11 jam yang lalu
Pangannews.id - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pemuliaan ternak Indonesia memasuki tahap yang lebih presisi.
Seleksi ternak tidak lagi hanya bertumpu pada penampilan fisik dan silsilah, tetapi mulai diperkuat dengan informasi DNA untuk mengetahui potensi genetik ternak sejak lebih dini.
Pengembangan tersebut menjadi pembahasan dalam talkshow Precise Improvement Through Genetic Selection: Membangun Peternakan Indonesia Berbasis Genetik Unggul di ICE BSD City, Tangerang, Kamis (17/9/2026).
Mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Hary Suhada mengatakan peningkatan mutu genetik tidak dapat dikerjakan pemerintah sendiri.
Menurut Hary, teknologi reproduksi, kualitas sumber daya manusia, riset, data, serta keterlibatan dunia usaha harus bergerak bersama agar perbaikan genetik dapat berlangsung lebih cepat dan menghasilkan ternak yang semakin produktif.
“Penguatan genetik tidak bisa dilakukan sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi dengan pelaku usaha genetik, perguruan tinggi, lembaga riset, serta pengembangan teknologi reproduksi seperti transfer embrio untuk mempercepat peningkatan populasi ternak berkualitas,” ujar Hary.
Langkah tersebut sejalan dengan transformasi Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang menuju BEStGen atau Balai Embrio dan Sertifikasi Genomik.
Transformasi itu telah diperkenalkan BET dalam rangkaian ILDEX Indonesia 2026 sebagai bagian dari penguatan teknologi reproduksi dan pemanfaatan informasi genomik.
Kepala BET Cipelang Deasy Zamanti mengatakan perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemampuan Indonesia dalam mengelola sumber daya genetik ternak secara lebih maju.
“Kalau kita tidak melangkah maju, masa kita terus di titik nol? Ini adalah titik awal kita untuk melangkah menjadi lebih maju,” kata Deasy.
Menurut Deasy, pengembangan BEStGen diarahkan untuk memperkuat pengelolaan informasi dan material genetik ternak.
Data tersebut nantinya dapat mendukung seleksi, konservasi plasma nutfah, serta pengembangan ternak yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
BET sendiri telah mulai menerapkan teknologi genomik terhadap populasi ternaknya. Publikasi sektor peternakan pada Juli 2026 mencatat hampir 200 sapi BET telah dipetakan genomnya untuk melihat sejumlah karakter, termasuk potensi produksi, pertumbuhan, daya tahan penyakit, dan adaptasi terhadap panas.
“Genomik ini tidak milik pribadi, ini milik semuanya. BEStGen nanti akan banyak berkolaborasi untuk menelusur, mencari data dan informasi yang membantu kita menyusun tatanan genetik unggul yang kita butuhkan,” ujar Deasy.
Guru Besar Universitas Sebelas Maret Prof. Sigit Prastowo mengatakan salah satu tantangan pemuliaan adalah mengetahui potensi seekor ternak sebelum seluruh performanya terlihat.
Seekor pedet, misalnya, belum dapat menunjukkan secara langsung kemampuan produksi susu, fertilitas, ataupun karakter produktif lainnya ketika baru dilahirkan.
“Ketika kita melihat seekor pedet, kita tidak pernah tahu berapa kemampuan produksinya nanti setelah dia dewasa, kemudian harus bunting dan melahirkan,” ujar Sigit.
Menurut Sigit, informasi genomik memungkinkan potensi genetik diprediksi lebih dini sehingga proses seleksi dapat dilakukan tanpa harus selalu menunggu performa ternak hingga dewasa.
“Sekarang dengan informasi DNA kita bisa memprediksi berapa kemampuan produksi susu dari seekor sapi itu di dalam populasi,” katanya.
Namun, Sigit mengingatkan teknologi genomik bukan berarti pencatatan konvensional menjadi tidak penting. Justru, kualitas prediksi sangat bergantung pada tersedianya data populasi yang baik.
Data silsilah, produksi, reproduksi, kondisi lingkungan, dan informasi DNA perlu diintegrasikan agar keputusan pemuliaan semakin akurat.
“Kalau tidak ada catatan, tidak ada aturan perkawinan, tidak ada informasi yang lain, ketika melihat seekor sapi ini, yang tinggal hanya satu informasi DNA,” ujarnya.
Karena itu, pembangunan reference population dan sistem pencatatan menjadi bagian penting dalam pengembangan seleksi genomik nasional.
Sigit juga menilai percepatan seleksi memiliki nilai ekonomi. Semakin cepat potensi ternak diketahui, semakin awal pula peternak atau pelaku usaha dapat menentukan ternak yang layak dikembangkan.
“Ketika bicara bisnis adalah cost opportunity. Satu hari tidak bunting atau satu hari tidak menghasilkan susu itu sudah satu kerugian,” katanya.
Data Peternak Jadi Fondasi
Penguatan data juga menjadi perhatian Asosiasi Holstein Indonesia (AHI).
Asep Setiaji, dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro yang juga menangani bidang genetic improvement AHI, menekankan perlunya memulai pencatatan ternak Holstein berdasarkan kondisi peternak saat ini, kemudian mengubahnya menjadi sistem digital yang mudah dianalisis. Posisi Asep di UNDIP dan AHI terkonfirmasi pada kanal resmi kedua institusi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal AHI Arya Wicaksana menyampaikan bahwa pengembangan seleksi genomik sapi Holstein perlu diawali dengan inventarisasi dan pemetaan ternak unggul milik anggota.
AHI sendiri menempatkan digitalisasi pencatatan produksi dan reproduksi, inventarisasi genetik, serta analisis genomik sebagai bagian dari program pengembangan sapi Holstein Indonesia.
Pemerhati peternakan Prof. Effendi Ghazali turut menekankan kehati-hatian dalam membaca data genetik dan garis keturunan sebelum menentukan ternak yang akan dikembangkan.
“Kita betul-betul harus hati-hati, betul-betul tahu,” ujar Effendi.
Menurutnya, penelusuran rekam genetik diperlukan agar keputusan pemuliaan tidak hanya mengikuti penampilan ternak, tetapi memiliki dasar informasi yang lebih kuat.
Bagi Kementan, transformasi tersebut bukan sekadar menghadirkan teknologi baru. Yang ingin dibangun adalah sistem pemuliaan berbasis data, yang menghubungkan pencatatan ternak, informasi genomik, teknologi reproduksi, riset, dan kebutuhan peternak.
Dengan sistem tersebut, seleksi dapat dilakukan lebih dini dan lebih terukur, plasma nutfah lokal semakin terlindungi, dan pengembangan bibit unggul dapat dipercepat. (*/ADV)
8 jam yang lalu
11 jam yang lalu
Sabtu, 19 September 2026 17:34 WIB
Sabtu, 19 September 2026 13:13 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...