Pangannews.id - Puasa intermiten kini semakin populer sebagai metode untuk menjaga kesehatan, namun banyak orang masih salah kaprah soal prinsip dasarnya.
Menurut pelatih kesehatan metabolik, Karan Sarin, keberhasilan puasa intermiten bukan terletak pada pengurangan kalori, melainkan pada pengelolaan kadar insulin dalam tubuh.
Dalam wawancara yang dipublikasikan oleh Hindustan Times, Sarin menyebut puasa intermiten sebagai alat yang ampuh untuk memulihkan kesehatan metabolisme.
Ia menegaskan bahwa fokus utama bukan pada jumlah makanan yang dikurangi, tetapi pada cara tubuh merespons makanan tersebut secara hormonal.
"Gagasan bahwa puasa intermiten berhasil hanya karena kalori yang berkurang sepenuhnya salah. Menghitung kalori adalah pendekatan yang tidak berkelanjutan dan merupakan alasan utama kegagalan puasa atau diet apa pun," ujar Sarin.
Ia menjelaskan bahwa setiap makanan yang dikonsumsi memengaruhi hormon, khususnya insulin, yang berperan penting dalam menentukan apakah tubuh akan menyimpan lemak atau membakarnya.
Menurut Sarin, orang yang mengonsumsi banyak karbohidrat seperti nasi, gandum, dan makanan tinggi gula cenderung memiliki kadar insulin yang tinggi sepanjang hari.
Kondisi ini membuat tubuh terus berada dalam mode penyimpanan energi, memperlambat metabolisme, dan menghentikan pembakaran lemak.
"Insulin yang tinggi berarti tubuh Anda berada dalam mode penyimpanan," katanya.
Sarin mengibaratkan tubuh manusia seperti mobil hibrida yang bisa menggunakan dua jenis bahan bakar, glukosa dan lemak. Saat makan, tubuh menggunakan glukosa untuk energi. Namun, setelah sekitar delapan jam tanpa makanan, tubuh mulai membakar cadangan lemak.
"Meskipun waktu pastinya dapat sedikit berbeda dari orang ke orang, puasa hanyalah memberi tubuh Anda ruang untuk melakukan perubahan ini," jelasnya.
Karena itu, Sarin menyarankan untuk menghindari makanan atau minuman yang bisa meningkatkan kadar gula darah selama periode puasa. Bahkan camilan kecil atau sesendok gula dalam teh dapat mengganggu proses pembakaran lemak.
"Jika Anda menginginkan manfaat puasa, Anda perlu menjaga gula darah tetap stabil selama periode tersebut," tambahnya.
Tips Menjalani Puasa Intermiten
Sarin juga memberikan beberapa kiat agar puasa intermiten bisa dilakukan secara efektif. Ketika rasa lapar datang, penting untuk membedakan antara rasa lapar yang sebenarnya dan kebosanan.
Aktivitas seperti berjalan kaki, mendengarkan musik, atau tidur siang bisa menjadi pengalih perhatian.
Jika rasa lapar tak tertahankan, Sarin merekomendasikan air dengan sedikit garam, kopi hitam, atau teh tawar, tanpa gula dan susu. Setelah berpuasa, ia menyarankan untuk berbuka dengan makanan tinggi protein dan lemak sehat guna menjaga kestabilan gula darah.
"Jika Anda memilih makanan manis atau karbohidrat tinggi, Anda justru akan membuang banyak energi," tuturnya.
Puasa intermiten, menurut Sarin, bukanlah solusi instan, melainkan proses yang menuntut pemahaman dan disiplin. Fokus pada hormon dan metabolisme, bukan sekadar angka kalori, menjadi kunci untuk meraih manfaat kesehatan jangka panjang.
Editor : Adi Permana


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.