Teknologi Kerodong Bikin Panen Bawang Merah Naik Hampir Dua Kali Lipat

Pers Pangannews

17 jam yang lalu

news
Teknologi kerodong bikin panen bawang merah naik hampir dua kali lipat. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan serangkaian teknologi budidaya bawang merah yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan penggunaan pestisida.

Hasil riset yang telah diuji langsung di lahan petani menunjukkan bahwa penerapan teknologi sederhana, seperti penggunaan kerodong hingga pemilihan benih, dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan.

Peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN, Joko Pramono, mengatakan timnya telah melakukan penelitian budidaya bawang merah selama empat tahun terakhir untuk mencari teknik budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Pada tahun pertama, penelitian menunjukkan bahwa ukuran benih menjadi salah satu faktor penentu hasil panen. Umbi berukuran besar menghasilkan produksi lebih tinggi dibandingkan umbi berukuran sedang maupun kecil.

"Karena itu kami merekomendasikan petani memilih benih berupa umbi berukuran besar atau sedang agar produktivitas lebih optimal," kata Joko, dikutip dari laman BRIN.

Memasuki tahun kedua, tim BRIN mengembangkan penggunaan kerodong atau netting house sebagai pelindung tanaman dari serangan hama. Hasilnya, teknologi tersebut mampu memangkas frekuensi penyemprotan pestisida hingga 50 persen.

Tak hanya itu, produktivitas bawang merah juga meningkat tajam, dari rata-rata sekitar 9,4 ton per hektare menjadi 16,6 ton per hektare.

Kerodong juga efektif menekan serangan ulat daun (Spodoptera exigua), sehingga biaya pembelian insektisida dapat dikurangi.

Pada tahun ketiga, peneliti menguji pola tanam tumpangsari bawang merah dengan jagung. Meski mampu mengurangi serangan ulat daun, metode tersebut justru menurunkan hasil panen bawang merah akibat efek naungan dari tanaman jagung.

Berdasarkan hasil itu, BRIN merekomendasikan jagung ditanam sebagai tanaman pembatas di sekeliling lahan, bukan di sela-sela tanaman bawang merah.

Jagung sebaiknya ditanam sedikitnya dua minggu sebelum penanaman bawang merah agar tetap berfungsi sebagai pengendali hama tanpa mengurangi produktivitas.

Sementara pada tahun keempat, penelitian difokuskan pada penerapan solarisasi lahan dan penggunaan biochar. Berdasarkan pengamatan sementara, kedua metode tersebut mampu menekan penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri.

"Kami akan mengevaluasi dampaknya setelah panen yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Agustus 2026," ujar Joko.

Peneliti BRIN lainnya, Rini Murtiningsih, menjelaskan efektivitas kerodong sangat bergantung pada cara pemasangannya. Menurut dia, kerodong harus menutup rapat seluruh pertanaman agar ngengat tidak dapat masuk.

Penggunaan jaring dengan ukuran lubang lebih rapat juga lebih efektif menahan hama berukuran kecil.

Meski membutuhkan investasi awal yang relatif besar, kerodong dapat digunakan hingga enam sampai sepuluh musim tanam apabila dirawat dengan baik.

Karena itu, Rini mengusulkan sistem penyewaan melalui kelompok tani agar teknologi tersebut lebih mudah diakses petani.

Selain itu, ia juga mendorong penerapan irigasi tetes yang dipadukan dengan pemupukan secara efisien untuk meningkatkan produktivitas bawang merah.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN, Asep Kurnia, mengungkapkan hasil penelitian mengenai kondisi tanah di sentra bawang merah Brebes.

Penelitian menemukan residu sejumlah pestisida yang telah lama dilarang masih terdeteksi di dalam tanah. Hampir seluruh lokasi survei juga menunjukkan adanya residu pestisida pada tanaman.

Menurut Asep, temuan tersebut menjadi peringatan bahwa upaya pemulihan kualitas tanah harus menjadi bagian penting dari sistem budidaya bawang merah yang berkelanjutan.

Ia menambahkan, kandungan bahan organik tanah di Brebes masih tergolong rendah sehingga perlu dipulihkan secara bertahap melalui penambahan bahan organik yang telah terfermentasi sempurna serta pengelolaan pH tanah menggunakan dolomit.

Penanggung jawab kegiatan riset, Arlyna Budi Pustika, menjelaskan seluruh rangkaian penelitian dilakukan dalam program riset SLAM ACIAR di Desa Tanjungsari, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Hasil penelitian tersebut disebarluaskan kepada petani, penyuluh, dan pemerintah daerah agar teknologi yang telah terbukti di lapangan dapat diterapkan lebih luas.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...