13 jam yang lalu
Pangannews.id - Madu lebah tanpa sengat selama ini dikenal sebagai sumber senyawa alami yang kaya manfaat kesehatan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa nilai biologis produk lebah tersebut tidak hanya berasal dari madunya, melainkan juga dari mikroorganisme yang hidup di dalamnya.
Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bakteri asam laktat probiotik dari madu dan bee pollen lebah tanpa sengat asal Indonesia yang memiliki beragam aktivitas biologis penting, mulai dari antibakteri, antioksidan, antikanker hingga potensi membantu mengendalikan kadar gula darah.
Temuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan pangan fungsional dan suplemen kesehatan berbasis biodiversitas lokal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
Penelitian yang dilakukan bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut memanfaatkan sampel madu dan bee pollen dari tujuh spesies lebah tanpa sengat yang berasal dari Yogyakarta dan Sumbawa. Hasil risetnya telah dipublikasikan di jurnal internasional dan memperoleh pendaftaran paten.
Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Ema Damayanti, mengatakan kajian mengenai mikroorganisme probiotik pada madu lebah tanpa sengat masih relatif terbatas, terutama di Indonesia.
Menurut dia, hasil penelitian menunjukkan madu lebah tanpa sengat menyimpan bakteri asam laktat yang mampu bertahan dalam kondisi saluran pencernaan sekaligus memiliki berbagai aktivitas biologis yang menjanjikan.
"Kami menemukan bahwa madu lebah tanpa sengat Indonesia menyimpan bakteri asam laktat yang tidak hanya mampu bertahan pada kondisi saluran pencernaan, tetapi juga memiliki aktivitas antibakteri, antibiofilm, antikanker, dan antioksidan yang sangat baik," kata Ema, dikutip dari laman resmi BRIN.
Tim peneliti berhasil mengisolasi sejumlah bakteri dari berbagai spesies lebah tanpa sengat. Dari puluhan isolat yang diperoleh, tujuh isolat terbaik dipilih berdasarkan kemampuannya menghambat pertumbuhan bakteri patogen.
Analisis lebih lanjut menggunakan teknologi sekuensing genom utuh dan metabolomik menunjukkan isolat unggulan tersebut merupakan Lacticaseibacillus rhamnosus dan Pediococcus acidilactici, dua kelompok bakteri yang dikenal luas sebagai probiotik.
Pengujian laboratorium menunjukkan bakteri tersebut mampu menghambat pertumbuhan sejumlah bakteri penyebab penyakit seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa.
Yang menarik, bakteri tersebut juga mampu menghambat pembentukan biofilm, lapisan pelindung yang sering membuat bakteri lebih kebal terhadap pengobatan. Kemampuan ini dinilai penting di tengah meningkatnya ancaman resistensi antimikroba secara global.
Selain itu, peneliti menemukan aktivitas antikanker terhadap sel kanker kolon serta kemampuan antioksidan yang tinggi. Aktivitas penghambatan enzim α-amilase yang teridentifikasi dalam penelitian juga membuka peluang pemanfaatan probiotik tersebut untuk membantu pengendalian kadar gula darah.
Temuan ini memperlihatkan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia tidak hanya tersimpan pada flora dan fauna yang tampak kasat mata, tetapi juga pada mikroorganisme yang hidup berdampingan di dalam ekosistemnya.
Analisis genom bahkan mengungkap adanya kelompok gen yang berperan menghasilkan senyawa antimikroba alami dan bakteriosin, sementara analisis metabolomik menemukan berbagai metabolit bioaktif yang mendukung manfaat kesehatan bakteri tersebut.
Di tengah tren global terhadap pangan fungsional dan produk kesehatan berbasis bahan alami, hasil riset ini membuka peluang lahirnya produk probiotik lokal dengan nilai tambah tinggi. Namun, para peneliti menegaskan bahwa pengembangan menuju produk komersial masih memerlukan tahapan lanjutan, mulai dari uji keamanan, stabilitas hingga efektivitas pada skala industri.
BRIN berencana melanjutkan penelitian ke tahap formulasi produk untuk aplikasi pada pangan fermentasi maupun suplemen probiotik. Jika berhasil dikembangkan, temuan ini berpotensi memperkuat industri pangan fungsional nasional sekaligus meningkatkan pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia berbasis riset.
Editor : Adi Permana
Kamis, 04 Juni 2026 15:26 WIB
Senin, 01 Juni 2026 14:05 WIB
Senin, 25 Mei 2026 19:54 WIB
Senin, 25 Mei 2026 19:43 WIB
You must login to comment...
Be the first comment...