Tips Cegah “Demam Burung Beo”

Pangannews.id

Selasa, 16 Maret 2021 17:53 WIB

news
Foto : Drh. Pudjiatmoko, Ph.D, Medik Veteriner Ahli Utama Direktorat Kesehatan Hewan

PanganNews.id  Jakarta - Burung beo merupakan jenis burung kicau yang sering dipelihara oleh para penyayang burung. Selain memiliki warna bulu dan bentuk paruh yang indah, burung beo juga memiliki kicauan yang merdu. bahkan burung ini cerdas bisa menirukan suara manusia.  Burung kakatua dijadikan burung kesayangan karena burung ini sangat suka dibelai-belai, gigitannya geli dan berparuh mungil menarik.  Burung parkit banyak disukai orang karena bulunya indah, lembut dan tidak mudah rontok.  Burung-burung ini termasuk keluarga burung parrot atau burung paruh bengkok, bahasa ilmiahnya psittacine.  Namun kita harus berhati-hati ketika bergaul dekat dengan burung-burung ini karena keluarga burung parrot ini dapat terinfeksi bakteri yang disebut Chlamydia psittaci (Klamidia) yang menyebabkan penyakit psittacosis atau “Demam Burung Beo” yang dapat menular ke manusia.  Penyakit infeksi Klamidia dapat menyebabkan pneumonia atau peradangan paru-paru dan dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang serius pada manusia.

Agen Penyebab dan Faktor Risiko                                                                                             

“Demam Burung Beo” disebabkan oleh bakteri Chlamydia psittaci sebagai anggota famili Chlamydiaceae.  Bakteri ini merupakan bakteri intraseluler obligat yang siklus hidupnya di dalam sel hidup.  Berbagai pengamatan klinis telah dilaporkan kasus “Demam Burung Beo” pada manusia, dari subklinis atau muncul gejala ringan kemudian sembuh sendiri.  Tetapi penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan hati.  Penyakit ini bisa fatal apabila tidak diberikan pengobatan yang tepat.  Maka dari itu apabila terjadi peningkatan kasus “Demam Burung Beo” pada manusia harus diperhatikan dengan baik, dilaksanakan deteksi dini dilakukan dengan surveilans kesehatan masyarakat yeng terprogram.  Uji diagnostik menggunakan metoda PCR tetapi harus dilakukan di dalam laboratorium khusus yang mempunyai fasilitas BSL3.

Orang kontak dengan burung menjadi faktor risiko utama penyakit ini.  Risiko terbesar bagi mereka yang terpapar burung melalui kegiatan hobi atau pekerjaan yang berhubungan dengan burung paruh bengkok, seperti pemilik dan penangkar burung, penjual burung kesayangan, karyawan kebun binatang, penangkar burung, dokter hewan, tehnisi laboratorium diagnostik, dan pekerja satwa burung liar.

Gejala klinis pada Burung                                                                                                       

Masa inkubasi infeksi klamidia berkisar tiga hari hingga beberapa minggu.  Tingkat keparahan penyakit mulai dari peradangan saluran pernapasan bagian atas yang ringan hingga dapat menimbulkan kematian.  Keparahan penyakit tergantung pada keganasan strain Klamidia dan status kekebalan tubuh burung.  Gejala klinis demam burung beo ini dapat terlihat jelas, atau tidak spesifik, atau tidak kentara.

Gejala klinis yang terlihat dapat mencakup salah satu atau beberapa gejala sebagai berikut yaitu lesu, anoreksia, bulu tidak rata, konjungtivitis, kotoran mata atau hidung atau tanda-tanda klinis lain yang sesuai dengan penyakit saluran pernapasan bagian atas, diare, dan tanda-tanda penyakit hati seperti ekskresi dalam tinja berwarna hijau sampai dengan kuningkehijauan.  Penurunan reproduksi dan kematian pada saat menetas dapat terjadi pada pembibitan burung.

Burung tersebut memperlihatkan gejala penyakit akut atau kronis atau mati.  Tingkat gejala ini tergantung pada spesies burung, keganasan strain klamidia, jumlah bakteri yang menginfeksi, faktor stres, umur, dan waktu pengobatan.

Surveilans demam burung beo                                                                                             

Meskipun demam burung beo merupakan penyakit yang harus dilaporkan, karena keterbatasan kelengkapan pelaporan memengaruhi pemahaman tentang faktor risiko epidemiologis dan tren kejadian penyakit.  Penyakit demam burung beo pada manusia jarang dilaporkan karena informasi lengkap pasien tidak selalu tersedia.

Sulit dibedakan gejala klinis “Demam Burung Beo” disebabkan oleh C psittaci ini dan radang paru-paru yang disebabkan oleh Chlamydia pneumonia.  Selain itu, infeksi C psittaci mengakibatkan penyakit dengan gejala ringan sehingga tidak dikenali dan tidak dilaporkan ke otoritas kesehatan masyarakat.

