Sabtu, 29 April 2023 10:00 WIB
PanganNews.id, Jakarta - Kisah inspiratif tentang pertanian kini datang dari seorang warga Nahdlatul Ulama (NU), Yuanas. Ia berhasil mengembangkan pertanian di Jepang.
Tak seperti banyak orang, Yuanas datang ke Negeri Sakura itu memang diniatkan untuk bertani. Ia menetap di sana bersama istrinya hingga saat ini sudah menggarap 22 hektar lahan di Mito City, Ibaraki Ken dan mampu menghasilkan omzet miliaran per tahunnya.
Dikutip dari nuonline.com, Yuanas awalnya, bertemu dengan istrinya, Ichisawa Chikako saat berada di Bali, lalu muncullah niat pengurus Masjid NU At-Taqwa di Koga Ibaraki itu untuk menikahi dan menetap di Jepang. Kemudian ia menggeluti bidang pertanian.
“Alhamdulillah dengan omzet sekitar 30 Juta Yen (Rp3,5 miliar) per tahun. Ada sekitar 20 hektar sawah dan 2 hektar ladang ubi jalar yang saya kerjakan bersama sang istri,” tutur Yuanas kepada NU Online, belum lama ini.
Pria asal Lumajang itu, ternyata sudah memiliki ilmu bertani sebelum ia menetap di Jepang. Ia pelajari ilmu pertanian sewaktu kecil, saat ikut bersama kakek dan pamannya ke sawah.
Saat di Jepang, awalnya ia bekerja di salah satu perusahaan Jepang yang memproduksi alat-alat pertanian dan menjadi perancang di salah satu showroom-nya selama 3 tahun.
"Dari situ saya menangkap bahwa ada peluang besar di bidang pertanian. Kemudian sekitar 6 tahun yang lalu saya memberanikan diri terjun di dunia pertanian,” terang Yuanas.
Dia menjelaskan bahwa produk pertaniannya itu sangat mudah untuk dijual tanpa ada kendala. Hasil tanaman padi dijual ke Jepang Agrycultural, salah satu koperasi pertanian negara Jepang. Sedangkan tanaman ubi jalar di jual ke pabrik sale ubi.
Meskipun awalnya hanya memiliki sawah setengah hektar saja, namun ia memilih fokus dengan bidang yang dipilihnya, sehingga setiap tahunnya mampu mengembangkan lahannya lebih luas lagi.
“Untuk ke depannya insyaallah saya membutuhkan tenaga lagi karena setiap 2-5 tahun lahan akan bertambah,” ujarnya.
Yuanas tidak ingin kisah suksesnya itu ia rasakan sendiri. Ia ingin membagikan ilmu dan pengalamannya ke Indonesia, sehingga ia benar-benar membutuhkan WNI yang serius ingin menggeluti usaha pertanian.
“Ada yang berbeda sistem pertanian di Indonesia dan di Jepang, dari cara pengelolaan lahan, perawatan tanaman dan penanganan hasil produksi yang mengutamakan kualitas, bukan hanya sekadar kuantitasnya saja,” tututnya.
Di gudang dekat rumahnya, Yuanas memiliki peralatan pertanian yang lengkap untuk mendukung pekerjaannya. Seperti traktor yang dalam 1 hari mampu membajak sawah sekitar 3 hektar.
Selain itu juga memiliki Combine yang dalam 1 hari mampu memanen 3 hektar. Ada juga mesin tanam yang dalam 1 hari mampu menyelesaikan 3 hektar. Serta ada mesin oven padi dan penggilingan yang sehari bisa memproduksi 15-20 ton beras. (egi)
Selasa, 19 Mei 2026 10:40 WIB
Minggu, 17 Mei 2026 11:36 WIB
Sabtu, 16 Mei 2026 12:05 WIB
Kamis, 14 Mei 2026 20:45 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...