Minggu, 19 Juli 2026 19:12 WIB
Pangannews.id - Telur menjadi salah satu lauk yang paling mudah ditemukan di meja makan masyarakat Indonesia. Namun, tak sedikit yang masih bertanya-tanya, mana yang lebih sehat antara telur ceplok dan telur dadar?
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, mengatakan kedua jenis olahan tersebut pada dasarnya memiliki kandungan gizi yang hampir sama. Perbedaan utamanya justru terletak pada cara memasak, terutama banyaknya minyak yang digunakan.
"Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar. Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak," kata Karina, dikutip dari laman IPB University.
Telur dadar umumnya membutuhkan minyak lebih banyak sehingga kandungan lemak dan kalorinya berpotensi lebih tinggi dibandingkan telur ceplok. Kandungan energi juga akan bertambah apabila telur dicampur dengan bahan lain seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang.
Karina menjelaskan, memasak telur justru membuat protein di dalamnya lebih mudah dicerna tubuh. Hal itu terjadi karena panas mengubah struktur protein sehingga penyerapannya menjadi lebih optimal.
"Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen," ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar telur tidak dimasak dengan suhu terlalu tinggi atau terlalu lama. Suhu memasak yang ideal berada pada kisaran 60 hingga 80 derajat Celsius. Jika dipanaskan di atas 150 derajat Celsius, sebagian asam amino dapat rusak sehingga kualitas gizinya berkurang.
Bagi masyarakat yang sedang menjalani program penurunan berat badan, Karina menyarankan memilih metode memasak tanpa minyak, seperti direbus, dikukus, atau dibuat poached egg. Namun, bukan berarti telur ceplok maupun telur dadar harus dihindari.
Menurutnya, kedua menu tersebut tetap bisa menjadi pilihan selama penggunaan minyak dibatasi, misalnya dengan menggunakan wajan antilengket atau minyak semprot.
Karina juga meluruskan anggapan bahwa kuning telur sebaiknya dihindari karena mengandung kolesterol. Padahal, bagian tersebut justru menyimpan berbagai vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Ia menambahkan, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang sehat. Peningkatan kadar kolesterol darah lebih banyak dipengaruhi oleh konsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh dan lemak trans.
"Jadi, masyarakat tidak perlu takut mengonsumsi telur. Yang perlu diperhatikan adalah cara mengolahnya dan tetap menjaga pola makan yang seimbang," kata Karina.
Editor : Adi Permana
Senin, 13 Juli 2026 09:06 WIB
Senin, 15 Juni 2026 12:16 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...