14 jam yang lalu
Pangannews.id - Kandungan albumin yang tinggi membuat ikan gabus banyak dicari sebagai makanan pendamping pemulihan pasca operasi. Namun di balik manfaat kesehatannya, ikan air tawar ini menghadapi persoalan lain, yakni pasokan yang masih bergantung pada tangkapan alam dan minimnya budidaya skala besar.
Padahal, ikan gabus dinilai memiliki potensi besar sebagai pangan fungsional atau superfood lokal. Selain kaya protein, ikan ini juga mengandung berbagai nutrisi penting yang bermanfaat bagi kesehatan.
Dosen Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Indun Dewi Puspita, mengatakan kandungan protein ikan gabus lebih tinggi dibandingkan sebagian besar ikan air tawar lainnya. Jika rata-rata ikan mengandung sekitar 20 persen protein, kandungan protein ikan gabus dapat mencapai 23 hingga 25 persen.
“Ikan gabus mungkin bukan ikan yang umum dikonsumsi masyarakat. Memang ikan ini punya segmen pasar tersendiri,” kata Indun, Senin (8/6/2026), dilansir dari laman resmi UGM.
Tingginya kandungan albumin menjadi alasan utama ikan gabus banyak dicari. Albumin merupakan protein yang berperan dalam membantu regenerasi sel, menjaga keseimbangan cairan dalam darah, serta mendukung distribusi berbagai zat gizi di dalam tubuh.
Karena manfaat tersebut, ikan gabus kerap direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh pasien yang sedang menjalani masa pemulihan setelah operasi atau mengalami luka yang membutuhkan proses penyembuhan lebih cepat.
“Biasanya orang-orang mencari albumin, misalnya setelah operasi. Albumin dapat membantu mempercepat regenerasi sel,” ujarnya.
Indun menjelaskan tingginya kadar albumin pada ikan gabus diduga berkaitan dengan habitat hidupnya yang berada di rawa maupun perairan berlumpur dengan kadar oksigen relatif rendah. Kondisi tersebut membuat ikan gabus beradaptasi dengan memproduksi albumin dalam jumlah lebih tinggi.
Selain albumin, ikan gabus juga mengandung vitamin, mineral, serta asam lemak tak jenuh omega-3. Meski kandungan omega-3 pada ikan laut umumnya lebih tinggi, ikan gabus tetap memiliki nilai gizi yang kompetitif dibandingkan sebagian besar ikan air tawar lainnya.
Popularitas ikan gabus sebagai sumber albumin kini turut mendorong berkembangnya berbagai produk ekstrak dan suplemen di pasaran. Meski demikian, Indun menilai konsumsi ikan secara langsung tetap memberikan manfaat yang lebih lengkap.
“Kalau mengonsumsi ikannya langsung, kita bisa mendapatkan nutrisi-nutrisi lainnya. Misalnya ada asam lemak tak jenuh dan berbagai komponen gizi lain yang juga bermanfaat,” katanya.
Dalam pengolahannya, masyarakat disarankan tidak menggunakan suhu yang terlalu tinggi agar kandungan protein dan zat gizi lainnya tidak banyak mengalami kerusakan. Metode memasak seperti dikukus atau dibuat sup dinilai lebih baik dibandingkan menggoreng maupun membakar dalam waktu lama.
Di balik tingginya manfaat kesehatan yang ditawarkan, pemanfaatan ikan gabus masih menghadapi tantangan dari sisi produksi. Berbeda dengan lele atau nila yang telah dibudidayakan secara luas, pasokan ikan gabus hingga kini masih banyak mengandalkan hasil tangkapan dari alam.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri karena meningkatnya permintaan dapat berdampak pada keberlanjutan populasi ikan gabus jika tidak diimbangi pengembangan budidaya yang memadai.
Menurut Indun, peluang pengembangan budidaya ikan gabus masih sangat terbuka, mulai dari teknologi pembenihan, pembesaran hingga produksi skala komersial. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan ikan gabus sekaligus mengurangi tekanan terhadap populasi di habitat alami.
“Memang penting menjaga keberlangsungan ikan ini di alam untuk terus ada. Jangan sampai dieksploitasi terlalu banyak kemudian populasinya hilang,” ujarnya.
Selain budidaya, peluang pengembangan produk olahan ikan gabus juga dinilai masih besar. Selama ini pemanfaatannya masih didominasi konsumsi segar atau ekstrak albumin. Padahal, teknologi pengolahan memungkinkan ikan gabus dikembangkan menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah yang dapat dikonsumsi masyarakat secara lebih luas.
Indun juga menilai edukasi kepada masyarakat perlu terus dilakukan. Menurutnya, bentuk fisik ikan gabus yang berbeda dari ikan konsumsi populer lainnya kemungkinan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat konsumsi.
Padahal, jika ketersediaan bahan baku meningkat dan inovasi produk terus berkembang, ikan gabus berpotensi menjadi sumber protein alternatif yang lebih mudah diterima masyarakat.
“Kalau ketersediaan ikan banyak, teknologi pengolahannya juga bisa mendiversifikasi produk olahan, jumlah konsumsi masyarakat meningkat, alhasil dapat dimanfaatkan secara optimal,” kata Indun.
Ia menambahkan, peningkatan konsumsi ikan secara umum masih menjadi pekerjaan rumah di sejumlah daerah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut dia, masyarakat tidak perlu terpaku pada jenis ikan tertentu karena pada dasarnya seluruh ikan merupakan sumber protein berkualitas.
“Apapun jenis ikannya, semuanya punya kualitas protein yang baik. Jadi bisa mulai menambah menu ikan paling tidak dua kali seminggu agar manfaat gizinya dapat dirasakan,” pungkasnya.
Editor : Adi Permana
Jumat, 05 Juni 2026 13:38 WIB
Kamis, 04 Juni 2026 13:35 WIB
Selasa, 19 Mei 2026 12:35 WIB
Senin, 18 Mei 2026 11:50 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...