PanganNews.id Jakarta - oleh Drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Medik Veteriner Ahli Utama
Istilah Pasar karbon masih asing bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Kesan pertama yang umumnya muncul saat pertama kali mendengar istilah ini adalah pengertian karbon sebagai arang (charcoal), padahal karbon yang dimaksud adalah karbon dioksida (CO2), salah satu jenis gas rumah kaca utama yang dapat menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.
Apa yang Dimaksud dengan Perdagangan Karbon ?
Perdagangan karbon adalah kegiatan jual beli kredit karbon (carbon credit), di mana pembeli menghasilkan emisi karbon yang melebihi batas yang ditetapkan. Kredit karbon adalah representasi dari ‘hak’ bagi satu perusahaan untuk mengeluarkan sejumlah emisi karbon atau gas rumah kaca (GRK) lainnya dalam proses industrinya. Satu unit kredit karbon setara dengan penurunan emisi 1 ton karbon dioksida (CO2).
Kredit karbon yang dijual umumnya berasal dari proyek-proyek hijau (Green Projects). Lembaga verifikasi menghitung kemampuan penyerapan karbon oleh lahan hutan pada proyek tertentu dan menerbitkan sertifikat kredit karbon. Kredit karbon juga dapat berasal dari perusahaan yang menghasilkan emisi di bawah ambang batas yang ditetapkan pada industrinya masing-masing.
Pemerintah setempat biasanya menetapkan kredit karbon tersebut hingga batas tertentu. Jika perusahaan menghasilkan emisi kurang dari kredit yang dimiliki, maka perusahaan tersebut bisa menjual kredit tersebut di pasar karbon. Namun, jika emisi yang dihasilkan melebihi kredit yang dimiliki, maka perusahaan harus membayar denda atau membeli kredit di pasar karbon. Dengan mekanisme pengaturan seperti ini, negara-negara di dunia dapat mengontrol jumlah emisi karbon yang dihasilkan dan mengurangi dampak gas rumah kaca (GRK) secara signifikan.
Kenapa ada perdagangan karbon ?
Perdagangan karbon berasal dari komitmen negara-negara sedunia dalam menangani pemanasan global (Global Warming). Mari kita lihat bagaimana perkembangan dunia dalam penanganan pemanasan global hingga muncul skema perdagangan karbon sebagai salah satu solusinya.
Di Stockholm, pada tahun 1972 PBB menyelenggarakan konferensi tentang lingkungan hidup manusia. Perwakilan dari berbagai negara melakukan konferensi pertama kali untuk membahas situasi lingkungan hidup secara global.
Di Rio de Janeiro, pada tahun 1992 PBB melaksanakan Konferensi Bumi, pada konferensi ini terbentuk Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change / UNFCCC). UNFCCC tujuan utamanya menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer hingga berada di tingkat aman.
Di Kyoto, pada yahun 1997 UNFCCC menetapkan ketentuan stabilitas konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer berupa Protokol Kyoto. Protokol Kyoto ini disahkan 11 Desember 1997 dan mulai berlaku 16 Februari 2005. Periode komitmen pertama dimulai pada tahun 2008 dan berakhir pada tahun 2012, di mana 38 negara industri dan masyarakat Eropa diminta untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar rata-rata 5% di bawah tingkat emisi di tahun 1990.
Pada periode komitmen kedua (2013-2020), target pengurangan emisi sebesar 18% di bawah tingkat emisi tahun 1990. Meski Protokol Kyoto mampu menekan emisi di negara-negara terikat perjanjian (27% dari emisi karbon global pada periode pertama, dan 15% pada periode kedua), namun emisi karbon global juga meningkat sebesar 2,6% di tahun 2012 atau sekitar 58% lebih tinggi dari tingkat emisi tahun 1990.
Di Paris, pada tahun 2015, tindak lanjut dari Protokol Kyoto, sebanyak 195 pemerintah dari berbagai negara menyepakati perjanjian iklim global yaitu Perjanjian Paris (Paris Agreement). Perjanjian Paris sepenuhnya bersifat sukarela. Negara-negara tersebut berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca dan memastikan suhu global tidak naik lebih dari 2˚C, serta menjaga kenaikan suhu global tetap di bawah 1,5˚C.
