Jumat, 13 Oktober 2023 19:00 WIB
PanganNews.id, Banyuwangi- Warga Desa Tamanagung menggelar ritual adat tiban dalam upaya memohon hujan dari sang pencipta.
Ketua Panitia Tradisi Tiban, David Gia Ade, menjelaskan bahwa tradisi ini diadakan karena kemarau panjang yang mengancam warga dan mengeringkan sawah. Dalam pernyataannya pada Rabu 4 Oktober 2023 kemarin, David Gia Ade mengungkapkan,
"Karena kemarau sangat panjang dan banyak sawah warga nyaris kekeringan. Terlebih air irigasi mulai surut debitnya."
David juga menjelaskan bahwa tradisi tiban telah tidak digelar selama 15 tahun, tetapi berkat keluhan petani tentang kekeringan, tradisi ini kembali diadakan.
"Tradisi ini sudah 15 tahun tidak digelar. Jadi ada obrolan warga tentang bagaimana tradisi ini digelar kembali, karena musim kemarau," ujarnya.
Setelah musyawarah bersama, warga setuju untuk mengadakan kembali tradisi tiban. "Yang ikut banyak ternyata. Bukan cuma diikuti warga Banyuwangi, juga dari Blitar, dan Jember juga ada,” kata David.
Tradisi ini dinamakan "tiban" yang berasal dari bahasa Jawa, yang artinya tiba-tiba ketiban (kejatuhan), seperti harapan masyarakat terhadap hujan yang tiba-tiba datang dari langit.
David menyebutkan bahwa tradisi ini adalah seperti obat kerinduan bagi warga dan pemuda Desa Tamanagung.
David juga menjelaskan beberapa aturan terkait tradisi tiban, yang mencakup cambukan oleh pria dengan tubuh bertelanjang dada. "Jadi setiap orang memiliki kesempatan mencambuk sebanyak tiga kali hingga mengenai dan melukai tubuh lawan. Kalau melanggar aturan cambukan bisa dikurangi," jelas David.
Namun, peserta dilarang mencambuk bagian kepala dan bawah perut. Cambuk yang digunakan dibuat khusus dari batangan lidi daun aren dan dililit oleh bilah bambu apus, sengaja dibuat untuk memastikan pertarungan di atas arena berjalan sportif dan tidak mengurangi esensi tujuan tradisi meminta hujan.
"Lawan yang menjadi sasaran cambuk, diperkenankan menghindar dengan menangkis atau menjegal serangan," tambah dia.
Salah satu warga Desa Tamanagung yang telah lama terlibat dalam tradisi tiban adalah Ceho. Dia berbagi pengalamannya.
"Tiban ini tradisi yang selalu saya tunggu selama 15 tahun. Alhamdulillah bisa terlaksana kembali. Saya sejak Jumat ikut terus, luka di tubuh ini sudah tidak terasa karena kalau sudah di arena dan mendengar musik, sudah lupa rasa sakitnya.
Menurut Ceho, yang paling penting dalam pertarungan tradisi tiban adalah mental dan fisik yang prima.
"Karena yang dihadapi di arena adalah cambukan pada tubuh tanpa pelindung," katanya.
Dalam tradisi tiban ini, warga berharap agar hujan turun dan mengakhiri kemarau yang panjang yang telah mengancam pertanian dan kehidupan sehari-hari mereka.
Penulis: Ajat Nicko
Editor: R Muttaqien
10 jam yang lalu
Senin, 25 Mei 2026 21:27 WIB
Senin, 25 Mei 2026 20:13 WIB
Senin, 25 Mei 2026 19:54 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...