PanganNews.id, Magelang - Dibalik pedasnya satu gigitan cabai, tidak melulu pedas yang dirasa. Narasi itu rasanya tepat untuk menggambarkan seorang pemuda di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Namanya Pulung Widi Handoko, pemuda itu kini berusia 27 tahun, seorang sarjana pertanian dari salah satu universitas terbaik di Indonesia yang sukses dari usaha tanaman cabai.
Kisah inspiratif pemuda yang berhasil mengubah pedasnya cabai menjadi manisnya kehidupan itu bisa dibaca dari artikel akan dimuat berjudul pedasnya cabai tak melulu sepedas kehidupan.
Berawal dari kebiasaan kecilnya yang ada di lingkungan pertanian, Pulung Widi yang sudah menginjak usia dewasa kini bisa menghasilkan Rp70 juta setiap kali petik tanaman cabai.
Hidup di keluarga yang bergelut dalam dunia pertanian rupanya membawa berkah tersendiri bagi Pulung Widi. Darah pertanian pada diri beliau telah mengalir dan melekat sejak kecil. Tidak tanggung-tanggung, mulai masa SMA, Pulung Widi sudah terjun langsung untuk mengelola lahan pertanian.
Tidak sampai disitu, semasa duduk di bangku perkuliahan, secara rutin pulang pergi dari Magelang Jogjakarta hanya untuk memastikan lahan yang dikelolanya dapat optimal. Hal tersebut beliau lakukan sampai lulus kuliah.
Total lahan yang digarap sekitar 15 ha dengan sekitar 50 karyawan. Saat ini untuk lahan sekitar 2 ha yang beralamat di kecamatan sawangan ini dapat menghasilkan sekitar 900 kg cabe rawit untuk satu kali petik.
Harga yang didapatkan pun cukup fantastis, yaitu diangka Rp. 80.000 per kg dan tanaman telah memasuki petikan yang ke 20. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah, karena tanaman masih sangat sehat dan buah sangat lebat.
Kondisi lahan
Lahan yang sedang beliau panen ini adalah lahan bekas dari tanaman cabe sebelumnya tanpa dilakukan olah tanah. Hal tersebut beliau lakukan dengan pertimbangan meminimalisir waktu, biaya dan tenaga.
Bermodal dari ilmu pertanian yang beliau dapat semasa duduk dibangku perkuliahan, berbagai teknologi beliau terapkan untuk menghasilkan produksi yang maksimal dengan pengeluaran minimal.
Varietas cabe yang beliau tanam adalah ORI 212 dengan jarak antar lubang tanam adalah 43x45 cm. pemilihan varietas dan jarak tanam beliau sesuaikan dengan musim yang ada.
Variatas tersebut ia pilih karena vigor tanamannya baik, daun atas kecil, kulit buah tebal dan buah arahnya keatas.
Pertimbangan tersebut yang beliau gunakan untuk menghadapi tanaman yang panen dimusim hujan, karena dengan begitu tanaman akan lebih tahan terhadap pathogen penyakit dan penyemprotan menjadi lebih efektif.
Pemupukan dilakukan mengikuti perkembangan tanaman tidak terpatok waktu. Pupuk untuk fase vegetatif yang digunakan adalah NPK yang beliau tambahkan asam humat.
Cara aplikasinya adalah dengan melarutkan kedalam air dan dikocorkan ke lubang tanam. Interval pemupukan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan perkembangan tanaman.
Penyemprotan selama masa vegetatif menggunakan beberapa bahan. MORDENFOL yang memiliki kandungan senyawa magnesium pirofosfat beliau gunakan dengan tujuan mencukupi kebutuhan nutrisi hususnya pada saat masa pertumbuhan dan pembungaan. Dosis yang beliau gunakan sekitar 2 ml/l air.
Sedangkan, VITARON SL ia tambahkan ketika tanaman mengalami gejala seperti daun kriting, kurang normal atau habis terkena serangan hama, tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan unsur mikro tanaman dan mempercepat proses regenerasi sel. Dosisnya sekitar 1-2 ml/l air.
Insektisida dan fungisida selama fase vegetatif beliau sesuaikan dengan kendala yang ada. Seperti penggunaan abamectin dan piridaben untuk jenis kutu-kutuan. Fungisida selama fase vegetatif lebih melihat pada serangan yang muncul, beliau lebih condong menggunakan KOVER WP yang bersifat sebagai mineral pelindung tanaman.
Perawatan fase generative terasa lebih banyak tantangan karena sudah bersamaan dengan musim hujan. Beberapa bahan beliau berikan untuk menjaga tanaman tetap sehat dan dapat berproduksi optimal. Nutrisi yang disarankan adalah KALINET yang memiliki kandungan Fosfat, Kalium, dan Boron.
Formulasi tersebut dirasa sangat cocok dan direkomendasikan ketika tanaman memasuki fase generatif. Dosis untuk setiap liter airnya adalah 2 ml. manfaat yang dirasakan adalah umur panen tanaman lebih cepat, produktivitas tinggi, kulit buah tebal dan berbobot serta daun tanaman tetap bertumbuh sehingga umur produksi lebih lama.
Pestisida untuk meminimalisir tanaman dari serangan pathogen penyakit beliau gunakan fungisida yang bersifat kontak dan sistemik serta ditambah mineral pelindung tanaman. Fungisida yang bersifat kontak beliau gunakan mancozeb dengana dosis 2 g/l.
Bahan aktif Azoksistrobin dan Difenokonazol 1 ml/l beliau tambahkan. Tidak sampai disitu, untuk fungisida masih ditambahkan bahan aktif Simoksanil 1 g/l untuk lebih memperkuat sIstem pertahanan tanaman dari serangan pathogen penyakit. Untuk memperkokoh dan menebalkan dindingsel permukaan tanaman ditambahkan unsur kalsium dengan dosis 2 g/l.
Untuk memaksimalkan proses penyemprotan beliau tambahkan KOVER WP sebagai mineral pelindung tanaman, serta perekat yang memiliki sifat penembus mutlak digunakan terlebih musim hujan. Semua bahan trersebut beliau aplikasikan secara bersamaan dengan interval aplikasi 5 hari 1 kali.
Catatan yang diberikan adalah, ketika menghadapi musim hujan penggunaan pupuk mengandung unsur nitrogen sebisa mungkin ditekan menjadi seminimal mungkin. Pasalnya air hujan sudah mengandung nitrogen.
Pemberian secara berlebih membuat tanaman tumbuh lebih cepat, kurang seimbang dan sekulen (rentan terkena penyakit). Selain itu, apabila nitrogen diaplikasikan ditanah, dapat meningkatkan derajat keasamaan tanah sehingga pathogen penyakit lebih cepat berkembang.
Itulah kisah inspirasi dari seorang sarjana pertanian yang tak pernah malu menjadi petani. Semangat dan kegigihannya perlu kita jadikan motivasi untuk tetap bangga dan tidak malu menjadi petani.
Pasalnya kalua tidak generasi muda, siapa lagai yang mau meneruskan profesi menjadi petani. Seperti kita ketahui, soal pangan adalah tentang hidup dan matinya suatu bangsa.
Video kisah inspiratifnya dapat di saksikan di channel YouTube.
Penulis: Luki
Editor: R Muttaqien


Komentar Pembaca
Sampaikan pendapat dengan santun dan sesuai topik berita.
Masuk untuk ikut berdiskusi.
MasukBelum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.