Jumat, 19 Maret 2021 12:15 WIB
PanganNews.id Jakarta - Tanaman Kenaf termasuk spesies Hibiscus cannabinus yang masih masuk ke dalam famili Malvaceae atau suku Kapas-kapasan. Kenaf merupakan kerabat dekat dari tanaman-tanaman penghasil tekstil dan minyak, seperti kapas, kembang sepatu, okra, rosela, dan tembakau. Bentuk tanaman kenaf ini panjang dengan warna hijau pada batang dan daunnya. Batangnya kadang memiliki duri yang cukup tajam. Tanaman kenaf ini bisa tumbuh hingga tingginya mencapai 3 meter.
Sebagian besar tanaman kenaf berada di dalam air seperti rawa-rawa maka akar yang muncul adalah akar adventif yang pada umumnya ditemukan di atas permukaan tanah. Sebuah jenis akar yang tidak busuk sekalipun digenangi oleh air rawa. Akar semacam inilah yang menjadi alasan mengapa pembudidayaan tanaman kenaf membutuhkan penyiraman yang tinggi. Karena jika tanah berkontur kering justru tanaman bisa mati dan busuk.
Tanaman kenaf memiliki batang yang menjulang ke atas. Ukurannya mencapai 3 bahkan 4 meter dengan duri-duri tajam yang melekat di permukaannya. Untuk diameter batang tidak terlalu besar bahkan tipis. Sebagian besar spesies tanaman kenaf memiliki batang condong dengan warna tunggal. Umumnya warna batang adalah hijau baik untuk tanaman yang masih baru ditanam maupun tanaman yang sudah siap dipanen. Batang tanaman kenaf tidak memiliki cabang. Hanya ada beberapa ranting yang menjadi pengikat daun. Jika dilihat sekilas tanaman ini seperti rumpum tanaman bambu namun ada perbedaan pada buku dan aur-nya.
Daun tanaman kenaf berbentuk lonjong yang sebagian besar berwarna hijau. Pertulangannya tidak terlalu jelas tetapi memiliki tekstur rapi dengan dua tulang cabang yang saling berlawanan. Di bagian sisi daun terlihat bergerigi. Ini terdapat pada kedua sisi dengan jenis gerigi yang runcing di bagian ujung. Di setiap tangkai terdapat lima helai daun dengan posisi satu daun menghadap ke atas, sedang 4 helai sisanya menghadap ke kanan dan kiri.
Kenaf sudah lama diintroduksi ke Indonesia dari India yaitu pada tahun 1904.Lalu dibudidayakan di Indonesia sejak tahun 1980-an. Tanaman kenaf ini saat ini telah tersebar di Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.
Kenaf memiliki keunggulan dapat beradaptasi di berbagai kondisi lahan. Tanaman ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap kondisi cekaman abiotik seperti: genangan air, kekeringan, dan pH tanah yang rendah atau masam.
Manfaat Kenaf
Kenaf ini mirip dengan tanaman kelapa dalam konteks fungsi karena hampir semua bagian tanaman bisa dimanfaatkan untuk bahan baku berbagai industri. Kayu kenaf sangat baik sebagai bahan baku industri particle board atau kayu pabrikan untuk berbagai keperluan seperti furnitur, pintu, jendela, kusen, pelapis dinding rumah dan kerajinan tangan.
Kenaf merupakan salah satu jenis tanaman penghasil serat selain rosela dan yute. Bagian dari tanaman kenaf yang dimanfaatkan untuk industri pada umumnya adalah seratnya. Serat yang dihasilkan dari kulit batangnya. Serat ini mempunyai tekstur lemas, kuat dan mengkilat. Serat yang dihasilkan dari kenaf digunakan untuk bahan tali-temali dan bahan baku karung goni sebagai pengemas produk pertanian seperti beras, gula, kopi, kakao, kopra, lada dan cengkeh.
Serat kenaf nilai jualnya lumayan tinggi dan berprospek bagus. Serat kenaf kerap difungsikan sebagai bahan baku berbagai industri seperti: fibre board, geo-textile, soil remediation, pulp, kertas, tekstil, dan karpet.
Kenaf dijadikan Fiber board yang merupakan jenis kayu olahan yang dibuat untuk menggantikan kayu solid. Fiber board dari kenaf mempunyai ciri serat halus, daya serap air rendah dan mampu meredam suara dan ringan massanya, dan lebih murah daripada bahan-bahan lain. Dengan ciri tersebut Fiber board kenaf menjadi bahan pembuatan interior otomotif seperti pintu mobil, langit-langit, dan dashboard bagian dalam kendaraan. Bahan ini cocok untuk kendaraan karena selain kedap suara juga mengurangi massa pintu hingga 25% sehingga berpotensi menghemat penggunaan bahan bakar.
