Ubah Limbah Eceng Gondok dan Ikan Red Devil Jadi Pelet, Siswa MAN Karo Raih Gold Medal di Malaysia

Pers Pangannews

9 jam yang lalu

news
Siswa MAN Karo meraih Gold Medal pada World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026, Malaysia. (Foto : Kemenag)

Pangannews.id - Persoalan eceng gondok dan ikan Red Devil di kawasan Danau Toba mengantarkan lima siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Karo meraih Gold Medal dalam World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia.

Kelima siswa tersebut berhasil membawa inovasi bernama ECORED, yakni pelet ikan yang dibuat dengan memanfaatkan limbah eceng gondok dan ikan Red Devil. Kompetisi berlangsung pada 20–24 September 2026 di SEGi University, Malaysia.

Dilansir dari laman resmi Kemenag, ECORED dikembangkan Piyana, Talitha Putri Br Ginting Suka, Salsa Nabila, Quinsa Dikta Arisya, dan Levina Br Karo di bawah bimbingan Harsona Sinurat.

ECORED berangkat dari persoalan lingkungan yang ditemukan di kawasan Danau Toba. Eceng gondok dan ikan Red Devil dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pelet pakan ikan yang ramah lingkungan.

Inovasi tersebut dirancang dengan konsep bermodal nol rupiah karena bahan utama yang digunakan berasal dari sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

Melalui ECORED, masyarakat diharapkan dapat membuat pakan ikan secara mandiri tanpa harus mengeluarkan biaya untuk bahan baku. Pada saat yang sama, pemanfaatan kedua bahan tersebut juga diharapkan dapat mengurangi keberadaan eceng gondok dan ikan Red Devil yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

Guru pembimbing ECORED, Harsona Sinurat, mengatakan gagasan tersebut muncul ketika para siswa mencoba melihat persoalan lingkungan dari sisi yang berbeda.

“Anak-anak mencoba melihat eceng gondok dan ikan Red Devil bukan hanya sebagai masalah, tetapi sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Dari proses itu lahir ECORED sebagai alternatif pakan ikan yang ramah lingkungan dan dapat dibuat dengan bahan yang ada di sekitar masyarakat,” kata Harsona.

Bukan Sekadar Mengejar Medali

Bagi para siswa, kompetisi di tingkat internasional tersebut tidak hanya menjadi ajang untuk memperoleh penghargaan. Mereka juga mendapat pengalaman dalam mengembangkan gagasan hingga mempresentasikan hasil inovasi di hadapan peserta dan juri dari berbagai negara.

Harsona mengatakan proses tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan siswa dalam mengembangkan ECORED.

“Yang paling penting bagi kami adalah prosesnya. Anak-anak belajar bahwa sebuah inovasi membutuhkan kerja keras, ketekunan, kerja sama, dan keberanian untuk mempresentasikan gagasan. Gold Medal ini menjadi hasil yang membanggakan dari proses tersebut,” ujarnya.

Kepala MAN Karo, Ashari Fahmi, mengapresiasi capaian lima siswanya tersebut. Menurut dia, penghargaan itu menunjukkan kemampuan siswa madrasah dalam menghasilkan karya yang mampu bersaing di tingkat internasional.

“Prestasi ini merupakan hasil dari kerja keras, doa, kreativitas, dan semangat para siswa bersama guru pembimbing. Kami sangat bangga karena anak-anak MAN Karo mampu membawa karya yang berangkat dari persoalan lingkungan di daerah kita hingga tampil dan mendapatkan apresiasi di tingkat internasional,” ujar Ashari Fahmi.

Ia berharap keberhasilan ECORED tidak berhenti pada perolehan Gold Medal. Ia ingin capaian tersebut mendorong siswa MAN Karo lainnya untuk berani mengembangkan gagasan dan menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Saya berharap prestasi ini tidak berhenti pada raihan medali saja. ECORED harus menjadi motivasi bagi siswa untuk terus menciptakan inovasi yang bermanfaat. Kita ingin siswa MAN Karo tidak hanya berprestasi, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap persoalan yang ada di lingkungan sekitar,” tambahnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...