15 jam yang lalu
Pangannews.id - Dari ujung timur Indonesia, Papua sedang menapaki babak baru pembangunan pangan nasional. Memasuki 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, transformasi pertanian di Tanah Papua bergerak semakin nyata melalui pengembangan 137.429 hektare kawasan pertanian, penerapan teknologi modern, peningkatan produktivitas dan pendapatan petani, serta tumbuhnya generasi muda Papua sebagai penggerak pertanian di tanahnya sendiri.
Perubahan tersebut menandai hadirnya pembangunan yang tidak hanya berpusat pada peningkatan produksi, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat. Kekayaan lahan dan komoditas lokal Papua kini dikembangkan sebagai sumber kesejahteraan sekaligus kekuatan untuk menopang ketahanan pangan Indonesia.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pembangunan pertanian di Papua dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengembangan lahan, penyediaan sarana produksi dan infrastruktur, modernisasi budidaya, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari luas lahan yang dikembangkan atau volume produksi yang dihasilkan. Ukuran terpenting adalah perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat Papua sebagai pemilik tanah sekaligus pelaku utama pembangunan.
“Program ini dibangun sepenuhnya untuk masyarakat Papua. Yang paling penting bagi kami adalah manfaatnya benar-benar dirasakan rakyat. Faktanya, setelah program berjalan, pendapatan petani di sejumlah wilayah meningkat hingga 300 persen. Bahkan, masyarakat kini justru mengusulkan agar program cetak sawah terus diperluas,” kata Mentan Amran.
Hingga 2026, pemerintah telah mengembangkan 83.030 hektare cetak sawah dan 54.399 hektare optimalisasi lahan di seluruh Tanah Papua. Secara keseluruhan, kawasan pengembangan pertanian tersebut telah mencapai 137.429 hektare.
Papua Selatan menjadi pusat pengembangan terbesar dengan 48.934 hektare cetak sawah dan 53.499 hektare optimalisasi lahan. Pengembangan juga dilakukan di Provinsi Papua seluas 24.248 hektare, Papua Barat Daya 4.675 hektare, Papua Barat 3.373 hektare, dan Papua Pegunungan 2.000 hektare.
Pembangunan tersebut diperkuat melalui dukungan anggaran yang terus meningkat. Dalam dua tahun terakhir, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp5 triliun untuk pembangunan sektor pertanian di Papua.
Khusus untuk Papua Selatan, pada 2026 pemerintah mengalokasikan bantuan senilai Rp1,33 triliun. Anggaran tersebut digunakan untuk pengembangan lahan dan irigasi, penyediaan alat dan mesin pertanian, benih dan pupuk, serta pengembangan subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan.
Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak sekadar membuka lahan baru, tetapi membangun ekosistem pertanian modern yang mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. Ekosistem tersebut diperkuat melalui mekanisasi, brigade pangan, benih unggul, pendampingan petani, serta pembangunan infrastruktur pendukung.
Hasil transformasi mulai terlihat di berbagai wilayah. Di Merauke, indeks pertanaman meningkat dari 1,05 menjadi sekitar 1,82 hingga 2,00. Peningkatan tersebut membuat petani yang sebelumnya rata-rata hanya menanam sekali dalam setahun kini mampu melakukan penanaman hingga dua kali.
Produktivitas padi turut mengalami peningkatan. Jika sebelumnya hasil panen berada pada kisaran tiga ton per hektare, kini produktivitas di sejumlah lokasi telah mencapai empat hingga tujuh ton per hektare. Kenaikan produktivitas itu diikuti bertambahnya luas panen, produksi beras, dan pendapatan petani.
“Di Merauke, indeks pertanaman kini sudah mencapai sekitar dua kali tanam dalam setahun. Produktivitasnya juga terus meningkat. Jika sebelumnya hasil panen berkisar tiga ton per hektare, sekarang di sejumlah lokasi sudah mencapai empat hingga tujuh ton per hektare,” ujar Mentan Amran.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa kemerdekaan dalam konteks pembangunan pangan bukan semata-mata kemampuan menghasilkan komoditas, tetapi juga kemampuan masyarakat mengelola sumber daya, meningkatkan pendapatan, dan menentukan masa depannya di tanah sendiri.