Perjanjian Paris ini mulai berlaku efektif pada 4 November 2016. Setiap negara yang menyepakati Perjanjian Paris diharuskan untuk menyerahkan Nationally Determined Contribution (NDC) – rencana pengurangan emisi dan strategi penerapannya setiap lima tahun sekali. Setiap NDC baru harus lebih kuat dari rencana nasional sebelumnya, terutama dalam peningkatan target emisi yang dikurangi.
Manfaat Perdagangan Karbon
Dari sisi pemerintah terkait regulasi, perdagangan karbon lebih memudahkan implementasi regulasi langsung pembatasan dan pengenaan pajak emisi karbon. Regulasi pajak langsung akan lebih mahal dari segi anggaran dan membatasi ruang gerak pertumbuhan ekonomi dari sektor industri.
Melalui perdagangan karbon, pemerintah juga dapat memantau jumlah emisi karbon yang dihasilkan oleh industri di negaranya dengan lebih terorganisasi. Sebab, jumlah emisi karbon dan potensi penyerapan karbon terukur dengan standar yang telah ditetapkan. Jumlah kredit karbon yang beredar di pasar karbon tentunya akan membantu dalam mengontrol jumlah emisi karbon yang dilepas ke atmosfer.
Selain itu, perdagangan karbon juga akan membuka peluang ekonomi baru bagi negara-negara yang berpartisipasi. Sebagai salah satu paru-paru dunia, Indonesia diperkirakan menyumbang 75-80% kredit karbon dunia. Sehingga, perdagangan karbon ini dapat memberikan kontribusi hingga lebih dari USD150 miliar bagi perekonomian Indonesia.
Cara Kerja Perdagangan Karbon
Secara garis besar, emisi karbon saat ini diperdagangkan secara sukarela (voluntary carbon market) dan wajib (mandatory carbon market). Jika dilihat dari mekanisme perdagangannya, pasar karbon dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:
(1) Skema Perdagangan Emisi (Emissions Trading Scheme/ETS)
ETS dikenal juga dengan sistem cap-and-trade. Skema ini umumnya diterapkan pada pasar karbon yang bersifat wajib karena emisi karbon yang diperdagangkan dibatasi jumlahnya oleh pemerintah. Dalam skema ini, emisi yang diperdagangkan adalah untuk emisi yang akan dihasilkan di masa yang akan datang. Peserta dalam mekanisme pasar ini terdiri dari organisasi, perusahaan, dan negara.
Kewajiban pengurangan atau pembatasan emisi diterapkan dalam bentuk pengalokasian kuota (tunjangan) di awal periode. Peserta yang terkena pembatasan emisi wajib melaporkan emisi yang dihasilkan secara berkala, umumnya tahunan kepada lembaga yang ditunjuk.
Pada akhir periode peserta yang melewati batas dapat membeli tambahan kuota (tunjangan) dari peserta yang memiliki kuota yang tidak terpakai (emisi yang dihasilkan lebih rendah dari batasan yang ditetapkan) dan sebaliknya.
(2) Skema Perdagangan Kredit Karbon
Dikenal juga dengan sistem baseline-and-crediting atau carbon offset. Skema ini tidak membutuhkan kuota (tunjangan) di awal periode, karena yang dijadikan sebagai komoditi (disebut sebagai kredit karbon) adalah hasil sertifikasi penurunan emisi karbon akibat pelaksanaan atas proyek yang mereduksi emisi karbon. Satu unit kredit karbon biasanya setara dengan penurunan emisi satu ton CO2.
Pada skema kredit karbon, nilai kredit didapatkan di akhir suatu periode yang dapat dijual dan digunakan oleh peserta untuk memenuhi target penurunan emisi atau menempatkan posisi peserta menjadi karbon netral atau emisi nol. Sedangkan untuk skema ETS, nilai kredit sudah ditentukan di awal suatu periode, sehingga kredit baru dapat diperjualbelikan tergantung pada aktivitas usaha yang dilakukan oleh penghasil emisi.
Pasar Karbon
Pasar karbon memungkinkan investor dan perusahaan untuk memperdagangkan Carbon credit dan Carbon offset secara bersamaan. Ini akan mengurangi krisis lingkungan, sekaligus menciptakan peluang pasar baru.
Tantangan baru hampir selalu menghasilkan pasar baru, dan krisis iklim yang sedang berlangsung dan meningkatnya emisi global tidak terkecuali.
