Kamis, 12 September 2024 20:19 WIB
Pangannews.id - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, mengungkapkan bahwa sampah yang berakhir di perairan Indonesia tidak hanya merusak lingkungan lokal, tetapi juga dapat mencemari benua lain.
Dalam diskusi mengenai kebocoran sampah plastik di laut yang berlangsung di Jakarta pada Rabu (11/9/24), Reza menyoroti masalah serius terkait pengelolaan sampah di Indonesia. Menurutnya, pengelolaan sampah di Indonesia masih jauh dari optimal, dengan sekitar 70 persen sampah plastik yang berakhir di laut berasal dari aktivitas manusia di daratan.
Jenis sampah plastik yang paling banyak ditemukan di perairan Indonesia meliputi plastik sachet, kantong plastik, botol minuman, dan sedotan. Sampah-sampah ini memerlukan waktu ratusan tahun untuk terurai, yang menyebabkan pencemaran laut dan kerusakan habitat biota laut.
Lebih lanjut, Reza menjelaskan bahwa sekitar 10-20 persen sampah dari kegiatan di Indonesia dapat berakhir di perairan internasional, bahkan ada kemungkinan sampah tersebut dapat hanyut hingga ke Afrika Selatan dalam waktu sekitar satu tahun.
“Jadi sampah yang kita impor dalam tanda petik bukan sesuatu yang baik, malah menjadi masalah yang lebih besar,” ujar Reza, seperti dikutip dari Antara.
Wilayah yang paling terdampak oleh kebocoran sampah adalah lingkungan sekitar, termasuk dampak mikroplastik yang dapat terlepas dari sampah tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah terdeteksi pada semua sampel air dan sedimen, serta ditemukan pada berbagai spesies ikan dan kerang yang dikonsumsi masyarakat.
Untuk menangani masalah ini, BRIN sedang meninjau potensi pengelolaan melalui bioremidiasi, yakni penggunaan mikroba untuk mengurangi pencemaran lingkungan. “Kami mencoba mencari mikroba yang paling efektif untuk 'memakan' sampah plastik,” kata Reza.
Selain itu, BRIN juga mengusulkan pengelolaan secara ekoregion dengan memperbanyak fasilitas pengelolaan sampah di daerah-daerah Indonesia, mengingat peran penting pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah.
BRIN terus melakukan penelitian untuk mendeteksi, mengumpulkan, dan mendaur ulang sampah plastik dengan pendekatan teknologi seperti penginderaan jarak jauh, sensor bawah air, dan kecerdasan buatan untuk memetakan sebaran sampah plastik secara lebih akurat.
Data dari Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) menunjukkan penurunan signifikan dalam jumlah sampah plastik yang bocor ke laut, dari 615.675 ton pada 2018 menjadi 359.061 ton pada 2023, atau turun 41,68 persen. Pemerintah menargetkan penurunan sampah plastik di laut sebesar 70 persen hingga tahun 2025.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan dapat mengurangi dampak pencemaran plastik di laut dan melindungi lingkungan serta kesehatan masyarakat.
18 jam yang lalu
Kamis, 04 Juni 2026 13:35 WIB
Selasa, 19 Mei 2026 12:35 WIB
Senin, 18 Mei 2026 11:50 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...