PanganNews.id Jakarta Oleh : Entang Sastraatmadja
Tidak terasa, hampir 2 tahun sergapan Covid 19 telah memporak-porandakan tatanan hidup manusia di muka bumi ini. Semua terjadi dengan sangat mendadak. Tidak seorang pun yang mampu mengantisipasi akan ada nya bencana kemanusiaan sekaliber Covid 19. Kita tidak menduga jutaan manusia di kolong langit ini akan terpapar Covid 19.
Yang lebih menyedihkan, ternyata serangan Virus Corona yang banyak menelan korban nyawa manusia, masih tetap menghantui kehidupan ummat manusia. Hari-hari belakangan ini, kita dihebohkan dengan ditemukan nya varian baru Covid 19, setelah sebelum nya kita diserang varian delta yanf banyak membawa korban nyawa manusia.
Sekali pun varian baru yang disebut Omicron tidak lebih ganas dan mematikan dari varian Delta, namun varian ini diketahui lebih cepat menular dari pada varian Covid-19 sebelum nya. Menghadapi kondisi yang demikian, Pemerintah tampak serius menangani nya. Belajar dari pengalaman, kita tidak boleh kecolongan lagi dalam menghadapi sergapan Covid-19.
Keteledoran kita dalam menyiapkan infrastruktur kesehatan yang memadai dan tenaga kesehatan yang profesional, membuat kita harus berkaca diri sekaligus berterus-terang atas kelemahan dan kekurangan yang dimiliki. Lebih baik membangun kejujuran ketimbang harus melakukan kebohongan publik.
Itu sebab nya, memasuki Hari Natal 2021 dan Tahun Baru 2022, kita harus memberi dukungan penuh kepada Pemerintah yang menerapkan kebijakan cukup ketat terhadap perilaku masyarakat yang tidak ingin menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Kita dukung sikap tegas Pemerintah dalam memerangi penularan Covid 19 ini.
Hal ini penting kita cermati, karena berdasarkan keterangan Pemerintah sendiri, kini telah ditemukan 14 kasus warga masyarakat yang telah terpapar varian Omicron. Kehati-hatian dan kewaspadaan, perlu terus ditempuh, agar kita tidak menyesal di kemudian hari. Covid 19 masih ada disekitar kita.
Kapan-kapan bisa saja varian baru Covid 19 menyergap lagi. Covid 19 seperti nya masih belum menyerah untuk melakukan serangan nya. Kalau kita tidak waspada, boleh jadi Covid 19 dengan varian baru nya itu, bakal memporak-porandakan kembali tatanan kehidupan masyarakat yang sekarang ini telah memperlihatkan perbaikan.
Dihadapkan pada suasana seperti ini Badan Pangan Dunia (FAO) pun langsung menghimbau kepada warga bangsa di jagat raya ini, agar berhati-hati akan terjadi nya krisis pangan, khusus nya yang terkait dengan pemenuhan bahan pangan utama. Himbauan FAO ini betul-betul sangat penting untuk dijadikan percik permenungan bersama.
Ditengarai negara-negara produsen pangan seperti Vietnam, India dan Thailand, pasti akan mendahulukan kepentingan masyarakat nya sendiri ketimbang menerapkan kebijakan ekspor pangan yang selama ini mereka lakukan. Bagi bangsa yang selama ini dikenal sebagai importir pangan, jelas perlu hati-hati menyikapi fenomena yang ada. Termasuk di dalam nya Indonesia.
Solusi terbaik yang dapat kita tempuh adalah dengan langkah memperkokoh ketersediaan pangan di dalam negeri. Produksi dan produktivitas petani di dalam negeri penting untuk terus ditingkatkan. Para petani tidak boleh lagi dibiarkan menghadapi masalah klasik yang seperti nya tidak pernah tertuntaskan.
Pemerintah harus benar-benar mampu memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi tatkala musim tanam tiba. Kelangkaan pupuk tidak boleh lagi terjadi dalam kehidupan para petani. Begitu pun dengan harga pupuk yang melangit, karena ada pernainan oknum-oknum tertentu. Hal ini perlu secepat nya ditangani agar ketahanan pangan tetap kuat dan kokoh.
Kemampuan para petani di dalam negeri dalam meningkatkan produksi pangan utama, khusus nya padi, ternyara bisa diandalkan. Bukti nya untuk tahun 2021, bangsa ini tidak lagi perlu melakukan impor beras, karena produksi dalam negeri mampu mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat. Di masa pandemi Covid 19, para petani padi malah mempertontonkan kehebatan nya.
Mereka tetap bercocok-tanam dan pergi ke sawah untuk menanam padi, untuk memberi makan kita semua. Petani seperti yang tidak gentar menghadapi keganasan Civid 19. Hebat nya, hingga kini tidak terberitakan ada nya klaster petani yang terpapar serangan Covid 19. Fakta menunjukkan Covid 19 lebih banyak menyerang warga perkotaan ketimbang para petani yang umum nya tinggal di perdesaan.
Ketersediaan pangan yang kuat, pasti akan memperkokoh ketahanan pangan. Berbagai bukti yang menggambarkan kemampuan para petani dalam meningkatkan produksi pangan, sehingga mampu "membebaskan" bangsa ini dari hobi impor beras, pada hakekat nya, mengarahkan mind-set kita bahwa kemandirian pangan, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk diwujudkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
Begitu pun dengan kemauan untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Dengan tekad dan daya juang yang tidak mengenal lelah, tentu kita akan mampu meraih nya. Dengan demikian, kita optimis, swasembada, ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan, pada saat nya nanti akan menjadi "trade mark" bangsa kita. Suasana itulah yang perlu kita tuju. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.