Minat baru di pasar karbon relatif baru. Pasar perdagangan karbon internasional telah ada sejak Protokol Kyoto 1997, tetapi munculnya pasar regional baru telah mendorong lonjakan investasi.
Munculnya program perdagangan emisi wajib baru dan meningkatnya tekanan konsumen telah mendorong perusahaan untuk beralih ke pasar sukarela untuk penggantian kerugian karbon. Mengubah sikap publik terhadap perubahan iklim dan emisi karbon telah menambah insentif kebijakan publik. Terlepas dari latar belakang peraturan negara bagian, federal, dan internasional yang terus berubah, ada lebih banyak kebutuhan bagi perusahaan dan investor untuk memahami kredit karbon.
Terdapat 18 rencana bisnis pasar karbon, namun pada kesempatan ini akan dibahas 7 rencana bisnis pasar karbon utama.
Pengantar Pasar Carbon Credit dan Carbon Offset
Protokol Kyoto tahun 1997 dan Perjanjian Paris tahun 2015 adalah kesepakatan internasional yang menetapkan tujuan emisi CO2 internasional. Dengan yang terakhir diratifikasi oleh semua peserta kecuali enam negara, mereka telah menetapkan target emisi nasional dan peraturan untuk mendukungnya.
Dengan berlakunya peraturan baru ini, tekanan pada perusahaan untuk menemukan cara mengurangi jejak karbon mereka semakin meningkat. Sebagian besar solusi sementara saat ini melibatkan penggunaan pasar karbon.
Apa yang dilakukan pasar karbon adalah mengubah emisi CO2 menjadi komoditas dengan memberikan harga. Emisi ini termasuk dalam salah satu dari dua kategori: (1) Carbon Credit (Kredit karbon) atau (2) Carbon offset (Penyeimbang karbon), dan keduanya dapat dibeli dan dijual di pasar karbon. Carbon credit mengacu pada izin yang dapat diperdagangkan yang memungkinkan perusahaan mengeluarkan sejumlah karbon dioksida atau gas rumah kaca yang setara. Izin ini memungkinkan mereka mengeluarkan satu ton CO2 atau jumlah yang setara dengan gas rumah kaca yang berbeda.
Jika perusahaan menggunakan lebih sedikit kredit (menghasilkan lebih sedikit emisi) mereka dapat memperdagangkan dan menjual kredit mereka kepada pihak lain yang membutuhkannya. Carbon offset adalah tindakan meniadakan emisi CO2 yang dihasilkan di satu tempat dengan tindakan pengurangan emisi di tempat lain.
Apa yang dimaksud dengan Carbon credit dan Carbon offset ?
Kedua istilah ini sering digunakan secara bergantian, namun kredit karbon dan penyeimbangan karbon beroperasi pada mekanisme yang berbeda.
Kredit karbon, juga dikenal sebagai tunjangan karbon, bekerja seperti slip izin untuk emisi. Ketika sebuah perusahaan membeli kredit karbon, biasanya dari pemerintah, mereka mendapatkan izin untuk menghasilkan satu ton emisi CO2. Dengan kredit karbon, pendapatan karbon mengalir secara vertikal dari perusahaan ke regulator, meskipun perusahaan yang berakhir dengan kredit berlebih dapat menjualnya ke perusahaan lain. Carbon Offset mengalir secara horizontal, memperdagangkan pendapatan karbon antar perusahaan. Ketika satu perusahaan menghilangkan satu unit karbon dari atmosfer sebagai bagian dari aktivitas bisnis normal mereka, mereka dapat menghasilkan penyeimbangan karbon. Perusahaan lain kemudian dapat membeli Carbon Offset itu untuk mengurangi jejak karbon mereka sendiri.
Perlu diperhatikan bahwa kedua istilah tersebut kadang-kadang digunakan secara bergantian, dan penyeimbangan karbon sering disebut sebagai “kredit penyeimbang”. Namun harus diingat, terdapat perbedaan antara kredit kepatuhan peraturan dan kompensasi sukarela ini.
Berapa banyak CO2 dalam satu ton ?
Rata-rata orang Amerika menghasilkan 16 ton CO2e per tahun melalui mengemudi kendaraan, berbelanja, menggunakan listrik dan gas di rumah, dan melakukan aktivitas sehari-hari lainnya.
Untuk lebih jauh menempatkan emisi itu dalam perspektif, seseorang akan menghasilkan satu ton CO2e dengan mengendarai mobil rata-rata 22 MPG sejauh 3.600 kilometer. MPG, atau mil per galon, adalah jarak, diukur dalam mil, yang dapat ditempuh mobil per galon bahan bakar.
