Jamur Indonesia Punya Potensi Lebih dari Sekadar Pangan

Pers Pangannews

10 jam yang lalu

news
Beragam jenis jamur yang biasa menjadi olahan pangan di Indonesia.

Pangannews.id - Jamur selama ini lebih banyak dikenal sebagai bahan makanan. Namun, kandungan protein, serat, vitamin, mineral, dan senyawa aktif di dalamnya membuat komoditas ini menyimpan peluang lebih luas, termasuk untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional dan bahan baku obat.

Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Saskiawan, mengatakan potensi tersebut perlu dikembangkan melalui penguasaan ilmu tentang jamur atau mushroom science.

Indonesia memiliki beragam jenis jamur yang telah dimanfaatkan masyarakat. Jamur tiram dan jamur kuping menjadi beberapa jenis jamur kayu yang banyak dibudidayakan.

Selain itu, masyarakat juga mengenal sejumlah jamur yang diperoleh dari alam, seperti jamur bulan (Termitomyces sp.), jamur grigit (Schizophyllum commune), dan jamur pelawan (Heimioporus sp.).

Keanekaragaman tersebut membuka peluang pengembangan melalui bioprospeksi, yakni menggali potensi sumber daya hayati untuk menghasilkan produk dan manfaat baru.

Namun, dari ribuan jenis jamur yang ada, hanya sebagian kecil yang dapat dikonsumsi. Iwan menyebut terdapat sekitar 10 ribu jenis jamur di dunia, tetapi kurang dari 10 persen yang tergolong dapat dimakan.

“Dari sekitar sepuluh ribuan jamur yang ada di muka bumi ini, hanya sekitar kurang dari 10% spesies yang dapat dimakan atau edible,” ujarnya, dikutip dari laman resmi BRIN.

Protein hingga Serat

Jamur yang aman dikonsumsi memiliki kandungan nutrisi yang cukup beragam. Berdasarkan penelitian Iwan, rata-rata jamur mengandung protein 19-35 persen.

Kandungan tersebut lebih tinggi dibandingkan beras yang sekitar 7,38 persen dan gandum 13,2 persen. Jamur juga mengandung sekitar sembilan jenis asam amino esensial, sedangkan sekitar 72 persen kandungan lemaknya merupakan lemak tidak jenuh.

Kandungan lainnya meliputi vitamin B1, B2, niasin, dan biotin, serta mineral seperti kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, dan tembaga.

Dari sisi serat, kandungannya berada pada kisaran 7,4-24,6 persen. Sementara itu, kalori jamur relatif rendah.

“Kandungan seratnya yang berkisar 7,4-24,6% juga menjadikan jamur sebagai salah satu bahan pangan yang dapat mendukung kebutuhan serat, dengan kandungan kalori yang relatif rendah,” kata Iwan.

Jamur Tiram Punya Senyawa Aktif

Salah satu jamur yang sudah banyak dikonsumsi dan dibudidayakan di Indonesia adalah jamur tiram (Pleurotus sp.).

Jamur ini mengandung protein sekitar 19-30 persen dan karbohidrat 50-60 persen. Kandungan lainnya berupa asam amino, vitamin B dan C, serta mineral seperti kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, sulfur, dan seng.

Jamur tiram juga mengandung pleuran, senyawa gula sederhana yang memiliki aktivitas antioksidan. Kandungan tersebut membuat jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional.

“Jamur tiram mengandung senyawa pleuran, senyawa gula sederhana yang mempunyai aktivitas antioksidan. Karena kandungan dan manfaat tersebut, jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional,” jelas Iwan.

Peluang dari Pangan hingga Obat

Pemanfaatan jamur sebagai pangan juga telah diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Iwan mencontohkan penggunaan jamur tiram dalam penanganan gizi buruk balita yang dilakukan bidan desa Sunarti, penerima Srikandi Award 2012 dari Kementerian Kesehatan.

Jamur tiram pada saat itu diolah menjadi berbagai makanan untuk dikonsumsi balita. Contoh tersebut menunjukkan pemanfaatan jamur dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan pangan.

Potensi jamur juga tidak terlepas dari karakteristik biologisnya. Jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat menghasilkan makanan sendiri. Untuk memperoleh nutrisi, jamur menghasilkan enzim yang menguraikan senyawa kompleks di lingkungan menjadi senyawa sederhana yang dapat diserap.

Menurut Iwan, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan jamur melalui riset yang lebih terarah. Penguasaan mushroom science diperlukan, termasuk melalui kolaborasi penelitian dengan industri budi daya jamur dan perusahaan farmasi.

“Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang tinggi masih menyimpan potensi pengembangan jamur pangan baik untuk bahan pangan fungsional ataupun sebagai bahan baku obat. Penguasaan ilmu tentang jamur pangan (mushroom science) diperlukan dalam hal ini,” pungkas Iwan.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...