Langsung ke konten
PANGANNEWS.ID

1 Kunci Dan 4 Pintu Sukses Di Pertanian Singkong Bagi Petani Milenial

Bagikan
Foto : Ahmad Suryanto (Widyaiswara Pertanian di Balai Pelatihan Pertanian Lampung).
Foto : Ahmad Suryanto (Widyaiswara Pertanian di Balai Pelatihan Pertanian Lampung).

PanganNews.id Jakarta - Oleh Ahmad Suryanto

(Widyaiswara Pertanian di Balai Pelatihan Pertanian Lampung)

Beberapa tahun lalu, menjadi petani bagi sebagian kaum muda mungkin tak terlalu dianggap keren dan menjanjikan. Kini seiring dengan modernisasi teknologi pertanian dan gencarnya sosialisi bahwa bertani akan mendatangkan manfaat dan kebaikan, perlahan tapi pasti minat untuk terjun menjadi petani di kalangan anak-anak muda terus tumbuh. Itu setidaknya terlihat di media sosial banyak tumbuh komunitas-komunitas petani dan peternak dalam kumpulan peminat pertanian pada komoditas tertentu. Ada komunitas petani singkong, komunitas petani kakao, komunitas peternak ayam kampung, peternak kambing, dan lain-lain, yang penggeraknya adalah anak-anak muda.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan paparan kepada petani muda milenial yang berminat berkecimpung pada komoditas ubi kayu atau juga biasa dikenal singkong.

Mungkin banyak yang belum memahami bahwa komoditas singkong adalah komoditas industri penting dunia. Industri pangan maupun non pangan banyak membutuhkan bahan baku berasal dari singkong, terutama dalam bentuk tepung pati singkong yang biasa disebut Tapioka. Tapioka diperlukan pada berbagai macam industri. Dalam industri skala besar tapioka diperlukan pada produksi tekstil, kertas, gula cair (HFS), asam cuka, gula rendah kalori (sorbitol), etanol, dan lain sebagainya. Belakangan mulai tren bioplastik, itu pun bahan banyak digunakan baku dari tapioka. Tapioka juga diproyeksikan untuk produksi etanol sebagai bahan bakar. Seiring penelitian, di masa depan, bukan musthil bahan bakar berbahan baku tapioka ini akan menjadi murah dan efesien. 

Pada idustri kecil, tapioka diperlukan sebagai bahan baku kerupuk, pempek dan anek kue tradisional dan makanan rumahan. 

Selain tapioka,rbasis singkong yang kini mulai tumbuh adalah produk Mocaf (modified cassava flours) yang secara perlahan terus berkembang menjadi produk industri alternatif yang digunakan sebagai bahan baku makanan yang selama ini menggunakan bahan dari gandum (terigu) impor, seperti aneka mie, kukis, brownis, dan lain sebagainya. Produk tepung bumbu yang kini banyak beredar juga merupakan produk yang dihasilkan dari singkong diproses dari gaplek kering modofikasi.

Selain berbagai produk di atas, dalam skala skala besar singkong juga digunakan dalam industri pakan ternak ternak dalam bentuk chips atau gaplek.

Selain umbinya sebagai produk utama, limbah yang dihasilkan dari tanaman dan proses industri singkong, nyaris tidak ada yang terbuang dan menghasilkan manfaat yang tidak kecil. Daun dan batang singkong kini banyak digunakan sebagai pakan ternak sapi dan kambing atau domba. Demikian juga dengan kulit dan nnggok dari indusri tapioka, selain digunakan sebagai pakan, onggok dengan kualitas anyak digunakan sebagai bahan pengisi kecap, saus dan lain sebagainya.

Intinya, dari uraian di atas, penulis ingin menegaskan bahwa singkong adalah komoditas penting yang pasarya terbuka dan ini prospek untuk digarap oleh para petani milenial. Bagi petani milenial yang telah dan atau baru akan serius terjun ke komoditas ini, ada beberapa saran yang mungkin layak diperhatikan. Penulis menyebutnya dengan 4 pintu dan 1 kunci untuk sukses bertani ubi kayu bagi para milenial. Para milenal bisa memanfaatkan beberapa satu atau beberapa pintu untuk sukses di pertanian singkong. Tapi kesemuanya kuncinya tetap sama.

Secara singkat, 4 pintu dan 1 kunci tersebut diuraikan sebagai berikut.

Untuk bisa sukses sebagai petani ubi kayu, pintu pertama yang bisa dipilih milenial adalah pintu dari sisi bidadaya. Dari sisi ini, seorang petani milenial haruslah mampu melakukan inovasi agar bisa menghasilkan produksi singkong yang optimal dari lahan. Semakin banyak produksi, maka banyak yang bisa dijual menghsilkan uang. Dalam proses budidaya ini pengetahuan tentang kesuburan tanah, varietas, dan handling panen menjadi sesuatu yang harus dikuasai petani milenial.

