Kelas Belajar ARM HA-IPB Edisi 4: Dukungan Psikososial Awal adalah Hak Semua Penyintas Bencana

Pers Pangannews

6 jam yang lalu

news
Kelas Belajar ARM HA-IPB edisi ke-4 di Gedung Alumni IPB, Baranangsiang, Kota Bogor, Sabtu (19/9).

Pangannews.id - Layanan dukungan psikososial awal kepada penyintas bencana merupakan layanan penting dan krusial yang perlu disiapkan dengan sungguh-sungguh dan dipahami para pegiat kemanusiaan yang terjun ke lapangan. 

“Dukungan psikososial itu untuk semua orang. Setiap manusia berhak untuk dilindungi dan diberi bantuan. Salah satunya bantuan dukungan psikososial,” ujar dr. Siti Noviyanti, Koordinator Klaster Medis Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Banten yang menjadi narasumber dalam Kelas Belajar ARM HA-IPB edisi ke-4 di Gedung Alumni IPB, Baranangsiang, Kota Bogor, Sabtu (19/9).

Pelatihan ini diikuti 20 peserta dari kalangan pengurus dan relawan Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB), mahasiswa, serta alumni.

Prinsip utama psikososial awal atau PFA (Psychological First Aid) sejatinya cukup sederhana yakni: Hadir, Dengarkan, dan Pahami.

Dalam konteks tanggap darurat bencana (TDB), relawan hadir di tengah para penyintas, mengkaji dan memahami kebutuhan mereka, serta berusaha memenuhinya. 

Dukungan psikososial merupakan serangkaian keterampilan awal yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif stres dan mencegah timbulnya gangguan kesehatan mental yang lebih buruk yang disebabkan oleh bencana atau situasi krisis. 

“Pentingnya dukungan psikososial ditandai dengan dimasukkannya layanan tersebut dalam Buku Pegangan SPHERE, sebuah panduan global yang berisi prinsip-prinsip kemanusiaan dan standar minimum untuk respons tanggap darurat bencana dan konflik,” ujar Agus Susilo JP, Ketua Bidang Manajemen Relawan ARM HA-IPB dan penanggung jawab kegiatan.

Sebagai tenaga medik, dr. Ovi, panggilan akrab Siti Noviyanti, berpengalaman terjun di berbagai operasi TDB antara lain banjir Jabodetabek, tsunami Selat Sunda, gempa Cianjur, hingga banjir Sumatera.

Ia memaparkan bahwa keluhan penyintas tidak hanya terkait soal kesehatan fisik melainkan juga mental.

Banyak yang mengidap gejala psikosomatis, yakni kondisi ketika seseorang mengalami keluhan atau gangguan fisik yang dipicu, dipengaruhi, atau diperparah oleh kondisi mental dan emosional seperti stres, kecemasan, atau depresi.

“Penanganan dasarnya meliputi ketenangan, pemenuhan nutrisi, tidur yang cukup, dan ruang aman untuk bercerita,” jelasnya. 
    
Memenuhi kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan, serta air dan sanitasi/WASH) penyintas sangat menentukan kestabilan psikologis warga.

Menurut dr. Ovi, saat pascabencana, biasanya 2-3  hari pertama ketika penyintas hidup tanpa kepastian akan pemenuhan kebutuhan dasar, risiko disorientasi perilaku/sosial (zombie period) meningkat.

Tak heran jika dalam beberapa kasus terjadi seperti penjarahan dan kekerasan fisik. 
    
Layanan dukungan psikososial awal, lanjut dr. Ovi, tidak selalu membutuhkan logistik mahal. Kehadiran relawan yang konsisten di posko, mendengarkan keluh kesah warga, serta mengajak anak-anak berinteraksi (misalnya dengan kartu UNO, mengaji, fashion show darurat) terbukti efektif menurunkan tingkat depresi penyintas. 

Langkah penting lainnya untuk memastikan pemulihan psikososial komunitas adalah dengan mengaktifkan kembali sarana dan layanan sosial dan publik, misalnya dengan pembersihan dan perbaikan masjid hingga dapat digunakan kembali sebagai tempat ibadah, pembentukan posyandu darurat, dan sebagainya. 
    
Dalam sesi diskusi, dr. Ovi menyarankan ARM HA-IPB untuk mengidentifikasi klaster layanan TDB yang menjadi kompetensinya di masa mendatang.

Ia juga mendorong para relawan agar mengambil sertifikasi keterampilan di bidang kemanusiaan, termasuk bidang dukungan psikososial. (*/ADV) 

 


Kolom Komentar

You must login to comment...