Uji diagnostik serologi untuk “Demam Burung Beo” menunjukkan reaksi silang dengan Chlamydia spp lainnya.  Oleh karena itu, laporan klinis di mana hanya serologi digunakan sebagai dasar diagnosis harus dilaksanakan secara cermat.  Untuk meningkatkan kualitas dan kelengkapan data surveilans kesehatan masyarakat, petugas kesehatan masyarakat segera menghubungi otoritas kesehatan masyarakat lebih awal.  Hal itu penting untuk pertimbangan memilih diagnosa yang tepat ketika psittacosis menjadi diagnosa banding untuk pasien yang sedang dievaluasi.  Petugas kesehatan masyarakat diupayakan mengumpulkan informasi kasus secara komprehensif.

Penularan ke Manusia

Sebagian besar infeksi klamidia didapat dari paparan burung parot, meskipun penularan juga telah didokumentasikan dari unggas dan burung yang berkeliaran bebas, termasuk burung merpati, burung pemangsa, dan burung pantai.  Infeksi klamidia pada manusia biasanya terjadi ketika seseorang menghirup bakteri klamidia yang telah beterbangan diudara bercampur debu berasal dari kotoran kering atau sekresi saluran pernapasan burung yang terinfeksi.  Cara paparan lainnya termasuk kontak mulut-dengan-paruh, penanganan bulu dan burung yang terinfeksi.  Karena tidak semua pasien melaporkan berkontak dengan unggas, infeksi klamidia harus dipertimbangkan pada pasien dengan gejala klinisnya.

C psittaci sebagai penyebab radang paru-paru jarang dilaporkan dan berdasarkan penelitian bakteri ini sangat sedikit menimbulkan kasus pneumonia yang memerlukan rawat inap.              C psittaci belum dilaporkan menjadi salah satu infeksi bakteri yang umum didiagnosis pada pasien dengan human immunodeficiency virus (HIV).  Pada saat ini, burung kesayangan dianggap berisiko rendah terhadap kesehatan orang yang mengalami gangguan kekebalan ini.

Penularan “Demam Burung Beo” dari orang ke orang mungkin terjadi tetapi dianggap jarang. Kewaspadaan standar pengendalian infeksi biasa dianggap cukup untuk manajemen medis demam burung pada manusia.  Prosedur isolasi khusus (misalnya, ruang pribadi, aliran udara bertekanan negatif, masker) tidak diperlukan, kecuali terdapat bukti penularan dari orang ke orang.  Saat ini, tidak ada rekomendasi untuk kewaspadaan terhadap tetesan pernapasan yang melayang di udara.  Jika ada bukti penularan dari orang ke orang maka harus segera dilaporkan kepada otoritas kesehatan masyarakat untuk memperoleh panduan lebih lanjut.  Modus penularan potensial lainnya, seperti paparan koloni merpati di perkotaan telah dilaporkan tetapi tampaknya jarang terjadi.

Tanda Gejala klinis

Gejala penyakit dimulai biasanya mengikuti masa inkubasi 5-14 hari, tetapi, secara historis, periode yang lebih lama telah dilaporkan berdasarkan hasil pengujian serologis.  Tingkat keparahan penyakit berkisar dari penyakit ringan, tidak spesifik hingga penyakit sistemik dengan pneumonia berat, penyakit ini jarang menimbulkan kematian.  Sebelum obat antimikroba tersedia, 15% - 20% manusia meninggal akibat demam burung beo pada saluran pernafasan.  Namun, kematian sangat jarang terjadi sejak pengobatan infeksi tersebut menggunakan antibiotik.

Gejala “Demam Burung Beo” biasanya mengalami demam mendadak, menggigil, sakit kepala, lelah, tidak nyaman, dan kurang enak badan, dan nyeri otot.  Batuk nonproduktif biasanya muncul dan dapat disertai dengan kesulitan bernapas atau sesak dada.  Demam tanpa peningkatan denyut nadi, pembesaran limpa, atau ruam nonspesifik kadang-kadang terlihat.  Temuan suara auskultasi abnormal bisa dipertimbangkan sejauh mana telah menyerang paru-paru.

Pada diagnosis banding “Demam Burung Beo”terdapat beberapa penyakit lain yang biasa menimbulkan pneumonia.  Patogen atau bakteri penyebab radang paru-paru yaitu Coxiella burnetii, Histoplasma capsulatum, Mycoplasma pneumoniae, spesies Legionella, C. pneumoniae, dan virus saluran pernapasan seperti influenza.  Infeksi C. psittaci telah dilaporkan mempengaruhi selain organ saluran pernapasan, yang dapat mengakibatkan endokarditis, miokarditis, hepatitis, artritis, keratokonjungtivitis, ensefalitis, dan limfoma adneksa okular.

