Gerakan Ketahanan Pangan dan Peran Petani Milenial Cianjur

Pangannews.id

Rabu, 28 Agustus 2024 10:50 WIB

news
Foto: Ade Mujhiyat, Pegawai Negeri Sipil di Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian RI.

PanganNews.id Cianjur, Oleh: Ade Mujhiyat (Pegawai Negeri Sipil di Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian RI).

Pemerintah Kabupaten Cianjur terus melakukan upaya peningkatan produktivitas pangan dengan melibatkan para petani muda. Pelibatan berbagai kalangan khususnya petani muda yang belum memiliki pekerjaan, diharapkan dapat mendukung program gerakan ketahanan pangan dengan optimal dan dapat menekan angka pengangguran. 

Untuk menunjang ketahanan pangan, Pemkab Cianjur sudah memetakan setiap kecamatan yang cocok guna pengembangan berbagai komoditas pertanian yang akan ditanam, sehingga dapat menghasilkan produk secara maksimal. Pemkab Cianjur juga memfokuskan program ketahanan pangan bersama lintas dinas, dengan melibatkan petani muda di setiap kecamatan. Sehingga program ketahanan pangan yang sudah dicanangkan diharapkan akan menguntungkan warga di setiap kecamatan serta akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

Selain itu, Pemkab Cianjur pun melibatkan seluruh dinas dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menjaga ketahanan pangan. Dengan harapan program tersebut dapat menyelesaikan permasalahan tenaga kerja, pengendalian harga dan semakin meningkatkan perekonomian, yang bermuara kepada naiknya Indeks Pembangunan Manusia.

Sebagai daerah terluas kedua di Jawa Barat, Cianjur memiliki potensi tanah yang subur. Kabupaten Cianjur memiliki 60 ribu hektare lahan pertanian, khususnya sawah yang menghasilkan sekitar 1 juta ton gabah kering. Dari hasil tersebut, 45 persen dikonsumsi warga Cianjur dan 55 persen untuk ketahanan pangan di Jawa Barat. 

Pemkab Cianjur juga melibatkan pemerintah desa untuk membeli gabah petani dari Dana Desa. Sehingga kenaikan harga beras saat musim kemarau dapat ditekan. Karena saat ini, 45 persen hasil panen petani di Cianjur lebih banyak dijual ke luar daerah seperti Jabodetabek. Ketentuan pembelian dari Dana Desa pun harus lebih mahal dari harga tengkulak dan menjual berasnya juga harus lebih murah dari harga pasaran. Sehingga ketahanan pangan di Cianjur setiap tahunnya dapat dilakukan secara kontinyu, termasuk menekan laju inflasi. Yang pastinya menguntungkan petani. 

Pemerintah Kabupaten Cianjur melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten (DTPHPKP) juga berupaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan dengan melaksanakan Gerakan Pangan Nasional. Gerakan ketahanan pangan tersebut digagas guna memberikan pelayanan yang mudah bagi masyarakat. Pemkab menyediakan berbagai kebutuhan pangan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir, dan aneka makanan olahan lainnya, yang biasanya dibutuhkan bagi rumah tangga. Dengan adanya Gerakan Ketahanan Pangan yang diinisiasi tersebut, diharapkan dapat memfasilitasi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok, dengan harga yang lebih terjangkau. 

Adapun untuk ketahanan pangan kedepan, Pemkab Cianjur juga melibatkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD). Karena di desa ada biaya ketahanan pangan 20% yang selama ini dibelanjakan untuk membeli kebutuhan pertanian masyarakat seperti hewani, ayam, kambing, sapi dan lain-lain. Pemkab juga mengintruksikan untuk beli gabah melalui bumdes. Hal ini karena Cianjur merupakan lumbung padi tingkat nasional ke tiga di Jawa Barat. Dengan langkah-langkah tersebut diharapkan ketahanan pangan di Cianjur bisa terus terjaga. Intinya perlu ada pengendalian dalam ketahanan pangan dan jangan sampai ada kepala desa yang membelanjakannya di luar. Termasuk juga para penyuluh diharapkan turut bergabung dalam tim pengendali ketahanan pangan.

Peran Petani Milenial 

Pembangunan pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan yang kuat perlu melibatkan dukungan kalangan milenial dari generasi muda. Upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk melakukan regenerasi petani sekaligus melahirkan pengusaha muda pertanian perlu didukung oleh berbagai kalangan, baik pemerintah maupun swasta. Sehingga akan melahirkan dampak sosial dan ekonomi yang sangat positif bagi masyarakat pertanian Indonesia.

Pemkab Cianjur terus mendorong dan mengajak kalangan generasi muda yang belum bekerja agar ikut bertani dan bergabung dengan petani milenial. Para petani milenial diikutkan dalam kegiatan Milenial Agriculture Forum (MAF). Hal ini sebagai upaya mencari solusi untuk menarik minat para pemuda terjun berwirausaha di bidang pertanian. Dengan menjadikan remitansi sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekosistem Pertanian Pedesaan Tangguh melalui Petani Muda. 

Pemkab Cianjur sangat mendukung para pemuda pedesaan untuk terjun di bidang pertanian, khususnya yang berasal dari latar belakang ekonomi miskin dan rentan miskin. Sehingga mereka dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya serta bisa memanfaatkan peluang bursa kerja dan usaha pada sektor pertanian. Bahkan, Pemkab juga memfasilitasi para pemuda dalam akses pasar, permodalan serta menghasilkan profil SDM pertanian yang profesional, mandiri, berdaya saing dan berjiwa wirausaha.

Keseriusan Pemkab Cianjur dalam membina dan mendorong para generasi muda milenial untuk terjun langsung di bidang pertanian tersebut, telah mendapatkan penghargaan bergengsi dari International Fund For Agriculture Development (IFAD) yang bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dan Youth Entreprenuer and Employment Support Services (YESS). Data petani milenial yang sudah diintervensi pada program regenerasi Petani Milenial di Kabupaten Cianjur melalui Program YESS Kementrian Pertanian berjumlah sebanyak 17.916 orang (94,54%), melalui Program Petani Milenial (Petmil) Jawa Barat sebanyak 675 orang (3,56%), dan melalui Program Petani Milenial Manjur Kabupaten Cianjur sebanyak 360 orang (1,90%), sehingga total ada sebanyak 18.951 orang petani muda milenial di Cianjur. Jumlah Petani Milenial yang cukup bagus dan partisipsi generasi muda yang sangat membanggakan. 

Kesuksesan Pemkab Cianjur dalam mengembangkan sektor pertanian melalui gerakan ketahanan pangan dengan melibatkan peran serta para pemuda milenial tersebut patut dijadikan contoh daerah-daerah lain. Kaum muda milenial sungguh memiliki peran strategis dan kemampuan literasi yang tinggi sebagai SDM potensial yang profesional, mandiri, dan berdaya saing dalam mewujudkan ketahanan pangan. Sehingga dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan dan kemajuan pembangunan pertanian Indonesia yang semakin baik di masa depan. Insya Allah… (*/Adv)


Kolom Komentar

You must login to comment...