15 jam yang lalu
Pangannews.id - Perairan Indonesia menghadapi ancaman baru dari ledakan populasi ikan asing invasif. Jika selama ini ikan sapu-sapu dikenal mendominasi sungai dan danau, kini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti perkembangan ikan cere dan guppy yang disebut semakin sulit dikendalikan.
Spesies asing itu dinilai berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem air tawar sekaligus menekan keberadaan ikan lokal yang menjadi kekayaan biodiversitas Indonesia.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro, mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman ikan air tawar terbesar di dunia. Dari sekitar 15.750 spesies ikan air tawar global, sebanyak 5.114 spesies berada di Indonesia.
Namun, tingginya aktivitas introduksi ikan asing selama puluhan tahun membuat ancaman terhadap spesies lokal terus meningkat.
Data BRIN mencatat sedikitnya terdapat 247 jenis ikan asing di Indonesia. Sekitar 50 jenis di antaranya diduga sudah menyebar di perairan umum dan berkembang secara liar.
“Salah satu contoh paling menonjol adalah ikan sapu-sapu. Ikan yang berasal dari Sungai Amazon ini diduga masuk ke Indonesia pada periode 1970-1980, awalnya sebagai pembersih akuarium. Kini, ikan tersebut telah menyebar luas di berbagai perairan,” kata Gema dalam Media Lounge Discussion (Melodi) di Gedung BJ Habibie, Jakarta.
Menurutnya, ikan invasif memiliki kemampuan beradaptasi tinggi, cepat berkembang biak, dan mampu bertahan karena minim predator alami di habitat baru. Situasi itu membuat spesies lokal kalah bersaing dalam memperebutkan makanan maupun ruang hidup.
BRIN juga menyoroti ikan cere dan guppy yang dahulu sengaja didatangkan untuk membantu pengendalian jentik nyamuk malaria. Alih-alih terkendali, kedua spesies itu kini justru berkembang luas di banyak wilayah.
“Contohnya yaitu ikan guppy dan cere yang dulu didatangkan untuk mengatasi malaria, justru berkembang tidak terkendali,” ujarnya.
Masuknya ikan asing ke Indonesia disebut sebagian besar dipicu aktivitas manusia. Jalurnya beragam, mulai dari perdagangan ikan hias, pelepasan ikan konsumsi, air ballast kapal, hingga kegiatan rekreasi seperti lomba memancing.
Gema menilai ikan sapu-sapu menjadi salah satu contoh spesies yang paling sukses beradaptasi di perairan Indonesia. Meski bukan predator, ikan itu dianggap mengganggu keseimbangan ekosistem karena mendominasi dasar perairan dan bersaing dengan ikan lokal.
“Sebenarnya, ikan sapu-sapu bukan predator, melainkan kompetitor yang kuat. Aktivitasnya di dasar perairan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan,” katanya.
Dampaknya tak hanya dirasakan ekosistem. Keberadaan ikan invasif juga disebut mengurangi hasil tangkapan ikan bernilai ekonomi tinggi yang selama ini menjadi sumber penghasilan masyarakat.
Selain itu, sejumlah penelitian menemukan adanya potensi kandungan logam berat dan bakteri Escherichia coli pada beberapa ikan invasif tertentu.
BRIN mendorong langkah pengendalian dilakukan lebih serius melalui penangkapan rutin, riset siklus reproduksi, restorasi lingkungan, edukasi masyarakat, hingga penguatan aturan terkait introduksi spesies asing.
“Sebagian besar spesies asing masuk karena aktivitas manusia. Tanpa pengelolaan yang baik, mereka dapat menjadi invasif dan mengancam biodiversitas lokal. Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif, melalui penguatan kebijakan, riset, dan peningkatan kesadaran publik,” pungkas Gema.
Editor : Adi Permana
15 jam yang lalu
Jumat, 15 Mei 2026 11:38 WIB
Rabu, 13 Mei 2026 16:48 WIB
Rabu, 13 Mei 2026 15:49 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...