13 jam yang lalu
Pangannew.id - Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi salah satu wilayah yang didorong untuk meningkatkan produktivitas budi daya rumput laut Gracilaria. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama UNDP Indonesia memperkuat pengembangan komoditas tersebut, mulai dari perbaikan tambak dan penyediaan bibit hingga pengolahan hasil.
Pengembangan ini dinilai penting karena peluang pasar rumput laut masih terbuka. Permintaan rumput laut global pada 2029 diproyeksikan mencapai 40–43 juta ton.
Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut terbesar kedua dunia. Produksinya pada 2024 mencapai 9,8 juta ton, dengan Gracilaria menyumbang sekitar 16,5 persen dari produksi di 15 provinsi produsen utama.
Di Jawa Timur, produksi Gracilaria tercatat 31.947 ton. Rumput laut tersebut dibudidayakan melalui sistem polikultur bersama ikan bandeng.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb Haeru Rahayu mengatakan peningkatan produksi perlu diikuti penguatan rantai usaha hingga industri pengolahan.
Menurut dia, potensi Gracilaria tidak hanya terletak pada hasil panen, tetapi juga pada peluang menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi.
“Potensinya tidak berhenti pada produksi. Hulu harus diperkuat, kemudian hilirisasinya juga perlu terus didorong agar muncul investasi dan industri pengolahan yang bisa memberikan nilai tambah lebih besar,” ujar Tebe.
Untuk mendukung pembudidaya, KKP telah menyalurkan sejumlah bantuan, termasuk dua unit ekskavator untuk perbaikan tambak, bibit Gracilaria unggul, benih bandeng, serta dukungan pembiayaan.
Dukungan tersebut selanjutnya diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara produksi pembudidaya dengan industri pengolahan.
Persoalan bibit juga menjadi bagian dari pengembangan. Dua UPT Ditjen Perikanan Budi Daya di Pulau Jawa, yakni BPBAP Situbondo dan BBPBAP Jepara, akan diarahkan mengembangkan teknologi pembibitan Gracilaria berbasis spora.
Teknologi ini sebelumnya telah diterapkan di Balai Perikanan Budi Daya Air Payau Takalar. Pada tahun ini, sekitar 2 ton bibit Gracilaria hasil teknologi spora telah dikirimkan ke Sidoarjo.
Kepala Balai Perikanan Budi Daya Air Payau Takalar Boyun Handoyo berharap bibit tersebut dapat terus diperbanyak sehingga kebutuhan bibit berkualitas bagi pembudidaya dapat dipenuhi dari sumber yang lebih dekat dengan sentra produksi.
“Tahun ini telah dikirimkan sekitar 2 ton bibit Gracilaria hasil teknologi spora ke Sidoarjo. Harapannya bibit ini dapat terus dikembangkan dan diperbanyak sehingga pembudidaya memiliki sumber bibit berkualitas,” kata Boyun.
Resident Representative UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella mengatakan peningkatan nilai ekonomi rumput laut juga bergantung pada perbaikan proses setelah produksi.
Pengelolaan bibit, panen, hingga pengolahan dinilai perlu diperkuat agar manfaat ekonomi yang diterima pembudidaya meningkat.
Menurut Sara, keterlibatan sektor swasta, investor, dan industri dibutuhkan untuk membantu koperasi melakukan diversifikasi produk, memperkuat pengolahan, serta memperluas akses rumput laut Indonesia ke pasar global.
“Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia, dan Sidoarjo relevan dalam potensi besar tersebut. Selanjutnya, hilirisasi perlu diperkuat agar rumput laut dapat menghasilkan lebih banyak produk dan nilai tambah di dalam negeri,” kata Sara.
Editor : Adi Permana
Selasa, 22 September 2026 12:10 WIB
Kamis, 17 September 2026 17:40 WIB
Selasa, 15 September 2026 19:43 WIB
Rabu, 09 September 2026 15:55 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...