Berikutnya, pintu kedua yang bisa menjadi jalan sukses bagi petani milenial adalah dengan memanfaatkan peluang mengelola pertanian ubi kayu secara terpadu (integrated farming). Sebagaiman telah disinggung pada uraian di atas, bahwa pertanian ubi kayu menghasilkan berbagai biomassa yang bisa mendatangkan cuan jika dikeloa dengan baik. Peluang cuan tersebut adalah dengan cara melibatkan peternakan, khususnya sapi, kambing, dan domba. Jadi bagi milenial bisa masuk dalam usaha peternakan dengan memanfaatkan peluang biomassa yang dihasilkan dari proses budidaya dan industri yang berkembang di sekitar. Dengan memanfaatkan limbah berupa daun dan batang dari tanaman singkong, juga onggok dari pabrik tapioka yang bisa dibeli dengan murah, kita bisa mengisi gudang-gudang kita dengan pakan bermutu untuk sapi atau kambing dan domba kita. Selanjutnya, dari ternak kita bisa menghasilkan pupuk padat dan pupuk cair yag bisa dijual untuk menyuburkan lahan budidaya singkong. Selain itu biogas juga bisa dihasilkan dari kotoran ternak sehingga bisa menggantikan gas yang selama ini selalu dibeli untuk memasak.

Pengetahuan tentang ternak, pakan, pengolahan pupuk, dan biogas mutlka diperlukan bagi milenial yang ingin memasuki pintu sukses kedua ini.

Adapun pintu sukses ketiga, bagi milenial yang ingin sukses di pertanian singkong adalah dengan memanfaatkan peluang hilirisasi. Kabar baik untuk milenial dari peluang hilirisasi ini adalah bahwa produk pangan berbasis singkong telah ter-branding sedemikian rupa sebagai pangan sehat. Panagn berbasis singkong diyakini sebagai pangan yang ramah untuk orang-orang yang menerapkan diet kalori, diabetesi (penderita penyakit gula/ diabetes), dan aneka penyakit degeneratif, termasuk yang ingin menghindari makanan ber-gluten, khususnya penderita autis. 

Beranjak dari branding makanan sehat ini akan memberi peluang kepada para milenial untuk memproduksi dan memasarkan pangan berbasis singkong, sseperti tepug mocaf, mie, aneka cake, kukis, dan beraneka macam olahan pangan tradisional berbasis singkong. Dengan memanfaatkan kekuatan media sosial dan pemasaran digital, modal brand olahan singkong sebagai makanan sehat akan dapat dikembangkan sedemikian rupa. Telah banyak yang sukes memulai usaha di sektor hilir singkong ini, sebut saja Riza Azumaridho Azra asal Banjar Negara yang telah mengorbitkan Mocaf ke pasar global. Kita juga mengenal Mie Lethek di Yogjakarta yang di-branding ulang oleh Pak Subeno dengan merke Mie Resik Cap Dokar yang pasarnya merambah kemana-mana.

Masih banyak lagi orang-orang telah bergerak dan sukses di olahan singkong yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Yang jelas, dengan jumlah penduduk yang besar, peluang pasar olahan singkong sangat terbuka. Tinggal bagaimana petani milenial kreatif memanfaatkan peluang ini dengan mencontoh para pendahulu yang telah memulai. Jika pun ingin masuk ke produksi tapioka yang pasarnya sudah dikuasai para pengusaha besar, jika bisa bermitra dengan baik, peluang terjun kesini masih terbuka lebar. Pengetahuan dan ilmu tentang seluk beluk produk bebasis singkong menjadi seuatu penting dikuasai dalam hal ini.

Pintu keempat atau terakhir, menurut penulis, untuk sukses “bermain singkong” bagi para milenial adalah bermain pada “penyedia sarana dan fasilitator pemasaran hasil panen petani”. Dalam konteks ini, ada banyak hal yang bisa digarap mulai penyediaan pupuk, penyediaan bibit ternak, penyediaan sewa bajak traktor, sewa sarana angkutan truk, hingga menjadi pengumpul produk umbi hasil panen petani. Kabar baiknya, “bermain melalui pintu” ini, kita bisa memulainya dengan sekedar berperan sebagai broker. 

Dari keempat pintu di atas sebagaimana diuraikan di atas, satu kunci penting yang wajib dikusai oleh para milenial adalah ilmu ledership, ilmu kepemimpinan. Dengan mengusai ilmu ini seorang milenial tahu arah dan tujuan dia bekerja karena ada vivi dan misi yang sedang dia bangun. Dengan ilmu ini seorang milenial juga akan mengetahui bagaimana mengorganisir sumber daya demi tujuan yang dia perjuangkan. Dengan ilmu leadership seorang milenial juga mampu mengkomunikasikan dengan baik kepentingannya kepada para pihak. 

Atas dasar di atas, penulis menilai bahwa ilmu leadership itu sifatnya mutlak harus dikuasai oleh milenial yang akan terjun ke dunia usaha, meskipun dalam hal memulai usaha tidaklah perlu setelah mumpuni baru akan memulai usaha. Yang tepat adalah, ilmu leadership terus diasah sembari memulai dan menjalankan usaha. Sebab ilmu leadership itu konteksnya aplikasi. Penguasaan aneka teori leadership sma sekali tak ada gunaya tanpa diuji dalam praktik. Dan pada saat memulai usaha itulah implementasi secara langsung dalam praktik bisa terlihat menjadi sesuatu yang riil. Lalu belajar untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu menjadi tuntutan yang harus terus dilakukan. 

Dengan kemampuan leadeship yang baik, peluang bagi milenial untuk sukse saat terjun ke bisnis berbasis komoditas singkong tentu menjadi lebih terbuka. Bisnis komoditas singkong itu basisinya pertanian rakyat, melibatkan banyak pihak. Tanpa kemampuan leadership, akan sulit untuk eksis bertahan di bisnis ini. Wallahu a’lam***

Ditulis olehPangannews.id

pangannews

Lihat Semua

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

PANGANNEWS.ID

Jelajahi kanal