15 jam yang lalu
Pangannews.id - Menjamurnya warung kopi di Aceh Barat ternyata tidak berbanding lurus dengan perkembangan kebun kopi milik masyarakat. Di tengah tingginya budaya minum kopi, banyak tanaman kopi lokal justru tidak terurus dan hasil panennya belum terserap secara optimal oleh pasar.
Fenomena tersebut menjadi temuan tim peneliti Universitas Teuku Umar (UTU) saat melakukan observasi di Desa Peunaga Cut Ujong dan Ujong Tanoh Darat, Kecamatan Meureubo. Di kawasan itu, para peneliti menemukan jejak lama budidaya kopi yang selama ini nyaris luput dari perhatian.
Di sela-sela pohon karet tua yang ditanam dengan jarak cukup lebar, tumbuh tanaman kopi yang menunjukkan bahwa masyarakat setempat sejak lama telah menerapkan pola tumpang sari. Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kopi pernah menjadi bagian penting dari sistem pertanian masyarakat pesisir Aceh Barat.
Tidak hanya kopi robusta, tim juga menemukan keberadaan kopi liberika yang selama ini kurang dikenal dibandingkan arabika Gayo. Padahal, varietas tersebut tengah mendapat perhatian pasar internasional karena memiliki karakter rasa yang khas.
Kopi liberika bahkan sempat mencuri perhatian dalam ajang UK Brewers Cup Champion di Inggris pada awal 2026. Tren tersebut membuka peluang baru bagi daerah-daerah penghasil liberika, termasuk Aceh Barat.
Hubungan masyarakat Aceh Barat dengan kopi sebenarnya telah terjalin sejak lama. Di Meulaboh, masyarakat masih mengenang sumpah legendaris Pahlawan Nasional Teuku Umar, "Beungoh Singoh Geutanyoe Jep Kupi di Keude Meulaboh Atawa Ulon Akan Syahid" atau "Besok pagi kita akan minum kopi di Kota Meulaboh atau aku akan syahid."
Namun, sejarah panjang itu belum mampu mengangkat posisi kopi lokal menjadi komoditas unggulan daerah.
"Kami melihat ada fenomena yang bertolak belakang. Di satu sisi warung kopi dan konsumsi kopi di Aceh Barat terus tumbuh. Namun di sisi lain banyak tanaman kopi masyarakat yang tidak dimanfaatkan secara optimal karena belum ada pasar dan pengolahan yang mampu menyerap hasil produksi mereka," ujar Dedy Darmansyah, dosen dan peneliti agribisnis UTU, dikutip dari laman resmi Universitas Teuku Umar.
Kondisi tersebut mendorong UTU menggandeng Akademi Komunitas Negeri (AKN) Aceh Barat serta Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Aceh Barat untuk memperkuat rantai nilai kopi lokal melalui Program Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan (PBK) skema Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) 2026.
Fokus program tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperbaiki kualitas pascapanen yang selama ini menjadi salah satu kendala utama.
Dua pelaku usaha kopi lokal, Apon Kupi Aceh dan UD Bubuk Kopi H. Amrin, menjadi mitra awal dalam pengembangan tersebut. Berbagai persoalan yang selama ini dihadapi, mulai dari keterbatasan teknologi pengolahan hingga gangguan pasokan listrik, menjadi sasaran pembenahan.
Salah satu inovasi yang lahir dari program itu adalah pengembangan mesin sangrai berkapasitas besar hasil kolaborasi dosen dan mahasiswa AKN Aceh Barat. Kapasitas mesin yang sebelumnya hanya sekitar 25 kilogram per proses ditingkatkan menjadi 80 hingga 100 kilogram.
"Mesin yang kami kembangkan dapat dioperasikan menggunakan motor listrik, tetapi tetap bisa dijalankan secara manual ketika terjadi pemadaman listrik. Ini merupakan solusi nyata yang lahir dari kondisi lapangan dan kebutuhan pelaku usaha," kata Herdian Saputra, dosen AKN Aceh Barat.
Selain teknologi, pendampingan juga dilakukan pada tahap budidaya dan pascapanen. Petani didorong menerapkan sistem petik merah, memperketat sortasi biji kopi, memperbaiki standar kebersihan pengolahan, hingga mengembangkan kopi robusta fermentasi yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Perubahan tersebut diharapkan mampu mengangkat daya saing kopi Aceh Barat yang selama ini kalah populer dibandingkan sentra kopi lain di Aceh.
Di sisi hilir, strategi pemasaran juga disiapkan melalui pengembangan kemasan baru yang mengangkat identitas budaya lokal dan sejarah perjuangan Teuku Umar. Produk kopi lokal diarahkan untuk masuk ke segmen oleh-oleh premium dan pasar kopi spesialti yang terus tumbuh.
Saat ini program PM-UPUD telah memasuki tahap pengolahan dan penguatan kapasitas mitra. Produk kopi Aceh Barat dengan standar produksi yang lebih modern ditargetkan mulai dipasarkan pada Juli mendatang.
Bagi para pelaku usaha dan petani, langkah tersebut bukan sekadar soal menjual kopi. Upaya itu menjadi bagian dari usaha mengembalikan posisi Aceh Barat sebagai salah satu daerah penghasil kopi yang memiliki sejarah panjang sekaligus potensi ekonomi yang selama ini belum tergarap maksimal.
Editor : Adi Permana
Senin, 15 Juni 2026 12:16 WIB
Selasa, 09 Juni 2026 13:22 WIB
Senin, 08 Juni 2026 10:42 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 12:17 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...