3 jam yang lalu
Pangannews.id - Di tengah ketidakpastian sektor pertanian akibat cuaca ekstrem dan gejolak ekonomi global, subsektor peternakan dinilai menjadi salah satu penopang ekonomi paling stabil di Jawa Tengah.
Karena itu, DPRD Jawa Tengah mendorong balai-balai pembibitan ternak milik pemerintah daerah dioptimalkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi sekaligus sumber baru Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah, Sholeha Kurniawati, menilai selama ini balai pembibitan ternak lebih banyak diposisikan sebagai unit teknis pemerintah. Padahal, dengan dukungan aset lahan dan sumber daya yang dimiliki, balai tersebut berpotensi berkembang menjadi pusat pembibitan atau breeding center yang mampu menghasilkan nilai ekonomi.
"Kunci pertumbuhan ekonomi sektor peternakan itu ada di hulu yaitu pembibitan. Industri besar bisa gurita karena mereka menguasai breeding. Kita punya asetnya, kita punya balainya. Sekarang saatnya mengoptimalkan aset-aset pemprov tersebut agar produktivitasnya maksimal dan menjadi sumber PAD yang mandiri," kata Sholeha, Kamis (18/6/2026).
Dorongan itu muncul seiring kinerja subsektor peternakan yang menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, pertumbuhan subsektor peternakan meningkat secara konsisten dari 2,15 persen pada 2021 menjadi 3,42 persen pada akhir 2025.
Angka tersebut dinilai lebih stabil dibandingkan sejumlah subsektor lain di bidang pertanian. Tanaman pangan, misalnya, sempat mengalami kontraksi hingga minus 0,45 persen pada 2023 akibat dampak El Nino. Sementara sektor kelautan dan perikanan melambat menjadi 2,80 persen pada 2025 karena gangguan rantai pasok dan logistik global.
Menurut anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah, Harun Abdul Khafidz, penguatan sektor peternakan harus dimulai dari pengembangan bibit unggul dan perlindungan plasma nutfah atau kekayaan genetik ternak lokal yang menjadi keunggulan daerah.
Ia mencontohkan Satuan Kerja Pembibitan Ternak Pagerkukuh di Wonosobo yang mampu memanfaatkan potensi susu segar lokal. Dengan populasi 46 ekor sapi di lahan sekitar dua hektare, balai tersebut dapat menghasilkan 150 hingga 180 liter susu segar per hari.
Selain itu, Jawa Tengah juga memiliki sejumlah plasma nutfah ternak yang berpotensi dikembangkan secara ekonomi, seperti Sapi Jabres asal Brebes yang dikenal adaptif dan memiliki tingkat reproduksi baik. Pemerintah daerah juga tengah menjajaki pengembangan pembibitan Ayam Cemani bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Potensi ekonomi di tingkat lokal ini sangat riil. Di Pagerkukuh, dari 46 ekor sapi di atas lahan 2 hektar, mampu memproduksi 150 hingga 180 liter susu segar per hari. Kita juga punya Sapi Jabres di Balai Kaliwungu yang adaptif dan rutin beranak, serta rencana pembibitan Ayam Cemani bekerja sama dengan BRIN. Itu adalah modal ekonomi luar biasa yang melekat pada geografi kita," ujar Harun.
Meski demikian, pengembangan sektor peternakan masih menghadapi sejumlah hambatan. Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah, Muhaimin, menyebut keterbatasan lahan pengembangan dan minimnya fasilitas pendukung pascapanen masih menjadi persoalan utama.
Salah satu kendala yang ditemui adalah kerusakan fasilitas penyimpanan susu yang menghambat distribusi produk ke pasar yang lebih luas. Akibatnya, potensi ekonomi yang seharusnya bisa dinikmati peternak dan daerah belum optimal.
"Kita harus jeli melihat potensi lokal. Sebagai lumbung pangan nasional, kontribusi Jateng tidak boleh hanya bertumpu pada padi tapi juga komoditas hulu peternakan yang bernilai ekonomi tinggi," kata Muhaimin.
Editor : Adi Permana
Kamis, 18 Juni 2026 13:20 WIB
Senin, 15 Juni 2026 12:36 WIB
Selasa, 09 Juni 2026 12:46 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...