Kuda Laut Jadi Alarm Dini Kerusakan Laut dan Turunnya Stok Ikan

Pers Pangannews

6 jam yang lalu

news
Kuda laut. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Menurunnya populasi kuda laut dinilai bukan sekadar persoalan hilangnya satu spesies laut, tetapi juga menjadi tanda memburuknya kesehatan ekosistem pesisir yang menopang kehidupan nelayan dan sumber daya perikanan.

Kepala Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Decky Indrawan Junaedi mengatakan keberadaan kuda laut di kawasan lamun, bakau, dan terumbu karang menunjukkan kondisi lingkungan laut yang masih sehat.

“Dengan kita mengonservasi kuda laut, mengonservasi artinya menjaga, kita melindungi, jangan sampai dia punah, itu sebetulnya secara tidak langsung kita menjaga lingkungannya, termasuk menjaga ikan-ikan yang di sana tetap bisa beranak-pinak,” kata Decky dalam lokakarya bertajuk “Perspektif Masyarakat Pesisir dalam Mendukung Keberlanjutan Kuda Laut di Perikanan Indonesia” di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, penurunan populasi kuda laut dapat menjadi sinyal adanya degradasi lingkungan pesisir yang pada akhirnya memengaruhi stok ikan dan keberlanjutan perikanan masyarakat.

Ia menegaskan konservasi kuda laut tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan peneliti, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat pesisir serta nelayan tradisional yang selama ini hidup berdampingan dengan ekosistem laut.

“Bila si kuda laut ini masih ada, Ibu dan Bapak, ini berarti kondisi lingkungan tempat tinggalnya masih membuat dia betah tinggal di sana, karena memang kondisinya masih baik,” ujarnya.

Decky mengatakan isu maritim, termasuk konservasi dan perikanan, menjadi salah satu fokus riset BRIN. Lembaga tersebut, kata dia, terus bekerja sama dengan kementerian, pemerintah daerah, hingga organisasi nonpemerintah untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut.

Lokakarya itu mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan mitra internasional untuk membahas kondisi ekosistem pesisir serta keberlanjutan pengelolaan kuda laut di Indonesia.

Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Sugeng Nugroho menilai laut bagi nelayan bukan hanya ruang ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan dan budaya yang harus dijaga kelestariannya.

“Laut bagi nelayan bukan sekadar ruang ekonomi, bukan sekadar ruang produksi, tapi laut bagi nelayan merupakan ruang kebudayaan yang harus terus-menerus kita jaga kelestariannya,” kata Sugeng.

Ia menyoroti berbagai ancaman terhadap ekosistem laut, mulai dari eksploitasi sumber daya secara berlebihan hingga penggunaan alat tangkap destruktif yang merusak habitat pesisir seperti terumbu karang dan padang lamun.

Menurut Sugeng, konservasi perlu dilakukan dalam pengertian yang lebih luas dengan melibatkan nelayan tradisional sebagai penjaga ekosistem laut.

“Kegiatan konservasi ini harus dilakukan dalam pengertian luas. Artinya, harus melibatkan para nelayan, karena kita tahu bahwa nelayan tradisional bukan hanya seorang nelayan, juga penjaga laut,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Project Seahorse, Jana McPerson, mengatakan kerja sama internasional tersebut bertujuan mendorong perlindungan spesies kuda laut sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap ancaman yang dihadapi ekosistem laut dan masyarakat pesisir.

“Tujuan saya di Project Seahorse adalah mendorong negara dan komunitas di seluruh dunia untuk mendesain dan mengimplementasikan tindakan untuk melindungi spesies kuda laut, dan memastikan eksplorasi mereka, jika ada, bisa bertahan selama jangka panjang,” kata Jana.

Di sisi lain, perwakilan Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Risris Sudarisman menjelaskan kuda laut termasuk satwa yang masuk Appendix II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Artinya, perdagangan internasionalnya harus diatur agar populasinya di alam tetap terjaga.

“Kuda laut ini masuk kategori Appendix II, di mana perdagangan secara internasional harus diatur supaya keberadaan di alamnya tetap berlanjut,” ujar Risris.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...