Daun kenaf mengandung protein kasar 24 %. Kandungan tersebut baik untuk pakan ternak unggas. Biji kenaf juga memiliki kandungan lemak 20 % yang bagus untuk minyak goreng karena banyak mengandung asam lemak tidak jenuh yaitu Oleat dan Linoleat. Ampas biji kenaf digunakan untuk pakan ternak. Jepang dan Amerika Serikat memanfaatkan kenaf selain untuk interior mobil juga menggunakannya untuk alas kandang kuda.
Kenaf Komoditi Ekspor
Indonesia sudah melakukan ekspor kenaf ke Jepang sejak tahun 2010. Jepang merupakan importir utama kenaf dari Indonesia sebagai bahan alas kandang ternak kuda. Permintaan Kenaf asal Kabupaten Lamongan oleh peternak asal Jepang setiap tahunnya terus meningkat. Bahan yang di ekspor adalah serbuk kenaf yang sudah disterilisasi. Jepang memiliki persyaratan tinggi dalam mencegah masuknya penyakit hewan. Jepang memanfaatkan tanaman penghasil serat asal kenaf sebagai bahan untuk alas kandang ternak kuda. Meskipun kenaf merupakan komoditas tumbuhan namun diperlukan sertifikat kesehatan yang dikeluarkan oleh Karantina Pertanian berupa Health Certificate (HC).
Berdasarkan data dari sistem otomasi IQFAST di wilayah kerja Karantina Pertanian Surabaya, ekspor kenaf dari bulan Januari hingga pekan pertama Agustus 2019 sebanyak 76 ton atau senilai dengan Rp. 554 juta. Ini telah mencapai 88,8% dari total ekspor di tahun 2018 yang mencapai 85,5 ton. Kemudian eksportasi kenaf selama semester pertama Tahun 2020 dilakukan 2 kali dengan total volume 13,080 ton senilai lebih dari Rp. 9,53 miliar ke Jepang sebagai alas kandang kuda.
Sebagai salah satu persyaratan masuk pasar Jepang, sebelum diekspor ke Jepang kenaf harus distirilasi terlebih dahulu dengan pemanasan 80oC selama 10 menit. Jepang mempersyaratkan kenaf yang masuk ke Jepang harus bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Rinderpest dan African Swine Fever (ASF). Maka dari itu perlu jaminan kesehatan dan keamanan hewan bagi kenaf berupa Health Certificate (HC).
Permasalahan Budidaya Kenaf
Global Agrotek Nusantara (GAN) merupakan satu-satunya produsen kenaf yang telah diakui secara resmi oleh Jepang. Sistem yang diterapkan oleh PT. GAN adalah sistem kemitraan dengan petani kenaf. Penanaman kenaf 99% ada di Lamongan, Jawa Timur. Data dari Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Lamongan menyebutkan budidaya kenaf semakin menurun. Luas areal kenaf lima tahun terakhir tinggal 500-1000 ha. Menurut Koordinator Wilayah Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan bahwa tahun 2020 panen kenaf memang mengalami penurunan cukup drastis, jumlahnya hingga 40 persen. Hal itu disebabkan luas tanamnya yang berkurang. Pada tahun 2018 luas tanamnya 800 ha, pada tahun 2019 menurun menjadi seluas 400 ha. Padahal pada tahun 1998 luas areal mencapai 1500 ha.
Penyebab utama penurunan luas lahan selain karena perubahan iklim sehingga musim hujan datangnya lebih lambat. Padahal biasanya bulan Februari-Maret banyak yang panen. Selain itu juga akibat lahan untuk kenaf harus berkompetisi dengan tanaman pangan seperti padi dan jagung. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu kebijakan yang mengarahkan teknologi pengembangan kenaf di lahan-lahan sub optimal, seperti lahan kering, lahan PMK (Podsolik Merah Kuning), lahan gambut, lahan pasang surut, dan lahan banjir. Dukungan teknologi yang dapat diterapkan di lahan-lahan marjinal diharapkan budidaya kenaf bisa maju, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani. Upaya harus terus dilakukan oleh pihak-pihak terkait untuk mengembangkan tanaman yang bernilai ekspor tinggi ini.
Senin, 01 Juni 2026 15:48 WIB
Jumat, 29 Mei 2026 22:08 WIB
Sabtu, 23 Mei 2026 13:05 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...