Menggali Keberhasilan Korea Selatan dalam Pengelolaan Limbah Makanan

Pers Pangannews

Selasa, 22 Oktober 2024 08:30 WIB

news
Menggali Keberhasilan Korea Selatan dalam Pengelolaan Limbah Makanan

Pangannews.id - Di tengah urbanisasi dan industrialisasi yang pesat, Korea Selatan telah mengembangkan sistem daur ulang limbah makanan yang menjadi contoh bagi banyak negara.

Yuna Ku, seorang jurnalis BBC Korea yang tinggal di Seoul, membagikan pengalamannya dalam mendaur ulang sisa makanan menggunakan mesin dengan sensor yang tersedia di berbagai titik apartemennya.

“Ini sudah jadi kebiasaan saya,” ungkap Yuna, mengisyaratkan betapa pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengatasi masalah limbah makanan, seperti dikutip dari BBC Indonesia.

Data terbaru dari Sistem Pengelolaan Sampah Nasional menunjukkan bahwa Korea Selatan memproses sekitar 4,56 juta ton sampah makanan setiap tahunnya, dengan 97,5% di antaranya berhasil didaur ulang.

Korea Selatan memulai perjalanannya dalam daur ulang limbah makanan pada tahun 1996, ketika hanya 2,6% dari sampah makanan yang berhasil didaur ulang. Namun, dengan dorongan dari masyarakat dan kebijakan pemerintah yang tegas, sistem ini berkembang pesat.

Pada 2005, pembuangan sampah makanan ke tempat pembuangan akhir dilarang secara hukum, dan pada 2013, sistem pembayaran berdasarkan berat sampah (Weight Food Waste Fee) diterapkan.

Sistem Pembayaran Berbasis Berat

Sistem daur ulang yang ada di Korea Selatan memiliki beberapa metode pembuangan. Masyarakat dapat membeli kantong sampah resmi, menggunakan stiker untuk bisnis makanan, atau memasukkan limbah makanan ke mesin otomatis yang dilengkapi sensor RFID. Biaya untuk limbah makanan dihitung berdasarkan berat, mendorong warga untuk lebih bijak dalam mengelola sisa makanan.

“Menurut saya, sistem ini membuat orang lebih bijak dengan sampah mereka karena kita bisa melihat betapa berat limbah makanan yang kami buang,” kata Yuna.

Denda juga diterapkan bagi mereka yang melanggar aturan, dengan sanksi bagi rumah tangga mencapai US$70 dan untuk bisnis bisa lebih dari 10 juta won.

Pengelolaan yang Efisien dan Berkelanjutan

Sisa makanan yang berhasil didaur ulang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti pakan ternak (49%), pupuk (25%), dan produksi biogas (14%). Namun, Korea Selatan juga menghadapi tantangan, seperti risiko kesehatan hewan akibat penggunaan limbah makanan sebagai pakan. Meski demikian, negara ini menerapkan metode pemanasan dan fermentasi yang ketat untuk memastikan keamanan.

Menurut Profesor Jae-Cheol Jang dari Universitas Nasional Gyeongsang, kesuksesan Korea Selatan dalam pengelolaan limbah makanan dapat menjadi model berharga bagi negara-negara lain.

“Pendekatannya komprehensif, menggabungkan insentif keuangan dengan edukasi publik dan peraturan yang ketat,” jelasnya.

Kerjasama Masyarakat dan Pemerintah

Sistem yang diterapkan di Korea Selatan menunjukkan bahwa pengelolaan limbah makanan yang efektif memerlukan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah. Selain itu, ada baiknya setiap negara menyesuaikan kebijakan berdasarkan konteks lokal dan perilaku masyarakat.

Rosa Rolle, pakar dari FAO, menegaskan pentingnya mengurangi pemborosan makanan di negara-negara yang menghadapi kerawanan pangan. Dengan komitmen yang kuat dan pendekatan yang tepat, Korea Selatan menunjukkan bahwa pengelolaan limbah makanan yang efisien tidak hanya mungkin, tetapi juga dapat memberikan manfaat lingkungan dan sosial yang signifikan.

Editor : Adi Permana

 

 

 

 


Kolom Komentar

You must login to comment...