Diagnosa Penyakit

Penegakan diagnosa berdasarkan gejala klinis dan hasil uji serologis positif menggunakan mikroimunofluoresensi (MIF) dengan sampel serum berpasangan.  Uji dilakukan terhadap spesimen yang benar-benar akut (diperoleh sedekat mungkin waktu timbulnya gejala) dan spesimen pada waktu penyembuhan (idealnya diambil 2-4 minggu kemudian).

Selain itu, jika terapi antimikroba telah dimulai, respons antibodi mungkin tertunda atau berkurang sehingga perlu pengambilan spesimen serum ketiga pada 4-6 minggu setelah pengambilan spesimen akut.  Semua pengujian serologi harus dilakukan secara bersamaan dalam satu laboratorium yang sama untuk mendapatkan hasil yang konsisten.

Meskipun pengujian serologis lebih umum digunakan daripada pengujian molekuler, hasilnya seringkali meragukan dan subjektif dalam interpretasi.  Uji serologi dianggap sebagai pendukung uji lain yang lebih andal, seperti uji berbasis asam nukleat.  Pada masa kini, pengujian molekuler dengan amplifikasi asam nukleat, seperti uji PCR telah meningkat aplikasinya karena keandalan.  Uji PCR dilakukan dalam laboratorium khusus.  Uji ini menggunakan spesimen saluran pernapasan, darah, dan jaringan tubuh.  Selain sangat sensitif dan spesifik untuk C psittaci, uji berbasis asam nukleat tersebut mampu menentukan genotipe. Maka dari itu teknik pengumpulan dan penanganan sampel yang tepat sangat penting untuk mendapatkan hasil pengujian yang akurat.  Laboratorium klinis yang melakukan pengujian ini harus dihubungi langsung untuk tukar informasi penting dalam pengiriman spesimen.  Uji diagnostik harus selalu dilakukan berdasarkan riwayat pasien, gejala klinis, dan respons terhadap pengobatan.

C psittaci dapat diisolasi dari dahak pasien, cairan pleura, atau darah yang menggumpal selama penyakit akut dan sebelum dilakukan pengobatan dengan antimikroba.  Namun, kultur bakteri hanya boleh dilakukan oleh laboratorium khusus yang memiliki fasilitas BSL3.  Sehingga selain terdapat kendala kesulitan teknis mengkultur bakteri ini, juga terdapat masalah keselamatan kerja dalam penanganan material yang mengandung patogen bahaya ini.  Pengujian C psittaci mencakup swab dari spesimen pernapasan untuk pengujian dan kultur.  Sampel ini harus dikirimkan ke laboratorium khusus yang akan mengujinya.  Selain itu, sampel serum berpasangan yang dikumpulkan dengan selang waktu 2-4 minggu, idealnya berjarak 21 hari, harus diuji di laboratorium yang sama pada waktu yang sama.

Antibiotik tetrasiklin merupakan obat pilihan untuk infeksi Klamidia.  Biasanya, penyakit ringan sampai sedang dapat diobati secara oral dengan doksisiklin atau tetrasiklin hidroklorida. Pasien yang sakit parah biasanya memerlukan pengobatan dengan doksisiklin intravena (IV).

Kebanyakan infeksi Klamidia responsif terhadap antibiotik sekitar 1-2 hari, namun bisa kambuh kembali.  Antibiotik makrolida dianggap sebagai obat alternatif terbaik pada pasien yang memiliki kontraindikasi terhadap tetrasiklin.  Antibiotik profilaksis tidak diberikan secara rutin setelah diduga terpapar Klamidia.

Tips mencegah penyebaran penyakit

Pencegahan penyakit “Demam Burung Beo” ini sangat direkomendasikan yang mempunyai manfaat yang besar dan sangat penting untuk dilaksanakan yaitu: (1) Melaksanakan tindakan desinfeksi pada kandang burung; dan (2) Mengarantinakan burung-burung yang baru datang; burung terpapar; dan burung yang sakit.

Tindakan rutin pencegahan penularan penyakit yang berkontribusi pada peningkatan kesehatan atau memberikan manfaat lebih besar daripada kerugiannya yaitu: (1) Memberikan penyuluhan kepada orang yang berisiko dan petugas pelayanan kesehatan demam burung beo; (2) Mengurangi risiko infeksi pada manusia saat merawat unggas yang sakit atau terpapar; (3) Menjaga catatan semua transaksi burung selama setahun untuk membantu identifikasi sumber burung yang terinfeksi; (4) Menghindari mencampur burung dari berbagai sumber; (5) Melakukan tes lab terhadap burung sebelum diangkut kendaraan atau dijual; (6) Menghindari burung berkontak dengan orang umum; (7) Mempraktikkan upaya pencegahan penyakit di peternakan unggas; (8) Mencegah penularan dari unggas terinfeksi dan terpapar; (8) menghindari membeli atau menjual burung bergejala klinis.


Kolom Komentar

You must login to comment...