Transformasi pertanian Papua berjalan seiring dengan pemanfaatan teknologi modern. Drone pertanian, rice transplanter, combine harvester, traktor, dan berbagai alat mekanisasi kini digunakan untuk mempercepat pengolahan lahan, penanaman, perawatan tanaman, hingga panen.
Teknologi yang selama ini identik dengan pertanian di negara maju mulai dioperasikan langsung oleh putra-putri Papua. Kehadiran mekanisasi bukan hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga melahirkan profesi baru di kawasan perdesaan, mulai dari operator drone, operator alat dan mesin pertanian, hingga pengelola brigade pangan.
“Kami bangga melihat putra-putri Papua kini menjadi penggerak pertanian modern di daerahnya sendiri. Inilah yang ingin kami bangun, yaitu transfer pengetahuan dan teknologi agar mereka mampu menguasai teknologi pertanian yang telah diterapkan di berbagai negara maju,” kata Mentan Amran.
Penguasaan teknologi oleh masyarakat lokal menjadi fondasi penting agar pembangunan tidak berhenti pada penyaluran bantuan. Teknologi harus dikuasai, dioperasikan, dan dikembangkan oleh masyarakat Papua sehingga manfaat pembangunan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Selain memperkuat infrastruktur dan teknologi, Kementerian Pertanian mendorong regenerasi petani melalui Gerakan Kembali Berkebun yang melibatkan 150 mahasiswa Papua. Gerakan ini mengajak generasi muda memanfaatkan lahan keluarga dan mengembangkan komoditas unggulan sesuai karakter wilayah masing-masing.
Kopi, kakao, pala, sagu, ubi jalar, dan peternakan menjadi bagian dari komoditas yang dapat dikembangkan. Pendekatan tersebut penting karena pembangunan pertanian Papua tidak dapat diseragamkan. Setiap wilayah memiliki kondisi alam, budaya, serta sumber pangan lokal yang berbeda.
“Saya ingin membangun Gerakan Pemuda Tani Papua. Kalau adik-adik mahasiswa punya lahan di kampung, mari kita tanam mulai sekarang. Begitu lulus kuliah, pendapatannya bisa lebih tinggi daripada pegawai,” ujar Mentan Amran.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Kementerian Pertanian menambah bantuan pengembangan kopi seluas 100 hektare bagi kelompok petani muda di Papua Pegunungan. Pemerintah juga menyiapkan bantuan alat pertanian untuk mendukung pengembangan pangan lokal, terutama ubi jalar di Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
“Untuk Papua Pegunungan dan Papua Tengah, kita siapkan bantuan alat pertanian sesuai kebutuhan karena komoditas utamanya adalah ubi. Ini menjadi program khusus untuk memperkuat pengembangan pangan lokal,” kata Mentan Amran.
Pelibatan anak muda menjadi penentu masa depan pertanian Papua. Tanpa regenerasi, pembangunan lahan dan penyediaan teknologi berisiko tidak berkelanjutan.
Karena itu, generasi muda tidak hanya diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai petani, pengusaha, operator teknologi, dan penggerak ekonomi baru di daerahnya.
Memasuki usia ke-81 Republik Indonesia, kemajuan pertanian Papua menjadi gambaran bahwa hasil pembangunan harus menjangkau seluruh wilayah.
Kemerdekaan memperoleh makna yang lebih nyata ketika masyarakat dapat mengelola kekayaan alamnya, menguasai teknologi, memperoleh penghasilan yang lebih baik, dan menjadi pelaku utama pembangunan.
“Negara hadir membangun melalui anggaran pemerintah, tetapi pada akhirnya seluruh hasil pembangunan ini adalah untuk kesejahteraan masyarakat,” tegas Mentan Amran.
Ke depan, Kementerian Pertanian akan melanjutkan pengembangan kawasan pangan, memperkuat infrastruktur dan penerapan teknologi modern, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal, serta mengembangkan komoditas unggulan berbasis potensi dan kearifan lokal.
Dari lahan-lahan pangan di Merauke hingga kebun kopi dan kawasan ubi jalar di wilayah pegunungan, Papua sedang membangun masa depannya melalui pertanian.
Dari timur untuk Indonesia, Papua tidak lagi hanya dipandang sebagai wilayah dengan potensi besar, tetapi tumbuh menjadi kekuatan baru yang ikut menjaga pangan nasional sekaligus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat di tanahnya sendiri.(*/ADV)
5 jam yang lalu
9 jam yang lalu
You must login to comment...
Be the first comment...