UTU Kembangkan Pembenihan Modern untuk Selamatkan Ikan Lokal Aceh

Pers Pangannews

14 jam yang lalu

news
Hatchery Universitas Teuku Umar. (Foto : dok. UTU)

Pangannews.id - Di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem perairan dan ancaman hilangnya sejumlah spesies ikan lokal, Universitas Teuku Umar (UTU) di Aceh mengembangkan pusat pembenihan modern yang tidak hanya berfungsi memasok benih bagi pembudidaya, tetapi juga menjadi garda depan konservasi plasma nutfah perikanan daerah.

Melalui fasilitas hatchery yang dikelola Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, kampus tersebut berupaya menjawab dua tantangan sekaligus: kebutuhan benih berkualitas untuk mendukung produksi perikanan serta penyelamatan spesies ikan lokal yang populasinya terus tertekan akibat perubahan lingkungan dan aktivitas manusia.

Dilansir dari laman resmi UTU, Kepala Hatchery UTU, sekaligus dosen Program Studi Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UTU, Afrizal Hendri, mengatakan paradigma pembenihan saat ini tidak lagi sekadar menghasilkan benih dalam jumlah besar. Menurutnya, kualitas benih menjadi faktor penentu keberhasilan budidaya sekaligus daya saing sektor perikanan di masa depan.

“Hatchery modern bukan lagi sekadar tempat menetaskan telur sebanyak-banyaknya. Seluruh proses dilakukan secara terukur melalui pendekatan sains dan bioteknologi agar pembudidaya memperoleh benih unggul yang tumbuh cepat dan memiliki daya tahan tinggi,” kata Afrizal.

Fasilitas tersebut menerapkan berbagai teknologi pembenihan modern, mulai dari pengawasan kualitas air secara ketat, biosekuriti, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memastikan mutu benih yang dihasilkan. Pendekatan ini dilakukan guna menekan risiko penyakit serta meningkatkan efisiensi produksi di tingkat pembudidaya.

Namun peran hatchery UTU tidak berhenti pada aspek ekonomi. Kampus itu juga memosisikan fasilitas tersebut sebagai pusat pembenihan dan konservasi ikan lokal Aceh. Langkah ini ditempuh mengingat sejumlah spesies asli daerah mulai menghadapi tekanan populasi akibat degradasi habitat dan perubahan lingkungan.

Beberapa jenis ikan yang menjadi fokus konservasi antara lain ikan Seurukan (Osteochilus jeruk), Limbek Kampung atau lele lokal Aceh, Bace atau gabus Aceh, serta ikan hias Betta rubra yang merupakan salah satu spesies cupang endemik Aceh.

Afrizal menilai upaya konservasi perlu dilakukan sejak sekarang agar kekayaan hayati perairan Aceh tidak hilang di masa mendatang.

“Aceh memiliki plasma nutfah perikanan yang sangat berharga. Jika tidak didomestikasi dan dikembangkan sejak dini, bukan tidak mungkin generasi berikutnya hanya mengenal spesies-spesies tersebut dari dokumentasi,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya pelestarian, hatchery UTU menjalankan program restocking atau pelepasliaran benih ikan lokal ke sejumlah sungai, waduk, dan danau di Aceh. Setiap tahun kampus menargetkan pelepasan puluhan ribu benih untuk membantu memulihkan populasi ikan di perairan umum.

Program itu dijalankan bersama pemerintah daerah sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mempertahankan sumber daya perikanan yang menjadi tumpuan masyarakat.

Selain menjadi pusat konservasi, hatchery juga berfungsi sebagai laboratorium praktik bagi mahasiswa. Melalui konsep Teaching Factory, mahasiswa dilibatkan langsung dalam proses produksi benih, mulai dari pemeliharaan induk hingga manajemen usaha pembenihan.

Model pembelajaran tersebut diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis dan pengalaman industri sebelum memasuki dunia kerja.

UTU juga memperluas manfaat fasilitas itu kepada masyarakat melalui program One Village One Hatchery. Program ini berfokus pada transfer teknologi pembenihan kepada masyarakat desa agar mampu memenuhi kebutuhan benih secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Meningkatnya minat masyarakat terhadap pembenihan ikan lokal turut terlihat dari tren kunjungan ke fasilitas tersebut. Dalam tiga tahun terakhir jumlah pengunjung terus bertambah, mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang ingin mempelajari teknologi pembenihan dan konservasi ikan.

Editor : Adi Permana


Kolom Komentar

You must login to comment...