15 jam yang lalu
Pangannews.id - Ikan sidat dinilai memiliki kandungan gizi yang tinggi, bahkan disebut lebih kaya omega-3 dibandingkan salmon dan ikan gabus. Namun, tingginya permintaan pasar justru menjadi tantangan bagi keberlanjutan populasi sidat di alam.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, mengatakan sidat memiliki kandungan omega-3 berupa DHA dan EPA yang tinggi. Selain itu, ikan ini juga kaya vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, dan fosfor.
“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” ungkap Gadis, dikutip dari laman BRIN.
Menurutnya, DHA berperan penting dalam perkembangan dan fungsi otak, sedangkan EPA membantu mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan jantung.
Di balik kandungan gizinya, sidat memiliki siklus hidup yang kompleks sehingga rentan terhadap berbagai gangguan. Gadis menjelaskan, sidat termasuk ikan dengan siklus hidup katadromus.
Telur sidat menetas di laut menjadi leptocephalus, yakni larva berbentuk pipih, transparan, menyerupai daun, dan belum memiliki kemampuan berenang.
Larva tersebut kemudian bergerak dari perairan laut dalam menuju estuari. Di kawasan pertemuan air laut dan air tawar itu, larva berubah menjadi sidat kaca atau glass eel sebelum melanjutkan kehidupannya di perairan tawar.
Siklus hidup yang berlangsung di tiga ekosistem, yakni laut, estuari, dan air tawar, membuat sidat menghadapi banyak ancaman. Tekanan penangkapan glass eel untuk memenuhi permintaan pasar menjadi salah satu persoalan yang disoroti.
Selain penangkapan berlebih, perubahan lingkungan muara, gangguan pola migrasi, hingga perubahan musim panen turut memengaruhi ketersediaan pasokan untuk industri.
“Ketersediaan pasokan glass eel ini mengakibatkan harga fluktuatif di lapangan, dari harga tinggi hingga harga terendah. Bahkan, ada kalanya glass eel tidak terserap di pasar industri karena kapasitas hatchery yang sudah tidak dapat menampung,” tutur Gadis.
Untuk menekan eksploitasi terhadap populasi liar, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerbitkan kebijakan pembatasan kuota penangkapan glass eel serta menetapkan ukuran minimal ekspor sidat sebesar 150 gram per ekor.
Kebijakan tersebut sekaligus diarahkan untuk mendorong kegiatan pembesaran sidat di dalam negeri sehingga nilai tambah dapat diperoleh melalui proses produksi domestik.
Namun, penerapannya masih menghadapi sejumlah kendala. Gadis menyebut keterbatasan kapasitas pembesaran dan hatchery, ketergantungan pada pakan impor, serta lemahnya pengawasan dan koordinasi antar pemangku kepentingan menjadi tantangan yang perlu diatasi.
Ia menilai tata kelola ekologi harus menjadi dasar dalam pengembangan industri sidat. Upaya tersebut mencakup penerapan rencana aksi nasional, konservasi berbasis bukti ilmiah, serta perlindungan terhadap struktur dan fungsi alami ekosistem perairan.
Gadis mendorong perubahan pola pemanfaatan sidat, dari sekadar mengekspor bahan mentah menjadi pengembangan produk bernilai tinggi melalui budi daya domestik dan industri pengolahan.
“Transformasi dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen bernilai tinggi, melalui budi daya domestik dan pengembangan industri pengolahan ikan sidat sebagai hilirisasi industri,” ucapnya.
Menurut Gadis, keberlanjutan populasi sidat akan berpengaruh terhadap ketahanan ekologi, sementara pengembangan industri bernilai tinggi dapat memperkuat ketahanan ekonomi.
“Pada akhirnya, pemanfaatan sidat yang bertanggung jawab akan menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga kelestarian laut dan perairan tawar Indonesia sebagai fondasi masa depan bangsa,” tutupnya.
Editor : Adi Permana
Jumat, 02 Oktober 2026 16:05 WIB
Kamis, 01 Oktober 2026 13:47 WIB
Selasa, 29 September 2026 16:54 WIB
Minggu, 27 September 2026 15:54 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...