Kredit karbon dikeluarkan oleh pemerintah nasional atau organisasi internasional. Telah disebutkan perjanjian Kyoto dan Paris yang menciptakan pasar karbon internasional pertama. Di AS, California mengoperasikan pasar karbonnya sendiri dan mengeluarkan kredit kepada penduduk untuk konsumsi gas dan listrik.
Jumlah kredit yang dikeluarkan setiap tahun biasanya didasarkan pada target emisi. Kredit sering dikeluarkan di bawah apa yang dikenal sebagai program "cap-and-trade". Cap-and- trade didefinisikan sebagai suatu pendekatan kebijakan untuk mengontrol jumlah emisi dari sejumlah sumber. Program Cap-and-Trade ini adalah elemen kunci dari strategi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Cap yakni jumlah emisi maksimum per periode untuk semua sumber yang telah disepakati. Regulator menetapkan batas emisi karbon. Batas itu perlahan-lahan berkurang dari waktu ke waktu.
Di seluruh dunia, program cap-and-trade ada dalam beberapa bentuk di Kanada, Uni Eropa, Inggris, Cina, Selandia Baru, Jepang, dan Korea Selatan, dengan banyak negara dan negara bagian yang mempertimbangkan penerapannya. Perusahaan diberi insentif untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh operasi bisnis mereka agar tetap di bawah batas mereka. Intinya, program cap-and-trade mengurangi beban perusahaan yang berusaha memenuhi target emisi dalam jangka pendek, dan menambah insentif pasar untuk mengurangi emisi karbon lebih cepat.
Penyeimbangan karbon bekerja
Organisasi dengan operasi yang mengurangi jumlah karbon yang sudah ada di atmosfer, katakanlah dengan menanam lebih banyak pohon atau berinvestasi dalam energi terbarukan, memiliki kemampuan untuk mengeluarkan penyeimbangan karbon. Pembelian Carbon offset ini bersifat sukarela, itulah sebabnya Carbon offset membentuk apa yang dikenal sebagai “Pasar Karbon Sukarela”. Namun, dengan membeli penyeimbang karbon ini, perusahaan dapat mengurangi jumlah CO2e yang mereka keluarkan lebih banyak lagi.
Apakah pasar karbon itu ?
Dalam hal penjualan kredit karbon dalam pasar karbon, ada dua pasar karbon penting yang terpisah untuk dipilih.
1. Salah satunya adalah pasar yang diatur, ditetapkan oleh peraturan “cap-and-trade” di tingkat regional dan negara bagian.
2. Yang lainnya adalah pasar sukarela di mana perusahaan dan individu membeli kredit (atas kemauan mereka sendiri) untuk mengimbangi emisi karbon mereka.
Beberapa perusahaan (khususnya perusahaan dengan operasi yang lebih tua dan kurang efisien) menghasilkan lebih banyak emisi daripada jumlah kredit yang mereka terima setiap tahun dapat menutupi. Bisnis ini mencari untuk membeli kredit karbon untuk mengimbangi kewajiban emisi mereka.
Terlepas dari kemajuan teknologi, beberapa perusahaan masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengurangi emisi mereka secara substansial. Namun, mereka masih harus terus menyediakan barang dan jasa untuk menghasilkan uang tunai yang mereka butuhkan untuk meningkatkan jejak karbon operasinya. Karena itu, mereka perlu menemukan cara untuk mengimbangi jumlah karbon yang telah mereka keluarkan.
Jadi, ketika perusahaan memenuhi "batas" emisi mereka, mereka melihat ke pasar regulasi untuk "berdagang" sehingga mereka dapat tetap berada di bawah batas itu.
Contohnya sebagai berikut: Katakanlah dua perusahaan, Perusahaan 1 dan Perusahaan 2, hanya diperbolehkan mengeluarkan 300 ton karbon.
Namun, Perusahaan 1 berada di jalur yang tepat untuk mengeluarkan 400 ton karbon tahun ini, sedangkan Perusahaan 2 hanya akan mengeluarkan 200 ton.
Untuk menghindari penalti yang terdiri dari denda dan pajak tambahan, Perusahaan 1 dapat mengganti emisi 100 ton CO2e ekstra dengan membeli kredit dari Perusahaan 2, yang memiliki ruang emisi ekstra karena memproduksi 100 ton karbon lebih sedikit tahun ini daripada yang diizinkan.
