Mi Non-Terigu Mulai Dilirik di Tengah Tingginya Impor Gandum

Pers Pangannews

6 jam yang lalu

news
Tepung jagung. (Foto : Pixabay)

Pangannews.id - Tingginya konsumsi mi instan di Indonesia mulai menjadi perhatian para peneliti pangan nasional. Ketergantungan besar terhadap terigu impor dinilai dapat menjadi ancaman bagi ketahanan pangan, terutama karena gandum belum diproduksi secara masif di dalam negeri.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mendorong pengembangan mi non-terigu berbasis komoditas lokal seperti jagung, sagu, mocaf, hingga tepung beras sebagai alternatif pangan masa depan.

Dilansir dari laman resmi BRIN, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Enny Sholichah, mengatakan Indonesia merupakan negara dengan konsumsi mi instan terbesar kedua di dunia setelah China. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terigu nasional terus meningkat setiap tahun.

Menurut data World Instant Noodles Association (WINA), konsumsi terigu nasional telah mencapai 7,41 juta metrik ton dan sebagian besar digunakan untuk produksi mi. Situasi itu dinilai menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan nasional karena bahan baku gandum masih bergantung pada impor.

“Ini menjadi tantangan ketahanan pangan nasional sekaligus peluang untuk mengembangkan mi non-terigu berbasis bahan lokal,” kata Enny.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki sumber karbohidrat melimpah yang belum dimanfaatkan optimal, mulai dari serealia, umbi-umbian, hingga sagu yang memiliki kandungan pati tinggi.

BRIN kini mengembangkan teknologi pengolahan mi non-terigu dengan memanfaatkan proses gelatinisasi pati untuk menggantikan fungsi gluten pada tepung gandum. Teknologi tersebut dinilai mampu menghasilkan tekstur mi yang tetap kenyal dan mudah diterima konsumen.

Pengembangan mi non-terigu dilakukan menggunakan campuran berbagai bahan lokal seperti jagung, mocaf, tempe, dan tepung beras. Selain mempertahankan tekstur, formulasi tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan nilai gizi dan menekan indeks glikemik produk.

Enny mengatakan tantangan terbesar pengembangan mi non-terigu bukan hanya aspek teknis produksi, tetapi juga penerimaan pasar.

“Kalau hanya satu bahan biasanya rasa kurang diterima konsumen, sehingga perlu dibuat komposit,” ujarnya.

Selain rasa, BRIN juga menaruh perhatian pada kualitas produk seperti ukuran partikel tepung dan tingkat cooking loss atau jumlah padatan yang larut saat direbus. Semakin rendah cooking loss, kualitas mi dinilai semakin baik karena tidak mudah hancur saat dimasak.

Pengembangan teknologi tersebut mulai diarahkan ke tahap hilirisasi melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan sektor industri. Salah satunya dilakukan bersama Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang merupakan daerah penghasil jagung cukup besar.

BRIN juga telah menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan untuk komersialisasi produk mi lokal yang kini dipasarkan dengan merek Mocca Pasta. Program itu disebut ikut membuka peluang pemberdayaan tenaga kerja lokal sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian daerah.

Kepala Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Roni Maryana, mengatakan pengembangan mi non-terigu menunjukkan bahwa riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi mulai diarahkan menjadi inovasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat dan industri.

“Riset harus memberi dampak nyata dan memperkuat kemandirian teknologi nasional,” imbuhnya.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...