PanganNews.id Jakarta - Oleh : Entang Sastraatmadja
Ada pertanyaan penting yang menuntut kepada kita untuk menjawabnya. Pertanyaan itu berbunyi apakah para petani di negeri ini bahagia ? Jawabannya, tentu bisa ya atau tidak. Tergantung dari sisi mana kita menjawabnya. Hanya, kalau saja kita mau jujur, diukur dari sisi manapun, sebagian besar petani di Tanah Merdeka, dijamin 100 %, mereka belum pantas dikatakan sudah hidup bahagia.
Petani padi berlahan sempit yang biasa divonis sebagai "petani gurem", dengan rata-rata kepemilikan lahan sawah sekitar 0,25 hektar atau petani yang sama sekali tidak memiliki lahan sawah disebut sebagai "petani buruh", memang memiliki kualitas kebidupan yang berbeda dibandingkan dengan petani berlahan luas yang dikatakan sebagai "petani kaya" alias tuan tanah.
Bahagia sendiri sulit untuk disamakan. Sebuah keluarga petani yang sederhana, jelas akan lebih bahagia ketimbang keluarga pejabat tinggi yang kena OTT KPK dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin. Dengan kata lain, bisa juga dikatakan kebahagiaan seseorang itu, tidak ditentukan oleh harta kekayaan yang dipunyainya, namun lebih ditentukan oleh kebersihan hatinya dalam melakoni kehidupan kesehariannya.
Keluarga petani berlahan sempit, sangat tidak mungkin memiliki mobil sekelas Toyota Alphard yang harganya mencapai milyaran rupiah. Tidak mungkin pula akan dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri. Namun, bagi pejabat tinggi yang terkena OTT, soal mobil Toyota Alphard memang menjadi salah satu kendaraan dinas sehari-hari. Tidak jarang putera-puterinya pun bersekolah di luar negeri.
Harta kekayaan yang melimpah tapi didapatkan secara tidak halal tidak menjamin hidupnya bahagia. Terlebih-lebih jika dirinya sudah di OTT KPK. Apa artinya Toyota Alphard yang dikendarainya, bila ujung-ujungnya harus mendekam di hotel pordeo ? Suasana ini, jelas berbeda dengan kehidupan keluarga petani diatas. Sekalipun hidup apa adanya, namun mereka dapat bebas menghirup udara segar dan tidak dikerangkeng jeruji besi.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, profesi menjadi petani padi, sepertinya mulai tidak menarik bagi kaum muda untuk menggelutinya. Dunia pertanian dipersepsikan sebagai profesi yang tidak menjanjikan bagi masa depan. Terlebih-lebih di sisi hulu. Orang Jawa Barat menyebut anak muda sekarang tidak mau lagi untuk "bobolokot" (kotor-kotoran). Tapi, kalau di sisi hilir, terekam masih banyak kaum muda yang mau berkiprah di dalamnya.
Suasana kehidupan saat ini, dimana tengah tumbuh subur budaya hedonis dan gaya hidup bangsa yang semskin sofistikasi, membuat sektor pertanian di sisi hulu tidak mampu menarik animo kaum muda untuk terjun menggelutinya. Ketertarikan kaum muda untuk turun ke sawah, menjadi soal tersendiri bagi masa depan budidaya padi di negeri ini. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan produksi padi jika regenerasi petani padi tidak berjalan dengan baik ?
Jadi, siapa yang akan menggantikan para petani padi, yang kini tampak sudah pada sepuh ? Bila kaum muda perdesaan sendiri enggan menggelutinya, jangan harap kaum muda perkotaan bakalan mau menggantikannya. Kalau kaum muda perdesaan, ramai-ramai exodus dari desa mereka pergi ke kota, jangan mimpi jika kaum muda perkotaan mau beramai-ramai ke desa untuk jadi petani.
Jujur harus diakui, kondisi perdesaan hari ini, memang masih tidak menarik untuk dijadikan ajang kehidupan. Magnet perkotaan sangat susah digantikan oleh kondisi perdesaan yang serba terbatas. Kegemerlapan dan keramaian perkotaan menjadi lebih menarik sekaligus menggairahkan bagi kaum muda ketimbang siasana kegelapan dan kesepian yang ada di perdesaan.
Dihadapkan pada keadaan yang demikian, tentu kita berharap agar Pemerintah mampu mencarikan solusi terbaiknya agar kaum muda di negeri ini, kembali tertarik untuk menggeluti dunia pertanian padi. Bangsa ini butuh torobosan cerdas supaya kaum muda tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan pertanian tanaman padi. Itu sebabnya, regenerasi petani padi menjadi sangat penting untuk digarap secara serius.
Alih generasi petani padi yang sekarang terkesan mandeg, sudah saatnya diperhatikan penanganan nya secara sungguh-sungguh lagi. Salah satu problem yang patut kita carikan jawabannya adalah mengapa kaum muda perdesaan menjadi tidak tertarik untuk tetap tinggal di desa dan berprofesi sebagai petani padi ? Ada apa sebetulnya dengan usahatani padi saat ini khususnya yang berkaitan dengan aspek hulu nya sendiri ?
Jujur yang dibutuhkan para petani padi secara leseluruhan adalah perlunya jaminan harga dari Pemerintah terhadap hasil produksi petani. Ini penting, karena apalah artinya ptoduksi padi yang meningkat, jika harga jualnya anjlog di saat panen, karena harga pasar dimainkan oleh bandar dan tengkulak. Sebagai orang yang tidak memiliki "bargaining posisioning", wajar kalau para petani hanya mampu menggigit jari.
Selama ini, Pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah dan Beras. Diberlakukannya HPP pada intinya ingin melindungi petani agat jerih payahnya selama ini benar-benar dihormati dengan harga jual yang wajar. Tiga tahun terakhir , harga pasar memang selalu diatas HPP, sehingga kita jarang mendengar keluhan petani. Persoalannya bagaimana kalau harga pasar berada di bawah HPP ? Siapa dan bagaimana para petani padi akan dibela ?
Lebih dari pada itu, penting dipertanyakan apakah HPP yang dipatok selama ini sudah senafas dengan aspirasi petani ? Atau tidak, dimana HPP yang ditetapkan Pemerintah masih terlampau rendah, sehingga perlu dinaikan. Lalu, apa pertimbangannya selama 3 tahun ini Pemerintah tidak berusaha untuk menaiklan HPP seperti yang sering diusulkan banyak pihak ? Soal ini tentu perlu dijawab dan jangan sampai mengambang terkendali.
Jaminan harga yang menggiurkan, boleh jadi akan menarik minat kaum muda untuk menekuni lagi profesi petani. Ketidak-pastian harga di saat panen raya padi berlangsung, membuat para petani padi jadi kecewa. Rasa kecewa ini dirasakan juga oleh kaum muda perdesaan yang orang tua mereka umumnya petani padi. Coba kalau kita mampu merubah kondisi ini, dijamin minat untuk menjadi petani skan tumbuh lebih semarak lagi. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT).


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.