Bagaimana cara menghasilkan kredit karbon ?
Banyak jenis bisnis yang berbeda dapat membuat dan menjual kredit karbon dengan mengurangi, menangkap, dan menyimpan emisi melalui proses yang berbeda.
Beberapa jenis proyek penyeimbangan karbon yang paling populer meliputi: (1) Proyek energi terbarukan; (2) Meningkatkan efisiensi energy; (3) Penangkapan dan penyerapan karbon dan metana; (4) Penggunaan lahan dan reboisasi.
Ada negara-negara memiliki kekayaan alam sumber energi terbarukan seperti Brazil, Kanada atau Indonesia yang memiliki banyak danau dan sungai, atau negara seperti Denmark, Jerman dan Belanda juga Indonesia dengan banyak daerah berangin. Untuk negara-negara seperti ini, energi terbarukan menjadi sumber pembangkit listrik yang menarik dan berbiaya rendah, dan mereka sekarang memberikan manfaat tambahan dari penciptaan offset karbon.
Peningkatan efisiensi energi melengkapi proyek energi terbarukan dengan mengurangi kebutuhan energi bangunan dan infrastruktur saat ini. Bahkan perubahan sederhana sehari-hari seperti mengganti lampu rumah tangga dari lampu pijar ke lampu LED dapat bermanfaat bagi lingkungan dengan mengurangi konsumsi daya. Dalam skala yang lebih besar, ini dapat melibatkan hal-hal seperti merenovasi bangunan atau mengoptimalkan proses industri agar lebih efisien, atau mendistribusikan peralatan yang lebih efisien kepada konsumen.
Untuk penangkapan karbon sering terjadi langsung pada sumbernya, seperti dari pabrik kimia atau pembangkit listrik. Sementara injeksi karbon bawah tanah yang ditangkap ini telah digunakan untuk berbagai tujuan seperti peningkatan perolehan minyak selama beberapa dekade, gagasan untuk menyimpan karbon ini dalam jangka panjang, memperlakukannya seperti limbah nuklir, adalah konsep yang lebih baru.
Proyek penggunaan lahan dan reboisasi menggunakan penyerap karbon Alam, pohon dan tanah, untuk menyerap karbon dari atmosfer. Ini termasuk melindungi dan memulihkan hutan tua, menciptakan hutan baru, dan mengelola tanah dengan baik.
Tanaman mengubah CO2 dari atmosfer menjadi bahan organik melalui fotosintesis, yang akhirnya berakhir di tanah sebagai materi tanaman mati. Setelah diserap, tanah yang diperkaya CO2 membantu memulihkan kualitas alami tanah – meningkatkan produksi tanaman sekaligus mengurangi polusi.
Bagaimana perusahaan dapat mengimbangi emisi karbon ?
Ada banyak cara bagi perusahaan untuk mengimbangi emisi karbon. Berikut ini merupakan beberapa praktik populer yang biasanya memenuhi syarat sebagai proyek untuk mengimbangi emisi karbon: (1) Berinvestasi dalam energi terbarukan dengan mendanai proyek pembangkit listrik tenaga angin, hidro, panas bumi, dan tenaga surya, atau beralih ke sumber daya tersebut jika memungkinkan; (2) Meningkatkan efisiensi energi di seluruh dunia, misalnya dengan menyediakan kompor yang lebih efisien bagi mereka yang tinggal di pedesaan atau daerah yang lebih miskin; (3) Menangkap karbon dari atmosfer dan menggunakannya untuk membuat biofuel, yang menjadikannya sumber bahan bakar netral karbon; (4) Mengembalikan biomassa ke tanah sebagai mulsa setelah panen, bukan membuang atau membakar. Praktek ini mengurangi penguapan dari permukaan tanah, yang membantu untuk melestarikan air. Biomassa juga membantu memberi makan mikroba tanah dan cacing tanah, memungkinkan nutrisi untuk siklus dan memperkuat struktur tanah; (5) Mempromosikan pertumbuhan kembali hutan melalui proyek penanaman pohon dan reboisasi; (6) Beralih ke jenis bahan bakar alternatif, seperti biofuel rendah karbon seperti jagung dan etanol dan biodiesel yang diturunkan dari biomassa.


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.