Subsidi Angkut Cabai dari Sumut Tekan Harga di Aceh

Pers Pangannews

1 jam yang lalu

news
Harga cabai merah di Aceh mulai turun. (Foto: iStock)

Pangannews.id - Harga cabai merah di Aceh mulai turun setelah Pemerintah Aceh mengintervensi distribusinya melalui subsidi ongkos angkut. Sebanyak 1,8 ton cabai merah keriting dari Lubukpakam, Sumatera Utara, telah didistribusikan ke Aceh Besar.

Asisten II Setda Aceh T Robby Irza mengatakan, intervensi tersebut ikut menekan harga cabai merah dari sebelumnya sekitar Rp70 ribu per kilogram menjadi Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram.

"Upaya pengendalian ini terus kami lanjutkan, minggu ini fokusnya kita arahkan lebih spesifik sesuai komoditas yang mulai mengalami tekanan," kata Robby.

Menurut dia, hingga 17 September, tambahan distribusi cabai merah keriting melalui skema subsidi ongkos angkut telah mencapai 1,8 ton. Pemerintah Aceh menargetkan intervensi serupa dilakukan di 23 kabupaten/kota.

Untuk tahap awal, Aceh Besar menjadi daerah sasaran karena cabai merah keriting menjadi salah satu komoditas yang memberi andil terhadap inflasi di daerah tersebut.

Pemerintah Aceh juga mendorong pemerintah kabupaten/kota dan BUMD menyediakan distributor lokal di masing-masing daerah. Distributor tersebut nantinya menjadi penerima subsidi ongkos angkut dari Pemerintah Aceh.

Intervensi cabai dilakukan di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas pangan. Berdasarkan pemantauan Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga minggu ketiga September, komoditas yang paling banyak mengalami kenaikan adalah cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, jeruk, dan cabai rawit.

"Yang paling kita cermati adalah cabai merah dan daging ayam ras, karena kenaikannya terjadi di banyak kabupaten/kota," ujarnya.

Untuk cabai merah, andil kenaikan harga tertinggi tercatat di Aceh Selatan sebesar 2,95 persen. Sementara daging ayam ras mencatat andil tertinggi di Aceh Timur sebesar 2,21 persen. Beras juga mencatat andil tertinggi di Aceh Timur sebesar 0,64 persen.

Secara keseluruhan, perubahan IPH tertinggi pada pekan tersebut terjadi di Bireuen sebesar 5,70 persen. Sebaliknya, perubahan IPH terendah tercatat di Aceh Tenggara sebesar minus 0,23 persen.

"Jadi tekanannya ada pada komoditas tertentu dan tidak terjadi secara merata di seluruh Aceh," pungkas Robby.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...