PanganNews.id, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengklaim bahwa Program budidaya tambak udang berkelanjutan sistem klaster di Provinsi Aceh yang dilaksanakam Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya terus mengalami trend positif dan kian produktif.
KKP mencatat, sejak diresmikan, klaster tambak udang di Desa Paya Gajah dan Desa Matang Rayeuk, Aceh Timur dan Desa Dagang Setia, Aceh Tamiang, tambak udang ini sudah berhasil memanen udang vaname rata-rata sebanyak 3 siklus setiap tahunnya.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu mengatakan produktivitas tambak udang di Provinsi Aceh memang cukup baik. Hal itu terbukti dalam tiga siklus panen udang vaname yang berhasil dibudidayakan, hasil panennya memuaskan. Rata-rata hasil panen dari klaster tambak tersebut yaitu 80 ton per tahun.
Lanjut Tebe, kluster tambak udang vaname hasil revitalisasi di Provinsi Aceh tersebut dilengkapi dengan kolam produksi, tandon dan kolam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Menurut Tebe, bukan hanya kuantitas udang yang dihasilkan saja yang menjadi tolak ukur produktivitas budidaya udang vaname.
Namun melalui klaster tambak yang sudah dibangun itu juga produksi udang diharapkan bisa berkelanjutan. Disisi lain, pemahaman masyarakat dalam mengelola budidaya udang dengan cara yang baik dan ramah lingkungan dapat meningkat.
Aktivitas klaster tambak udang tersebut, kata Tebe, tidak boleh mencemari lingkungan. Untuk itu masyarakat pengelola tambak terus meningkatkan pengelolaan IPAL yang sudah dibangun, sehingga limbah yang dialirkan kembali ke laut itu tidak membahayakan ekosistem yang ada.
“Peningkatan produktivitas dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan usaha budidaya akan turut berdampak kepada penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya,” jelas Tebe, Senin 19 Juni 2023.
Sementara Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee, Manijo, mengatakan adanya klaster tambak di Provinsi Aceh memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar.
Menurut dia, warga mengaku sangat senang karena sudah diperhatikan oleh pemerintah. Dulunya perhatian yang diberikan ke para pembudidaya sangat minim, namun sekarang ini dampak baiknya dirasa luar biasa. Bahkan di kalangan masyarakat sekitar, klaster tambak ini sudah menjadi trending.
Menurut Manijo, keberadaan klaster tambak juga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Karena selain proses pembangunan maupun pengelolaan, disaat panen juga melibatkan masyarakat sekitar.
Adanya klasterisasi juga menjadi pemicu pertumbuhan kawasan ekonomi lokal berbasis komoditas unggulan budidaya.
Adapun untuk proses produksi udang vaname di klaster tambak udang ini menerapkan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Benih yang digunakan juga yang bisa ditelusuri jejaknya, bebas dari penyakit dan bersertifikat. Sementara, pakan yang dikonsumsi juga yang sudah terdaftar.
Hal tersebut dilakukan karena merupakan bagian dari persyaratan food safety, food security sebagai kualitas ekspor. Dengan begitu Manijo yakin udang yang dihasilkan kualitas dan traceability-nya terus terjamin.
“Singkatnya, teknologi budidaya di tambak klaster sudah sangat spesifik, dimulai dengan penggunaan benur udang yang Specific Pathogen Free (SPF), pemberian pakan udang yang bermutu dan tepat, serta penerapan biosecurity yang ketat juga ketersediaan IPAL yang efektif,” jelas Manijo.
Menurut Manijo, dibandingkan dengan tambak tradisional, tambak klaster ini mempunyai beberapa kelebihan, dari sisi jumlah tebar misalnya tambak klaster memiliki kepadatan yang sangat tinggi mencapai 420.000 ekor per kolam atau 120 ekor per meter persegi. Oleh karenanya, dibutuhkan peralatan untuk pemenuhan kebutuhan oksigen tambak.
Selain itu, budidaya udang dengan sistem klaster ini juga mempunyai keunggulan dalam menekan serangan hama dan penyakit. Karena dalam prakteknya mengimplementasikan biosecurity yang ketat dan terkontrol. Pengelolaanya dilakukan secara integratif dan kolektif, sehingga aspek traceability dan sustainability lebih terjamin.
“Karena tambak klaster ini menggunakan sistem IPAL, jadi Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada kendala. Kondisi lingkungan yang ada di sekitar klaster juga masih sangat baik,” terang dia.
Penulis : Egi Abdul Mugni
Editor: R Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.