Cara Sehat Menyantap Menu Lebaran Tanpa Takut Kolesterol Naik

Pers Pangannews

Jumat, 20 Maret 2026 11:15 WIB

news
Cara sehat menyantap menu lebaran tanpa takut kolesterol naik. (Foto : Pangannews.id)

Pangannews.id - Perayaan Lebaran identik dengan hidangan bersantan dan berlemak tinggi. Namun, kebiasaan makan berlebihan tanpa kontrol kerap memicu lonjakan kolesterol, gula darah, hingga asam urat.

Pakar gizi klinik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tirta Prawita Sari, mengingatkan masyarakat tetap bisa menikmati sajian khas Lebaran tanpa harus mengorbankan kesehatan, asalkan cara konsumsi dan pengolahan makanan disiasati dengan tepat.

Menurutnya, langkah paling sederhana dimulai dari dapur. Penggunaan santan kental bisa dikurangi dengan mencampurnya bersama santan encer atau alternatif rendah lemak. Selain itu, bagian berlemak seperti kulit ayam sebaiknya dibuang sebelum dimasak.

Porsi juga menjadi kunci. Untuk hidangan seperti rendang, konsumsi dianjurkan tidak berlebihan. “Pengaturan ini efektif menekan asupan lemak jenuh,” ujar Tirta, dilansir dari Antara.

Selain mengatur komposisi makanan, pola makan juga berpengaruh. Tirta menyarankan agar konsumsi makanan berserat dilakukan lebih dulu sebelum menyantap hidangan utama. Sayuran atau buah seperti alpukat dapat membantu memperlambat penyerapan lemak dan gula dalam tubuh.

Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga kadar kolesterol tetap terkendali, terutama di tengah menu Lebaran yang cenderung tinggi kalori.

Tak hanya itu, aktivitas fisik ringan setelah makan juga berperan besar. Jalan kaki singkat selama 15 hingga 30 menit dinilai cukup membantu menurunkan lonjakan gula darah setelah makan.

Ia menekankan agar masyarakat tidak langsung beristirahat atau duduk terlalu lama setelah makan besar, karena tubuh membutuhkan aktivitas untuk mengolah glukosa secara lebih efektif.

Asupan cairan juga tak boleh diabaikan. Tirta menyarankan konsumsi air putih dalam jumlah cukup setiap hari guna membantu kerja ginjal, termasuk dalam membuang kelebihan garam dan asam urat.

“Indikator sederhana bisa dilihat dari warna urine. Jika jernih atau kuning muda, berarti tubuh terhidrasi dengan baik,” jelasnya.

Di sisi lain, rempah-rempah yang umum digunakan dalam masakan Lebaran justru memiliki manfaat tambahan. Kunyit dan jahe, misalnya, dikenal memiliki efek antiinflamasi yang baik bagi tubuh.

Karena itu, ia menyarankan agar penggunaan rempah tetap dipertahankan dalam proses memasak, dengan catatan tidak diolah menggunakan minyak berlebihan.

Tirta menegaskan, masyarakat tidak perlu menghindari hidangan Lebaran secara ekstrem. Kunci utamanya adalah pengendalian porsi, keseimbangan nutrisi, serta tetap aktif bergerak.

“Dengan perubahan kecil dalam cara memasak dan pola makan, risiko kesehatan bisa ditekan tanpa harus berhenti menikmati makanan khas Lebaran,” pungkasnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...