22 jam yang lalu
Pangannews.id - Wereng batang cokelat masih menjadi salah satu ancaman serius bagi produksi padi. Serangannya bukan hanya merusak tanaman, tetapi juga dapat membawa penyakit virus yang membuat tanaman kerdil hingga mati sebelum menghasilkan panen optimal.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan petani agar tidak menjadikan pestisida sebagai satu-satunya cara untuk menghadapi hama tersebut. Penggunaan insektisida secara berlebihan justru dapat membuat wereng semakin sulit dikendalikan.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN Arlyna Budi Pustika mengatakan perkembangan populasi wereng batang cokelat dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk pola tanam dan cara pengendalian hama yang tidak tepat.
"Perkembangan wereng batang cokelat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari berkurangnya penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penanaman padi secara terus-menerus, penggunaan pestisida yang tidak tepat, pemilihan varietas yang tidak tepat, hingga menurunnya populasi musuh alami akibat terganggunya keseimbangan ekosistem," ujar Arlyna, dikutip dari laman BRIN.
Wereng batang cokelat menjadi persoalan karena kerusakan yang ditimbulkannya dapat berlangsung cepat. Hama ini mengisap cairan tanaman dan pada serangan berat menyebabkan gejala hopperburn, yakni tanaman mengering dan mati.
Selain merusak tanaman secara langsung, wereng batang cokelat juga menjadi vektor penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa.
"Serangan hama tersebut dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, daun menguning, layu, hingga mengalami gejala hopperburn atau mati kering sehingga berpotensi menurunkan hasil panen secara signifikan," jelasnya.
Besarnya dampak serangan terlihat dari potensi kehilangan hasil yang ditimbulkan. Menurut Arlyna, rata-rata kehilangan hasil pertanian akibat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) mencapai sekitar 30 persen dari potensi produksi. Khusus akibat serangan hama, kehilangan hasil berada pada kisaran 20-25 persen.
Dalam kasus wereng batang cokelat, serangan pernah meluas hingga ratusan ribu hektare lahan padi di Indonesia. Pada kondisi tersebut, kehilangan produksi dapat mencapai 1-2 ton gabah per hektare dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah.
Masalahnya, pengendalian yang hanya mengandalkan insektisida dapat menciptakan persoalan baru. Pemakaian secara berlebihan berpotensi mempercepat terbentuknya resistensi sehingga wereng tidak lagi mudah dikendalikan dengan bahan aktif yang sama.
Pola tanam juga ikut menentukan perkembangan hama. Ketika penanaman tidak dilakukan secara serempak, wereng memiliki sumber makanan yang tersedia terus-menerus. Kondisi tersebut membuat siklus populasinya lebih sulit diputus.
Karena itu, BRIN mendorong pengendalian wereng dilakukan secara terpadu. Petani diminta menggabungkan sejumlah metode, mulai dari tanam serempak, rotasi tanaman, penggunaan varietas tahan wereng, pemantauan populasi hingga pemanfaatan musuh alami.
"Langkah tersebut meliputi tanam serempak, rotasi tanaman, penggunaan varietas padi tahan wereng, pemantauan populasi secara berkala, pemanfaatan agensia hayati sedini mungkin seperti Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana, serta penggunaan insektisida kimia hanya sebagai pilihan terakhir ketika populasi hama telah melampaui ambang ekonomi," terangnya.
Menurut Arlyna, pengendalian sejak dini menjadi penting karena populasi wereng yang sudah berkembang dalam jumlah besar jauh lebih sulit ditekan. Petani perlu melakukan pemantauan secara rutin melalui pengamatan langsung maupun menggunakan lampu perangkap.
"Waktu pengendalian menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan. Pemantauan populasi wereng melalui lampu perangkap dan pengamatan langsung di lahan perlu dilakukan secara berkala agar tindakan pengendalian dapat dilakukan sejak awal, sebelum populasi berkembang menjadi generasi berikutnya yang lebih sulit dikendalikan," tambahnya.
Pemilihan varietas juga menjadi salah satu benteng awal. BRIN merekomendasikan sejumlah varietas yang memiliki ketahanan terhadap wereng batang cokelat, antara lain Inpari 47 WBC, Inpari Gemah, Inpari 48 Blas, Inpari Digdaya, dan Inpari 45 Dirgahayu.
Penggunaan varietas tahan diharapkan dapat menekan peluang serangan sejak awal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.
Selain strategi pengendalian di lahan, BRIN juga memperkenalkan teknologi untuk membantu petani mengenali wereng batang cokelat. Tim peneliti mengembangkan YUKE-WBC, atau Program Komputer Pengidentifikasi Wereng Batang Cokelat, yang telah didaftarkan sebagai hak cipta.
Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan deteksi sehingga pengendalian dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Editor : Adi Permana
Kamis, 06 Agustus 2026 12:49 WIB
Kamis, 06 Agustus 2026 12:16 WIB
Selasa, 04 Agustus 2026 11:20 WIB
Senin, 03 Agustus 2026 12:36 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...