"Kita harus bergerak lebih cepat sebelum kekeringan berdampak terhadap produksi. Seluruh jajaran Kementan bersama pemerintah daerah dan stakeholder lain terus melakukan mitigasi agar petani tetap dapat berproduksi. Air harus dipastikan tersedia sehingga indeks pertanaman dan produktivitas tetap terjaga," tegas Mentan Amran.
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah, mengatakan penyediaan pompa air menjadi salah satu strategi utama Ditjen PSP dalam menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau.
"Hingga pertengahan tahun 2026, Kementerian Pertanian telah menyalurkan lebih dari 9.000 unit pompa air ke berbagai daerah sentra produksi sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau. Tahun ini kami menargetkan alokasi sekitar 11.000 unit pompa air untuk seluruh Indonesia sehingga petani memiliki akses air yang lebih baik dalam menjaga keberlanjutan produksi," ujar Andi Nur Alam Syah di Jakarta, Jumat (10/7).
Ia menjelaskan, mitigasi kekeringan tidak hanya mengandalkan bantuan pompa air, tetapi juga dilakukan secara terpadu melalui pendampingan penyuluh pertanian, pemanfaatan sumber air alternatif, penyesuaian pola tanam, serta penggunaan varietas unggul yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Salah satu contoh keberhasilan implementasi strategi tersebut terlihat di Kelompok Tani Tunggal Jaya, Desa Karya Mekar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Purwakarta. Sejak awal tahun, petani bersama penyuluh telah melakukan berbagai langkah antisipasi setelah memperoleh informasi mengenai potensi kekeringan.
Ketua Kelompok Tani Tunggal Jaya, Cecep Sopandi, mengatakan kesiapsiagaan petani menjadi kunci agar musim tanam tetap berjalan meski memasuki musim kemarau.
"Sejak Februari kami sudah mendapat informasi dari penyuluh mengenai potensi kekeringan. Kami langsung melakukan mitigasi dengan menyiapkan sumber-sumber air dan pompa untuk mengalirkan air ke sawah. Selain pompa bantuan pemerintah, petani juga memiliki pompa sendiri yang digunakan secara bergantian," ujarnya.
Kelompok tani tersebut mengelola sekitar 25 hektare lahan sawah. Untuk memenuhi kebutuhan air pada musim tanam kedua (MT II), petani mengoperasikan empat hingga lima unit pompa air secara bergantian.
Menurut Cecep, pasokan air berasal dari berbagai sumber yang dimanfaatkan secara optimal.
"Air untuk mengaliri sawah kami dapatkan dari berbagai sumber, mulai dari sumur pantek yang dibangun secara swadaya oleh petani, bekas galian C sebagai tampungan air hujan, hingga aliran sungai kecil di sekitar areal persawahan," jelasnya.
Selain memastikan ketersediaan air, petani juga menerapkan rekomendasi penyuluh dengan menanam varietas unggul baru Inpago 13 Fortis yang lebih toleran terhadap kondisi kering, berumur genjah, serta memiliki ketahanan terhadap penyakit blas.
"Sebagian lahan kami tanami varietas Inpago 13 Fortis sesuai saran PPL. Dengan panas yang terik seperti sekarang, alhamdulillah benih ini kuat dan sekitar umur 85–90 hari setelah tanam sudah bisa dipanen," tambah Cecep.
Melalui kolaborasi dari seluruh pihak, optimistis berbagai langkah mitigasi tersebut mampu menjaga produktivitas lahan, meminimalkan risiko gagal panen, serta mendukung tercapainya swasembada pangan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.(*/ADV)
7 jam yang lalu
7 jam yang lalu
You must login to comment...
Be the first comment...