Efek Konflik Iran, Harga Bensin di AS Tembus Rekor Tertinggi Sejak 2022

Pers Pangannews

1 jam yang lalu

news
Efek konflik Iran, harga bensin di AS tembus rekor tertinggi sejak 2022. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Harga bensin di Amerika Serikat (AS) melonjak tajam dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada pasokan energi global.

Melansir Antara, data asosiasi otomobil Amerika, AAA, yang dikutip RIA Novosti menyebutkan harga rata-rata bensin jenis Regular pada Jumat mencapai 4,392 dolar AS per galon atau setara sekitar Rp76.000.

Kenaikan terjadi cukup tajam dalam sehari, yakni lebih dari 9 sen per galon. Dalam beberapa pekan terakhir, lonjakan harga bahkan mencapai 1,41 dolar AS sejak dimulainya operasi militer terhadap Iran.

Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration, bensin jenis Regular merupakan bahan bakar dengan nilai oktan terendah, yakni 87, dibandingkan Midgrade (89–90) dan Premium (91–94).

Lonjakan harga paling tinggi tercatat di negara bagian California. Di wilayah tersebut, harga bensin menembus 6,06 dolar AS per galon atau sekitar Rp104.800. Selain California, empat negara bagian lain, Washington, Oregon, Nevada, dan Hawaii, juga mencatat harga di atas 5 dolar AS per galon.

Sementara itu, hanya 13 negara bagian yang masih mencatat harga di bawah 4 dolar AS per galon. Georgia kini menjadi wilayah dengan harga paling rendah, yakni 3,802 dolar AS per galon, menggantikan Oklahoma.

Kenaikan harga energi ini tidak lepas dari memanasnya konflik di sekitar Iran. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran pada akhir Februari lalu.

Meski sempat terjadi gencatan senjata selama dua pekan pada awal April, upaya perundingan lanjutan belum membuahkan hasil. Situasi semakin rumit setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Eskalasi konflik tersebut berdampak pada terganggunya jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...